Apakah Orang HR Harus Psikolog?

Posted on June 11th, 2013

“It’s what you learn after you know it all that counts.” (Harry S Truman)

SORE ITU saya janjian dengan Mohammad Noer, untuk berbincang-bincang setelah tidak ketemu lebih dari dua tahun. Dia adalah Manager Indonesia yang mendapat tugas di Regional Office Singapore. Titlenya: HR Business Partner Global Customer Development (Sales).

Dalam menjalankan tugasnya, dia merupakan Manager HR yang berpartner dengan puluhan Manager Global yang bertanggung jawab atas pengelolaan Customer Development di berbagai Cluster/Geography. Untuk itu Noer harus memahami spectrum Customer Development dalam skala Global dan implementasinya di berbagai belahan bumi di dunia.

Praktek ini merupakan perubahan dalam bisnis yang sebelumnya percaya bahwa Sales adalah elemen local dan hanya orang local yang paling mengerti tentang Sales di negara masing-masing. Dengan membawa Sales (customer development) ke tingkat Regional dan Global, maka akan diperoleh Synergy maksimum dari berbagai pengalaman di belahan bumi yang berbeda-beda, dari konsumen yang beragam dan dari pengalaman implementasi yang berbeda-beda. Foto berikut adalah foto berdua dengan Noer di salah satu event Perusahaan.

Twitter yang Menggoda

Kembali ke Hotel, setelah bertemu Noer, ada twit dari @budiprast_25 to @josefbataona:

“Pak, HRD itu kan gak hanya recruitment, bisa ngga ya bukan lulusan psikologi gabung di tim HRD? terima kasih.”

Saya sempat berpikir sejanak, dari mana pemikiran ini berasal. Karena twitter di atas merupakan respond atas twit saya yang berbunyi:

“Saya gembira bahwa semakin banyak petinggi perusahaan menyadari pentingnya SDM.”

Saya pun memberikan respon di twitter:

“Sangat mungkin. Saya pernah punya HR Team ada orang Hukum, Pertanian, Electrical Engineer, Arsitek, Akuntan, Sarjana Atom.

Yang disambut @budiprast_25 dengan:

“Kalau saya ilmu komunikasi apa bisa melamar? Tapi tetap aja gak kepanggil.. hehe.”

Saya tidak tahu dia pernah melamar ke mana saja, dan alasan apa dia tidak dipanggil. Tapi kejadian di atas justru menggelitik saya untuk menulis.

Perjalanan Noer adalah Sebuah Jawaban

Dua pengalaman di sore yang sama. Bertemu dengan Noer, dan Twitter di atas. Apa hubungannya??

Bagi saya, semua kisah kehidupan itu berkaitan satu sama lain, dalam sebuah rangkaian yang terkadang tidak kita mengerti, kecuali kalau kita ingin memetakan dan mempelajarinya. Mari kita angkat perjalanan karier Noer dalam konteks menjawab twitter di atas. Dan cerita ini pun saya buat setelah menelpon kembali Noer, meminta izin untuk bercerita tentang dia, setelah saya yakin bahwa kedua peristiwa ini berhubungan, yang satu menjadi jawaban dari kisah lainnya.

Dengan latar belakang pendidikan di Fakultas Ekonomi, jurusan Management Marketing, Mohammad Noer bercita-cita menjadi Marketir. Tapi pekerjaan pertama yang digelutinya adalah Training: mengajar dan menyusun modul-moduk training. Ada juga pengetahuan tambahan di bidang IT. Latar belakang pengalaman itu yang membuat Unilever tertarik untuk merekrutnya untuk HR, dengan penugasan pertama: Knowledge Management, focus pada “On Line Library.

Menurut pengakuannya, dia mau bergabung di HR Unilever (walau masih ingin jadi Marketir) karena tertarik untuk menjadi Trainer, sekaligus bisa berkesempatan untuk menyusun berbagai modul. Dan ternyata, dalam menjalankan tugasnya, dia banyak berhubungan dengan orang-orang Marketing. Pengetahunnya di bidang marketing, sedikit banyaknya memberikan bekal untuk memahami jalan pikiran orang-orang marketing di perusahaan ini. Ini yang memudahkan dia untuk berinteraksi dengan mereka.

Pengalaman di Pabrik: Apa Hubungannya dengan Marketing??

Ketika diberitahu, bahwa penugasan berikutnya adalah menjadi Employee Relations Manager di Pabrik di Surabaya, Noer agak kaget. Namun setelah dijelaskan tentang pentingnya mempunyai pengalaman di berbagai bidang HR, dia pun paham dan siap untuk pindah.

Kali ini, dia akan lebih banyak berurusan dengan karyawan pabrik dan Serikat Pekerja. Di sini pun Noer mengaku, sedikit  pengetahuan psikologi yang didapat selama kuliah Marketing, juga membantu dia untuk menyesuaikan pendekatannya ketika harus berurusan dengan Manager pabrik atau dengan karyawan-karyawannya. Dan kemampuannya untuk belajar hal-hal baru, membuat Noer segera masuk dalam daftar talent yang harus dikembangkan lebih jauh.

Ketika Regional Office di Singapore membutuhkan seseorang yang punya pengetahuan dan pengalaman Organization Development, Noer menjadi kandidat di urutan atas, dan diterima untuk penugasan dua bulan. Dan penugasan ini justru mengangkat Noer seakan hadir di panggung Region, yang lagi ditonton pejabat-pejabat Region dan Global. Dan muncullah kesempatan berikutnya untuk pindah tugas ke Singapore. Tidak tanggung-tanggung, mengurusi Customer Development Global.

Apa komentar Noer tentang loncatan seperti itu??

“Pengalaman sejauh ini mengajarkan saya, bahwa setiap perpindahan merupakan perubahan. Untuk menghadapi perubahan ini, saya harus mempelajari siapa yang akan saya hadapi, cara berpikir mereka, dan merancang pendekatan seperti apa yang diperlukan kalau ingin berinteraksi dengan mereka. Dan di mana pun saya ditugaskan sebagai orang HR, pemahaman bisnis adalah syarat mutlak. Dan ini yang memacu saya untuk belajar berhadapan dengan banyak petinggi Perusahaan kelas Region dan Global.”

Saat kisah ini saya tuliskan, Noer sudah berada dalam radar talent bukan saja Perusahaan di Indonesia, tetapi juga di Region dan Global.

Mungkinkah Saya, Sarjana Komunikasi Melamar di HR??

Kembali ke pertanyaan yang diajukan teman kita @budiprast_25 di atas. Apakah dia dengan latar belakang ilmu Komunikasi, bisa melamar di HR? Jawabannya: Sangat MUNGKIN dan BISA saja diterima.

Strategy Sourcing Perusahaan yang dilamar juga turut menentukan. Noer memang melamar ke Perusahaan yang tidak membatasi latar belakang pendidikan untuk bidang kerja tertentu saja. Salah satu kuncinya adalah apakah calon fit dengan Value perusahaan atau tidak.

Pengalaman Noer di atas bisa memberikan gambaran, bahwa latar belakang pendidikan bukan segalanya. Terus membuka diri untuk belajar juga penting. Usaha membangun network akan sangat membantu. Dan kisah perjalanan hidup pelamar sebelumnya akan membantu sang pewawancara siapa calon yang sedang dia ajak bicara. Semua itu akan menentukan calon satu dalam perbandingan dengan calon lainnya, yang juga punya prestasi akademis sama-sama sangat mengagumkan.

“You can teach a student a lesson for a day; but if you can teach him to learn by creating curiosity, he will continue the learning process as long as he lives.”  (Clay P. Bedford)

Bookmark and Share

29 Responses to Apakah Orang HR Harus Psikolog?

  1. Damianus Rangga says:

    Kata kuncinya adalah pemahaman bisnis adalah syarat mutlak utk menjadi seorg HR.

    Pak Josef, mohon pencerahannya ttg calon harus vit dengan value perusahaan atau tidak? Terima kasih.

    • josef josef says:

      Terima kasih Damianus, Contoh tentang fit to value: ada seorang calon yang perjalanan hidupnya penuh sukses. Namun dalam meraih sukses dia ingin nonjol sendiri. Sukanya dilihat sebagai pahlawan sendirian dalam keberhasilan itu, walau itu kerja team. Apalagi suka lempar kesalahan pada anggota team lainnya. Orang seperti ini apakah fit dengan value perusahaan Team Work ?? Salam

  2. Dear Pak Jos,

    Terima kasih telah mengangkat kisah ini. Rasanya belum lama Pak Jos meng-interview saya dan mengajak bergabung dengan Unilever. Saya tidak menyangka pertemuan singkat kita di Singapore dan twitter dari pembaca blog bapak bisa menjadi inspirasi kisah ini.

    Dengan perpindahan saya dari satu bagian di Human Resource ke bagian HR yang lain, membantu saya belajar banyak hal. Mulai dari hal-hal operasional sampai hal-hal yang strategis.

    Dari pengalaman tersebut, saya yakin dan percaya, apapun latar belakang yang kita miliki sebelumnya bisa dimanfaatkan untuk bidang pekerjaan yang sedang dijalani termasuk HR.

    Syaratnya hanya satu, terus semangat untuk belajar hal-hal baru dan jadikan bidang keilmuan kita sebelumnya sebagai keunggulan kompetitif di bidang yang sedang kita jalani.

    Salam,
    Muhammad Noer

    • josef josef says:

      Terima kasih Noer karena telah menjadi sumber inspirasi di kisah hari ini. Semoga banyak teman2 kita yang bisa mengambil manfaat dari kisah perjalananmu. Dan yang juga penting yang tidak saya sebut secara explisit: Talent Indonesia pun BISA berperan di pentas dunia.

    • mulki akbar says:

      Salut dg Mas Noer dg kisah2nya yg menginspirasi. Dan tentunya terimakasih jg sudi berbagi ttg ilmu presentasi dlm blog presentasi dot net yg mengajarkan saya banyak hal serta semakin membuka wawasan mengenai segala hal yg berhubungan dg dunia presentasi.

      Sukses utk mas noer ..

    • Triaji says:

      Mas Noer dan Pak Yosef, semuanya menginspirasi saya untuk fokus dengan passionate dalam bidang ke HR an… mendevelop manusia dan menghantarkan untuk sukses…

  3. prins says:

    Dear pa yosef

    Berkenan untuk share tentang aplikasi talent management yang digunakan oleh Unilever?…saya ingin banyak belajar dari pa yosef nih…

    background saya teknik mesin dan pengalaman HR sudah 10 tahun dan sangat menyenangkan

    Salam

    • josef josef says:

      Terima kasih Prins, selalu ada kesepatan untuk belajar. Ada lebih dari 160 artikel di blog ini sebagai sumber pembelajaran, dan masih ada lagi yang akan hadir tiap Selasa dan Jumat pagi jam 08:00. Senang punya teman HR teknik mesin yang menyenangi HR. Salam

  4. Sudung Samosir says:

    dear Pak Josef dan Pak Noer,

    sharing ini sangat bermanfaat pak.. akan tetapi kendala – kendala yang ada terjadi di Human Resource saat ini bukan hanya latar belakang jurusan saja pak akan tetapi bisa juga ke alamater.. karena banya recuiter hanya menerima apabila kandidat tersebut dari alamternya.. sangat disayangkan apabila kandidat tersebut memiliki talent yang dapat dikembangkan akan tetapi karena suatu hal faktor yg harusnya tidak terjadi malah akan lepas begitu saja…

    Bapak – bapak sekalian, saat ini saya sedang gencar – gencarnya untuk kembali ke masyarakat dalam konteks : Mahasiswa semester akhir tetapi dari universitas swasta untuk memberikan seminar dan pelatihan untuk interview maupun mendapatkan kesempatan bekerja ( interview / proses seleksi) di perusahaan yang mereka inginkan. karena saat ini banyak rekan – rekan HR tidak terlalu memperhatikan ini.

    Buat saya : ” Setiap Manusia memiliki suatu potensi yang dapat dikembangkan “, hanya apakah kita sebagai HR ( terutama di perusahaan ) maukah memberikan kesempatan yang sama kepada mereka..??

    Best Regards,

    Sudung Samosir

    • josef josef says:

      Terima kasih Sudung. Praktek yang mendasari latarbelakang ilmu tertentu dan juga alma mater atau bahkan daerah yg sama, sudah lama terjadi dan masih akan ada. Tinggal kita yang mau mendobraknya begitu punya kesempatan. Rekruitmen dengan model panel (team terdiri dari beberapa orang) akan bisa mengurangi tendensi utk melirik orang dari alma mater atau bidang studi yang sama. Yang penting kita sadari, semua orang perlu diberi kesempatan yang sama

  5. Febby Christian says:

    Terima kasih pa Josef atash sharring,

    saya sendiri sering sekali banyak yg menanyakan hal ini atau bertemu sesama rekan yg berbendapat HR harus psikolog,
    padahal dalam prakteknya HR sendiri tidak hanya recruitment saja.. Banyak aplikasi management yg kita perlukan yg disesuaikan dengan core business perusaan dimana HR itu berada.

    Terutama jika katanya HR ingin menjadi business partner dari CEO, gimana kita bisa berpatner jika kita tidak paham bisnis itu sendiri, jadi menurut saya HR sendiri bisa terdiri dari berbagai disiplin ilmu misal psikolog dalam recruitment management, Hukum dalam legal, IT dalam HRIS, dll

    sekali lagi saya ucapkat terima kasih atas pencerahan pa Josef yg telah membagi ilmunya pada kita semua 😀

    • josef josef says:

      Terima kasih Febby, bahkan untuk bidang rekruitmen sendiripun tidak harus psikolog. Kita perlu mereview persyaratan penerimaan dan penempatan karyawan di berbagai unit di HR. Kalau disana tertera disiplin ilmu tertentu, coba bertanya, kenapa bukan yang lain ? Sebaliknya juga perlu bertanya: untuk skill atau knowledge yang dipersyaratkan untuk menduduki posisi tertentu, dari mana bisa diperoleh ? Bisa saja melalui training atau on the job. Intinya keterbukaan untuk explore dan berubah

  6. Ariendra says:

    Memang konvensi dengan alasan konservatif bahawa HR harus dari bidang/jurusan tertentu.
    Terima kasih atas inspirasi hari ini Pak Josef.
    Salam kenal untuk Pak Noer 🙂

  7. Adelina says:

    Hi Pak Joseph…. saya jurusan akuntansi yang pernah jadi bagian dari HR di divisi mikro di salah satu bank swasta :-). Selama 9 bulan menjadi Program Development atau sering di sebut sebagai bagian training and really enjoyed it. Sharing is my hobby dan saya menemukannya ketika sedang mengajar training. Background pendidikan tidak mutlak faktor penentu kesuksesan dalam bekerjs yang penting do it what u enjoy the most. Malah sekarang kepikiran untuk ambil S2 psikologi he…he…he… Thanks for sharing Pak… malam dan selamat beristirahat. Thanks. Adelina.

    • josef josef says:

      Terima kasih Adelina, selama kita mencintai apa yang kita kerjakan, kita akan banyak belajar dari berbagai pengalaman yang hadir. Akan terbuka berbagai pintu kesempatan berikutnya. Salam

  8. Edho Pehelerang says:

    Dear Pak Josef dan Pak Noer.

    Salam kenal pak, saya ingin sedikit memberi tanggapan bila diijinkan. Saya senang sekali dengan quote Bapak Noer “Dan di mana pun saya ditugaskan sebagai orang HR, pemahaman bisnis adalah syarat mutlak”.
    Menurut saya dimanapun dan apapun dirimu ditugaskan, pemahaman bisnis dan KEMAUAN berkarya dapat memberikan banyak hal untuk anda dan masa depan anda yang pada akhirnya latar belakang pendidikan anda menjadi nomer ke sekian. “Jawab dengan karya, bukan dengan keluhan”

    Saya memiliki seorang atasan yang kehidupan Karirnya menimbulkan pemikiran di atas. Terima kasih Pak Josef dan Pak noer. artikel ini sangat inspiratif karena sedikit banyak membuat saya termotivasi. Regards.

    • josef josef says:

      Terima kasih Edho, dan salam kenal. Saya setuju: jawab dengan karya ! Itu akan membuka berbagai kesempatan ke masa depan. Terima kasih telah mengunjungi blog dan menyimak kisah ini

  9. Adytia Dwi Laksono says:

    Dear Pak Josef dan Pak Noer
    Pak Noer mungkin 1 jurusan dengan saya, tapi saya masih tingkat diploma tiga management pemasaran, dan sekarang saya bekerja sebagai recruitment di salah satu perusahaan consultant (executive search) selama satu tahun, semoga dengan cerita ini bisa memacu saya untuk bisa bekerja lebih dan tidak minder dengan temen-temen lulusan psikologi yang bekerja di level yang sama
    salam 😀

    • josef josef says:

      Terima kasih Adytia, belum ada yang terlambat, kesempatan masih terbuka lebar di depan kita, dan kalau Adytia percaya BISA, pasti BISA

  10. Ira Diana says:

    Saya sangat senang membaca artikel Bapak dan saya juga bangga bahwa menjadi bagian dari HR, kita harus “kaya” tidak terkungkung dalam frame “psikologi” walaupun saya juga psikolog ^_^.

    Saya ingin sedikit berbagi dan meminta pendapat dari Bapak. Suatu waktu di kantor, seorang karyawan sedang melanjutkan studi S2 strategic management di univ. negeri ternama di Indonesia, sedang tesis, dan melakukan penelitian di sister company perusahaan kami. Subyek penelitiannya adalah level manager ke atas. Suatu hari karyawan tersebut mendatangi saya dan berkata: “ada beberapa orang pada level tersebut bertanya, buat apa mengambil kuliah yang susah, ambil saja hrd yang paling gampang”.

    Saya sangat sedih mendengar pernyataan tersebut Pak. Mungkin memang perlu untuk mengedukasi para manager yang notabene partner HR dalam menjalankan HR agar tidak menggampangkan HR.

    Bagaimana pendapat Bapak agar positioning HR di sebuah perusahaan benar2 bisa menjadi strategic partner?

    • josef josef says:

      Terima kasih sahabat HR, mungkin ini psikolog pertama yg memberikan tanggapan. Tapi jangan sedih, cara mengedukasi adalah dg deliver value yg mereka perlukan. Karena pengakuan itu harus diraih, dan bukan diberikan oleh line manager begitu saja. Terima kasih Ira sdh mengunjungi blog dan menyimak cerita disini

  11. devi says:

    Maaf Pak Joseph, pertanyaan dari follower bpk @budiprast_25 memang membuat kita agak kaget, mengapa orang masih melihat tugas hr adalah fungsi spesialis yang hanya bisa dikerjakan oleh disiplin ilmu tetentu. Padahal sdh sangat banyak sekali praktisi hr bukan dari kalangan Psycolog. Tetapi dengan penjelasan dan pengalaman bapak sudah sangat clear bahwa praktisi hr adalah mereka yang mau peduli dan belajar semua yg berkaitan dengan dunia sdm. Demikian tambahan sedikit comment Pak Joseph

    • josef josef says:

      Terima kasih Devi, ngga apa2 untuk bertanya. Justru dengan satu pertanyaan tersebut men triger berbagai diakusi dalam hari2 belakangan ini. Dan sekaligus memberikan saya alasan untuk menulis artikel ini.

  12. Terima kasih pak Josef atas inspirasi tulisannya, kebetulan saya bukan lulusan psikologi namun saya senang sekali dengan ilmu HR dan suatu hari ingin bergabung dalam dunia HR. Benar kata Bapak, bahwa latar belakang pendidikan bukan segala-galanya, yang penting adalah usaha ingin belajar dan networking. Sukses selalu Pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Anastasia, setiap hari banyak sekali kesempatan belajar sebagai bekal untuk hari esok. Networking akan membantu menambah peluang. Semoga sukses dengan cita2mu untuk bekerja di bidang HR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life