Belajar dari CEO yang Memanusiakan Manusia

Posted on June 10th, 2014

“Every time you don’t follow your inner guidance, you feel a loss of energy, loss of power, a sense of spiritual deadness.” (Shakti Gawain)

EMAIL DARI Ketua SUDARA, Pak AM Lilik Agung, yang meminta saya untuk berbagi dalam forum memperingati perjalanan 20 tahun SUDARA langsung saya setujui tanpa berpikir dua kali. Selain ada kesempatan sharing, saya juga membayangkan akan belajar dari narasumber lainnya yang akan menyajikan materi dengan perspektif yang beragam. SUDARA, SUmber DAya RAsuli adalah kelompok referensi professional Sumber Daya Manusia atas dasar semangat spiritualitas Kristiani.

Rancang programnya termasuk apik. Bagian pertama, akan disuguhkan materi tentang Etika, sebagai landasan kita berpikir dan bertindak. Bagian kedua sharing tentang Pengelolaan Sumber Daya Manusia. Dan bagian ketiga atau terakhir, sharing dari CEO tentang bagaimana mereka men-drive Pengembangan SDM di tempat kerja masing-masing. Tulisan saya kali ini akan fokus pada sesi awal dan akhir saja. Berikut ini foto saya berbagi sekaligus belajar dari tokoh lain.

Sharing session di Leaders Inspiration

Haruskah Kita Paham tentang Etika?

Etika adalah filsafat dalam bidang moral, bidang yang menyangkut baik-buruknya manusia sebagai manusia. Fokus pembicaraan pagi itu dibatasi pada Etika Profesi: cabang filsafat moral yang menekuni kewajiban-kewajiban bagi aneka pekerjaan yang muncul atas dasar pembagian kerja dalam masyarakat modern, dan dari pelaksanaan kewajiban itu ditentukan baik-buruknya seorang professional. Contoh: Etika Bisnis, Etika Medis, Etika Politik, Etika Pers, dan lain-lain.

Pembicara Dr. S.P. Lili Tjahjadi menekankan: walaupun kita menemukan sekitar kita banyak kejadian di mana orang berperilaku tidak sesuai dasar Etika (misalnya banyak korupsi sekitar kita), kita tetap perlu mempelajari dan menghayati makna Etika itu sendiri agar tidak terjebak untuk melakukan hal yang sama. Etika bicara tentang “apa yang seharusnya” bukan “apa adanya” yang kita saksikan sehari-hari.

Untuk itu kita perlu mengenal 3 (tiga) Prinsip Dasar Etis:

  • Kehendak baik: Ketekadan untuk secara prinsipiil bersikap positif terhadap pihak lain, sesama makluk dan keutuhan alam (lawannya: sikap eksploitatif atas sesama dan alam)
  • Keadilan: Memberikan kepada pihak lain apa yang menjadi haknya. Tanpa keadilan, kehendak baik hanya sekedar lip service.
  • Hormat pada diri sendiri: Tidak membiarkan diri rusak, terlantar, sakit, entah akibat perbuatan sendiri maupun pihak lain.

Untuk melengkapi konsep tersebut di atas, Pak Adhy Trisnanto membagi pengalaman tentang bagaimana memotret berbagai praktek di masyarakat dalam konteks Etika Bisnis, dengan menggunakan tiga kacamata: Black-Grey-White. Bila kita berhadapan dengan kenyataan, misalnya saya diberikan tiket nonton konser di Singapore oleh Supplier, kita perlu menguji apakah ini jelas-jelas melanggar kode etik bisnis (black) atau praktek ini dibenarkan oleh perusahaan (white) atau masih di daerah samar-samar (grey). Bila ragu-ragu, maka perlu klarifikasi pada pejabat yang berwewenang di perusahaan untuk memberikan interpretasi.

Memberi Contoh dalam Memimpin

Kesan pertama bertemu dengan Pak Jonan, disangka anak kuliahan. Tampil sederhana dalam baju dan sepatu santai. Begitu menyimak pemaparan selama dua jam, kita baru menyadari kehadiran seorang tokoh yang sangat bijak, dengan pemikiran smart dan kaya akan pengalaman untuk pembelajaran. Kemampuannya sebagai seorang pemimpin dapat disimak dari perjalanan 5 tahun memimpin KAI (sepanjang sejarah Kereta Api, pimpinan yang paling lama hanya bertahan 3.5 tahun).

Pak Jonan menyodorkan paparan Peter F. Drucker sebagai bumbu presentasinya, sekaligus dasar konsep langkah yang dia ambil:

“All the effective Leaders I have encountered – both those I worked with and those I merely watched – knew four simple things:

  1. A leader is someone who has followers
  2. Popularity is not leadership, results are
  3. Leaders are highly visible, they set example
  4. Leaders is not rank, privilege, titles, or money, it is responsibility”

Dan dari sana beliau bercerita sambil memperlihatkan berbagai foto aktivitas yang dia jalankan. Foto-foto tersebut sangat kental menggambarkan kehadirannya di lapangan, sangat visible sekaligus accessible oleh teamnya, seakan tidak ada jarak, dan menyatu dengan seragam yang sama seperti karyawan lainnya.

Jonan berinteraksi dengan karyawan

(Foto dari slide presentasi Pak Jonan)

Beliau sangat yakin bahwa:

“Leading by example is the only thing that matters the most.”

Sejalan dengan itu, ia membangun komunikasi dengan berbagai stakeholders di luar sana: dengan Pemerintah Pusat dan Daerah, pejabat keamanan baik itu Polisi atau ABRI, pers dan juga penyandang dana. Ini akan memberikan dia kesempatan memaparkan Visi KAI dan berbagai rencana pelaksanaannya, dan juga sekaligus menjaring input dari berbagai pihak di luar sana.

Transformasi Penuh Tantangan

Kita semua paham, kalau keputusan untuk menerima panggilan sebagai orang nomor satu KAI merupakan tantangan sekaligus pengorbanan. Pengorbanan karena dia harus meninggalkan karier dan kehidupan yang mapan. Tantangan karena kita tahu bahwa Pak Jonan yang mau bekerja sungguh-sungguh, akan masuk ke dalam belantara KAI yang memiliki pola kerja dan perilaku penghuninya yang jauh dari tata kelola perusahaan yang sehat dan juga jauh dari pelayanan yang manusiawi.

Dalam banyak hal dia harus mengambil keputusan dengan pertimbangan yang serius. Namun kerendahan hatinya terus membimbing dia untuk tidak memilih popularitas, tapi menyuguhkan hasil kerja optimum.

PT KAI Before-After

(Foto dari slide presentasi Pak Jonan)

Awal yang dia saksikan adalah prasarana yang sudah tidak layak, rel rusak, karatan atau terendam kalau banjir. Sabotase/usaha pengrusakan atau lemparan batu yang sering terjadi (rata-rata 300-400x setahun), tata kelola di berbagai aspek yang perlu ditangani serius, termasuk tata kelola SDM.

Pendekatan “From Outside-In” dan Memanusiakan Manusia

Aspek penting yang dilirik Pak Jonan untuk mulai digarap adalah SDM, karena beliau yakin bahwa  dukungan Divisi SDM yang kuat, program pengembangan SDM secara menyuluruh dapat diakselerasi, dan transformasi dapat dijalankan dengan baik.

Komitmen manajemen dalam perubahan pengelolaan SDM ada dalam 4 (empat) fokus:

  1. Meniadakan senioritas,
  2. Sistem remunerasi baru,
  3. Rekrutmen,
  4. Mengubah organisasi dari “Product Oriented” menjadi “Customer Oriented

Yakin akan konsep “Seeing is believing” dia mengirim banyak karyawan untuk menyaksikan sendiri fasilitas dan pelayanan perkeretaapian di luar negeri, agar bisa mendorong perubahan perilaku melayani.

Berbagai paparan dan foto yang ditampilkan, sungguh memperlihatkan kedekatan Pak Jonan dengan karyawannya, bukan di kantor tapi di lapangan, dengan seragam yang juga sama. Melalui pendekatan seperti itu, karyawannya juga merasa dimanusiakan, mereka belajar service excellence dari pimpinan, dan ini akan menjadi contoh kongkrit bagi mereka untuk memberikan pelayanan yang manusiawi kepada para pelanggan.

Ketika saya mempersiapkan tulisan ini, saya sempat melirik sebuah kicauan masuk seperti ini.

@easaditya: Sekarang KAI keren ya, ada fasilitas print tiket mandiri, yang disertai dengan fotonya.

Turun ke lapangan memberi contoh, juga dibarengi dengan memberikan “empowerment”, dan beliau sangat yakin bahwa empowerment artinya TRUST. Dan setiap orang seharusnya diyakini JUJUR, sampai yang bersangkutan membuktikan sebaliknya (Every person is honest until proven otherwise).

Melihat hasil kerjanya saat ini, tanpa menengok sejarah perjalanan sebelumnya, tidak akan memberikan excitemen, karena memang seharusnya pelayanan KAI seperti itu. Tetapi bila kita paham betul setiap detail perjalanan yang beliau tempuh bersama teamnya, kita akan berdecak kagum. Karena apa yang sejak awal nampak tidak mungkin, ternyata bisa direalisir di tangan dingin Pak Jonan, seakan memberikan garis tegas pada kata-kata almarhum Nelson Mandela di bawah ini.

“It is always impossible until it is done.” (Nelson Mandela)

Bookmark and Share

4 Responses to Belajar dari CEO yang Memanusiakan Manusia

  1. Meisia Chandra says:

    Terima kasih atas sharingnya pak Josef. Tulisan ini sangat menginspirasi. Ternyata perubahan pada KAI memang tidak terlepas dari inovasi pada pengelolaan SDM. Kita berharap semakin banyak pemimpin2 seperti pak Jonan!

    • josef josef says:

      Terima kasih Mei, kita semua sangat kagum dan terinspirasi dengan perubahan di KAI yang sangat fokus pada Pengembangan Sumber Daya Manusia. Kita banyak belajar dari mereka

  2. Halloo pak Josef,

    Terima kasih artikelnya. Sangat bermanfaat.

    Menginspirasi sekali kata “Memanusiakan manusia” karna hal itu juga merupakan semangat kami untuk mewujudkanpassion kami dg melakukan kegiatan usaha Training Nutrisi kpada karyawan di beberapa korporasi.

    Kapan bapak ada workshop/seminar boleh juga saya diinformasi.

    Berharap sekali Bapak meluangkan waktu bagi saya dan partner utk sharing tentang kegiatan kami PT NAFAS Nutri Sejahtera.

    Terima kasih.

    Salam sehat dan sukses,

    Ina Chrismawati
    08179115900
    081290349799

    • josef josef says:

      Terima kasih Ina, terkadang manusia yang namanya karyawan diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Karena itu muncul istilah memanusiakan manusia. Dengan senang hati akan saya informasikan kalau ada program berikutnya, dan kita cari waktu untuk bertemu. Terima kasih juga untuk no kontaknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih coach Indra, sukses juga untuk bukumu yang baru: Effective Coaching Skills for Leaders. Salam

Indra Dewanto:
Sukses selalu dan terus menginspirasi Pak Josef Bataona….:)

josef:
Terima kasih sama2 Tromol, satu dua kata yang bermanfaat, kiranya menyejukan. Salam sehat dan sukses

Tromol Sihotang:
Terima kasih pak Josef yang setiap saat memberikan pandangan, arahan dan tentunya bimbingan yang...

josef:
Terima kasih sama-sama bu Dwi Suwarnaning, sukses selalu, salam


Recent Post

  • Belajar Bersama dari Buku Leader as MEANING MAKER
  • Sikapi Dengan Hati Yang Jujur
  • Agar Tetap Tegak Diterpa Badai
  • Mengasah Listening Skill Menuju Peran Sebagai MEANING MAKER
  • Tim Membutuhkan TRUST
  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement