Pelajaran Berharga Ada di Telapak Tanganmu

Posted on September 30th, 2014

“It is what we think we know already that often prevents us from learning.” (Claude Bernard)

LEARNING CENTER dengan konsep di baliknya sedang berevolusi menjadi Corporate University. Tapi Learning Center dan berbagai isinya kini hadir setiap saat di telapak tanganmu. Teknologi dewasa ini telah menyodorkan berbagai kemudahan yang sekaligus mengubah cara pikir dan perilaku manusia.

Ungkapan “Mari ke Sekolah” akan dilengkapi dengan ungkapan: “Mari membuka telapak tangan untuk belajar dengan cara yang menyenangkan.” Dan pilihan sarana bisa bermacam-macam: Twitter, Google, Youtube, Google Search, Power Point, LinkedIn, Dropbox, WordPress, Facebook, Google+, dan lain-lain. Ini artinya setiap saat kita menggenggam “Personal dan Professional Learning” kita masing-masing. Cukupkah itu??

photo1

Saling Belajar

Selama dua hari kemarin, 24-25 September 2014, ada Seminar dan Eksibisi berjudul: “1st Indonesia Digital & Social Learning,” yang diselenggarakan oleh Telkom Corporate University dan PortalHR. Banyak praktisi dan pakar yang dihadirkan untuk sharing. Saya juga diminta untuk menyampaikan sharing dengan topik: “Incentive Strategy untuk Membangun Learning Culture.”

Awalnya saya merasa judulnya agak tricky, karena seakan sudah menggiring orang untuk berasumsi bahwa kita perlu membayar karyawan untuk membangun Learning Culture. Tapi justru karena alasan itu, saya akhirnya menerima tantangan itu. Baca juga ulasan PortalHR dengan judul: “Social Learning Tak Harus Digital.” Baca di sini.

Dan saya hadir dengan mengetengahkan 4 (empat) case study berdasarkan real experience:

  1. Case 1: Perusahaan yang sudah punya modal kuat knowledge dan expertise
  2. Case 2: Perusahaan yang bahkan sudah punya Corporate University
  3. Case 3: Perusahaan yang sedang bertransformasi
  4. Case 4: Komitmen Pribadi untuk sharing.

photo2

Case 1: Perusahaan yang sudah punya modal kuat knowledge dan expertise

Ini merupakan pengalaman saya sendiri selama di PT Unilever Indonesia. Ketika krisis menimpa Indonesia pada 1997/1998, ada inisiatif yang dikedepankan. Saya sendiri diminta untuk memimpin sebuah tim terdiri dari 15 Senior Managers untuk mengerjakan proyek yang disebut: Unilever Business Excellence Model (UBEM), di mana tim akan mengadakan analisa seluruh aspek bisnis untuk melihat area yang perlu diperbaiki. Yang dicari oleh tim adalah eviden dari apa saja yang disampaikan oleh orang-orang yang didatangi, termasuk BOD.

Salah satu penemuan penting adalah bahwa ketika orang-orang pindah atau keluar dari perusahaan, hampir semua ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki yang bersangkut turut hilang. Karena semuanya itu ada di dalam kepala karyawan tersebut.

Akhirnya tim merekomendasikan untuk membuat system untuk melestarikan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman tersebut. Training Department diserahi tugas untuk menindak-lanjuti ini.

Ini merupakan modal awal melangkah. Masih ditambah lagi dengan Corporate Purpose yang berbunyi: “We will bring our wealth of knowledge and international expertise to the service of the local consumers.”

Dengan semua support seperti itu, apakah mudah untuk memulai inisiatif Learning & Sharing di Perusahaan?? Ternyata tidak.

Selain alasan klasik tentang kesibukan sehari-hari, karyawan sering mengabaikan manfaat dari sharing. Kata mereka:

“Asal kita bisa mengerjakan pekerjaan sesuai tugas masing-masing, itu sudah lebih dari cukup. Mengapa harus dibagi, apa lagi kepada divisi lain yang mungkin tidak relevan (Not Invented here Mentality). Sementara itu para Senior merasa bahwa Power mereka justru terletak pada pengetahuan dan pengalaman mereka (yang tidak dimiliki yuniornya). Ini yang membedakan mereka dari yang lain. Karena itu jangan sampai dibagi sehingga orang lain menjadi lebih pintar, (knowledge is power, and not to be shared)”

Learning Award sebagai Insentif

Dengan berbagai upayah tanpa kenal lelah, langkah sharing dan learning pun diperkenalkan. Ada survey kecil-kecilan untuk mengintip berbagai sukses besar ataupun kecil di semua divisi. Siapa dari peraih sukses tersebut yang punya ketulusan hati untuk membagi pengalaman.

Tim mencari siapa saja disetiap divisi yang bisa dijadikan penggerak. Pada tingkat Senior dan BOD, siapa yang berkenan memulai kalau diminta untuk membagi pengalaman. Dan setiap ada kesempatan langsung dimulai inisiatif tanpa harus menunggu semuanya sempurna.

Terlebih lagi setelah ditemukan cara untuk mengatasi kesulitan pembicara tentang tidak ada waktu apalagi untuk menyiapkan presentasi. Tim pun memunculkan format “Talk Show” di mana ada yang memfasilitasi dan ada yang menjadi “Tukimin” alias Tukang Bikin Minutes” atau yang menyarikan materi talk show.

Untuk apa itu??

Materi itu di parkir di dalam system online kantor yang bisa diakses oleh karyawan yang tidak sempat hadir pada waktu sharing. Ada 4 (empat) elemen yang sangat penting dalam memulai inisiatif Learning & Sharing:

  • Ada yang iklas membagi ilmu/pengetahuan dan pengalamannya.
  • Ada yang mau mendengar karena mau belajar.
  • Topik yang menarik dan disajikan juga dengan menarik.
  • Unsur penunjang lain tentu tidak kalah pentingnya: pemilihan judul, forum untuk sharing, promosi/pengumuman yang atraktif dll.

Bersamaan dengan antusiasme karyawan yang mulai tumbuh, disiapkan juga insentif berupa “Learning Award”. Setiap orang yang sharing akan diberikan points (seperti model frequent flyers). Points itu akan digandakan berdasarkan hasil evaluasi pendengar. Semua points itu akan dikumpulkan dan di akhir tahun akan dihitung untuk diberikan hadiah.

Range hadiah mulai dari voucher belanja, sampai hadiah tertinggi adalah wisata ke Australia. Pemberian hadiah dikemas menarik dalam format Learning Award Night.

Bola terus bergulir, semakin banyak yang ingin sharing. Terutama setelah mereka menyaksikan bahwa semua BOD dan Senior Managers juga meluangkan waktu untuk sharing. Tanpa disadari karyawan melihat sendiri manfaat buat mereka antara lain:

  • Kesempatan untuk menceritakan kepada khalayak tentang pencapaian tertentu dalam pekerjaan.
  • Merasa mendapatkan pengakuan dari pimpinan, terutama karena pimpinan turut mendorong sharing.
  • Ikut partisipasi dalam berbagi ilmu sehingga yang lainnya termotivasi untuk berbagi juga sehingga proses pembelajarannya bertambah banyak.

Dan puncak dari semua komitmen itu, ketika perusahaan diundang untuk hadir di Korea untuk menerima penghargaan Most Admired Knowledge Enterprise (MAKE) Award, karena semua inisiatif untuk membangun budaya Learning dan Sharing. Saya berkesempatan untuk hadir dan menerimanya.

Motivasi karyawan untuk Belajar dan berbagi dalam kasus ini bukan UANG, tapi mereka merasa terdorong untuk melestarikan berbagai ilmu pengetahuan yang dimiliki, sekaligus turut mempercepat proses belajar. Dan budaya itu bukan saja milik para managers, tapi saat tulisan ini dibuat kita bisa diberikan evidence tentang sharing dari karyawan lapangan, termasuk di pabrik.

Pertanyaan yang menggugah: Apakah model insentif seperti itu bisa diterapkan di perusahaan lain?? Ikuti posting selanjutnya

“Curriculum tells you what to teach, but doesn’t tell you HOW you have to. Make the shift to the 21st century learning environment.” (Stacy Behmer)

Bookmark and Share

2 Responses to Pelajaran Berharga Ada di Telapak Tanganmu

  1. Agnes Murniati says:

    Dengan pengalaman yang masih minim, saya bukan hanya harus belajar pengetahuan saja…namun juga “berpengalaman” belajar Tacit Knowledge dari sharing-sharing pengalaman para senior saya… dan itu semua memperkaya saya… Hidup “sharing and learning”!!!! Thanks Pak Josef for the sharing…

    • josef josef says:

      Terima kasih Agnes. Belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Belajar yang paling bermanfaat bila pelajarannya juga dibagi secara iklas. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life