Di Antara Bebatuan Ini Kami Dibesarkan

Posted on October 5th, 2018

“In the confrontation between the stream and the rock, the stream always wins, not through strength but by perseverance.” (H. Jackson Brown, Jr.)

SEBERAPA PUN INDAHNYA TANAH RANTAU, rindu pada kampung halaman tidak akan mudah terobati, kecuali dengan pulang kampung. Bebatuan seperti pada foto berikut ini punya daya tarik sendiri.

Bahkan dengan berjalan kaki selama 30 menit menuju ke gereja, tak akan terasa letih karena sajian pemandangan alam seperti di foto ini.

Desa Nelayan

Di banyak sesi saya di public sengaja saya tampilkan foto Pantai Lamalera, namun hanya satu dua orang yang pernah mendengar nama Desa Lamalera. Bahkan banyak yang tidak tahu Lamalera itu ada di bagian mana Indonesia, padahal desa ini sudah dikenal mancanegara yang juga rutin berkunjung ke sana untuk menyaksikan penangkapan ikan paus secara tradisional, dengan perahu layar seperti ini.

Puji syukur ke hadirat Tuhan Maha Pengasih, bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI, Kepala Desa selaku Pembina Upacara melaporkan bahwa upaya perlindungan dan pelestarian potensi budaya daerah Kabupaten Lembata yang diperjuangkan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Lembata akhirnya menuai hasilnya. Kementerian Pariwisata telah menetapkan Budaya Penangkapan Ikan Paus Tradisional di Lamalera menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang bernilai yang terus dilestarikan. Penetapan itu disampaikan pihak Kementerian kepada Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur, ST di Jakarta, Jumat 3/8/2018. Berikut foto upacara 17 Agustus 2018 di desa Lamalera.

Bukit Doa yang Memukau

Mobil yang membawa kami ke Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata penuh dengan penumpang yang adalah keluarga dan Kerabat Kerja, sebutan untuk relawan yang membantu kami, bila kami ingin menyentuh para jompo, janda atau yang sakit. Kali ini kami ingin mengajak mereka untuk ziarah sambil rekreasi di Bukit Doa, Waijarang, Lembata, sekitar sejam dari Lewoleba.

Pemandangan dari atas menghadap laut dan Gunung Ile Boleng Pulau Adonara, menjadi daya tarik tersendiri.

Sementara itu keluarga sudah merencanakan makan siang di tempat rekreasi Waijarang, dengan pemandangan laut yang menyenangkan.

Perbekalan makan siang sudah dibuka, dan dengan doa mengucap syukur atas berkat yang indah ini, kami pun menikmati makan siang yang lezat.

Perjalanan liburan kami berakhir di sini. Terima kasih team relawan, yang hari itu mengenakan kaos biru bertuliskan:

“Kami tidak melakukan hal-hal besar. Kami melakukan hal-hal kecil dengan CINTA yang besar.” (Ibu Teresa)

Mereka mengantar kami ke bandara sebelum lanjut ke kampung, sementara kami terbang kembali ke Kupang Timor untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya kembali ke Jakarta.

Cinta tanah air Indonesia yang semakin kuat dan sering dikumandangkan. Banyak  wilayah Indonesia yang cantik dan kaya budayanya. Dari sanalah anak-anak bangsa ini dibesarkan, sebagaimana halnya kami bangga dibesarkan di desa yang penuh dengan bebatuan, tapi di sanalah kami belajar untuk berjuang tanpa menyerah dalam meraih sukses.

“Stand through life firm as a rock in the sea, undisturbed and unmoved by its ever-rising waves.” (Hazrat Inayat Khan)

  1. Instagram: https://www.instagram.com/josefbataona
  2. Twitter: https://www.twitter.com/josefbataona
  3. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/josefbataona
  4. Facebook: https://www.facebook.com/josbataona

Bookmark and Share

3 Responses to Di Antara Bebatuan Ini Kami Dibesarkan

  1. Santi Sumiyati says:

    Selamat sore Pak Josef, pemandangan lautnya bagus sekali ya..tapi yg paling damai saat melihat senyum seluruh keluarga Bapak dan kerabat yang ada….terima kasih Pak Josef untuk sharingnya. Salam,Santi.

    • josef josef says:

      Terima kasih Santi, alam Indonesia memang indah dan menyejukkan. Tapi jangan lupa keramahan orang Indonesia juga memberikan kedamaian, bila kita saling menyapa dari hati yang tulus. Selamat pagi

      • josef josef says:

        Benar sekali Santi, hanya masing-masing kita yang bisa mengubah hidup kita karena kita mau berubah dan mengambil langkah untuk itu. Terima kasih dan semangat pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih banyak mba Lisa, sebuah paparan yang menyentuh untuk semakin kita memahami betapa besar dampaknya...

Lisa Samadikun:
Bahagiaku adalah ketika masih bernapas. Karena selama masih bernapas, ku masih bisa berbagi. Dan...

josef:
Terima kasih Ratih, irama kerja bisa kita atur, tapi tetap berlandaskan pola pikir dan perilaku yang positif...

josef:
Terima kasih sama2 Ratih, berguna untuk kita semua yang sering lupa. Salam

Ratih Hapsari:
Nice article Pak, walaupun kita “dituntut” untuk selalu cepat dan cepat, tapi kita tidak...


Recent Post

  • Gaya Hidup di Era Percepatan
  • Simple Daily Human Tips
  • 3S: Say Stay and Strive
  • Ecosystem For Learning Agility
  • Guru Yang Tulus Melayani
  • Multi Dimensi Pengembangan SDM
  • Temukan Kebahagiaan Dalam Dirimu
  • Belajar Sejarah Bisa Menyenangkan
  • Warisan Sejarah Tak Ternilai
  • Etika Para Wisatawan