Berpikir Kreatif, Menentang Arus

Posted on September 20th, 2013

“The man who is swimming against the stream knows the strength of it.” (Woodrow Wilson)

SOSOK INI TAMPIL SEDERHANA, tidak banyak bicara. Kalau ditanya pun dia hanya menjawab seadanya. Tapi begitu kita menyentuh berbagai pengalaman hidupnya, suaranya mulai terdengar lantang penuh percaya diri. Diapun bisa membagi pengalaman itu berlama-lama bagi mereka yang ingin mendengarkan. Namanya SINDOLFUS Serani.

Nelayan Pemberani

Putra Lamalera, Lembata, Nusa Tenggara Timur ini dibesarkan dalam lingkungan alam yang keras. Foto di bawah ini bisa sedikit memberi gambaran kehidupan, sekeras hempasan ombak besar di pantai desa itu. Di sana, bersama penduduk desa lainnya mereka akan turun ke laut untuk menangkap ikan untuk keperluhan hidup sehari-hari. Dan secara turun-temurun hingga hari ini, hidup penduduk tersebut masih sangat tergantung pada hasil di laut. Masih ada yang menjadi guru, tukang kayu, tukang batu dan lain-lain. Tapi mereka harus bersedia untuk keluar dari desa untuk mencoba hidup seperti itu di tempat lain.

Terobosan Menantang Arus

Bapa SINDOL, begitu dia biasanya dipanggil, mempunyai 9 bersaudara. Dan sebagai anak sulung, dia pun punya tanggung jawab untuk pendidikan adik-adiknya. Gaji orang tuanya sebagai guru Sekolah Rakyat (SR) tentu tidak akan cukup untuk itu. Sementara itu, dari perkawinannya dengan seorang gadis sesama satu desa, lahir delapan anak yang juga harus dibesarkan. Penghasilan sebagai nelayan tidak akan bisa mencukupi.

Datanglah sebuah kesempatan, melalui informasi dari misi katolik di sana, diketahui bahwa di Kota Maumere Flores, orang bisa belajar untuk membuat dan membakar batu bata. Beliau akhirnya memutuskan untuk berhenti sebagai nelayan dan pergi merantau beberapa bulan untuk belajar. Atas ijin orang tuanya, berangkatlah dia ke Maumere di Flores Tengah, perjalanan yang harus ditempuh dalam waktu 3 hari.

Hasil pendidikan diuji coba, dan ternyata memberikan kualitas batu bata yang sangat bagus. Tapi siapa yang membutuhkan batu bata?? Bagaimana menjualnya?? Bahkan keputusan untuk mengambil langkah kehidupan seperti itu mendapat cibiran dari banyak orang yang menganggap itu keputusan tidak masuk akal: Bagaimana mungkin, membuat batu bata yang tidak ada pasarnya?

Bapa Sindol tentu belum pernah mendengar kisah orang sales yang dikirim ke India untuk menjajagi peluang menjual sepatu. Salesman pertama mengirim pesan: Di sini potensinya kecil karena tidak banyak yang memakai sepatu; sementara salesman kedua dengan penuh antusias mengirim pesan ke kantornya: Potensi di sini luar biasa karena belum banyak orang yang memakai sepatu.

Dan mungkin naluri bapa Sindol mengatakan bahwa justru pasarnya menjanjikan, karena dia yang menciptakan kebutuhan, belum ada yang membangun rumah dengan batu bata dan tidak ada pesaingnya.

Kreativitas yang Sulit Dibayangkan

Yang diharapkan pada waktu itu untuk bisa membangun rumah menggunakan batu bata tentu guru-guru yang punya gaji. Dan rumah di desa itu tidak pernah dibangun sekali jadi, bisa bertahun-tahun tergantung tersedianya bahan.

Lalu bagaimana pola penjualan batu bata tersebut??

Pertama-tama, didapatkan kesepakatan pemesanan batu batu untuk sebuah rumah. Tentu saja kesepakatan lisan. Setiap kali pemesan ada uang, dia akan membayar. Tidak rutin. Terkadang, bila anaknya bapa Sindol pulang libur sekolah dan perlu uang sekolah, dia akan ketemu guru-guru pemesan batu bata untuk meminta bantuan, berapa saja uang cicilan batu bata yang bisa mereka berikan.

Dari sanalah berita pembuatan batu bata meluas dan pemesanan meningkat, sementara itu, kebutuhan anak sekolahnya sudah mulai agak diringankan. Kali ini dia membuktikan bahwa dia benar dengan membelok haluan dari nelayan menjadi pembuat batu bata; dan bahwa pasar bisa diciptakan dengan menciptakan kebutuhan, bahkan dengan penyediaan batu bata dan cara cicilan pembayaran yang unik.

Kebanggaan Sekaligus Kebahagiaan Hidupnya

Bila ditanya tentang apa yang paling membahagiakannya dalam hidup ini, tanpa berpikir panjang bapa Sindol menyampaikan:

“Dalam situasi yang sangat terbatas, saya bersyukur karena bisa membesarkan kedelapan anak saya dalam keadaan sehat, dan bisa mengenyam pendidikan yang memadai. Masa depan mereka di bangun seperti bata demi bata yang ditata rapih untuk membangun sebuah rumah.”

Dan ketika anak-anaknya merencanakan untuk merenovasi rumah, yang sudah lama  dibangun dengan batu bata buatan tangan bapa Sindol sendiri, timbul ketegangan karena walau beberapa batu bata buatannya masih bisa dipakai, bapa Sindol menginginkan agar rumah tidak diplester, karena dengan demikian batu batanya tidak kelihatan lagi. Akhirnya kompromi diambil, rumah di renovasi, diplester, sementara itu dapur akan dipertahankan apa adanya dengan batu bata yang masih nampak.

Foto di atas adalah foto bapa Sindolfus Serani Bataona dan istrinya. Mereka adalah ayah dan ibuku, orang tua kebanggaan yang sudah memberikan kami pelajaran tak ternilai dalam kehidupan ini. Walau mereka sudah almarhum, tetapi perjalanan hidup mereka akan terus menginspirasi kami. Dan perjuangan mereka untuk menghantar kami menjadi seperti sekarang ini, akan terus kami syukuri. Penggalan lagu “You Raise Me Up”-nya Josh Groban ini rasanya pas untuk menutup tulisan ini:

“You Raise Me Up, so I can stand on Mountains

You Raise Me Up, to walk on stormy seas,

I am strong, when I am on your shoulders

You Raise Me Up to more than I can be”

Bookmark and Share

14 Responses to Berpikir Kreatif, Menentang Arus

  1. devi says:

    Sungguh luar biasa Pak Josef, pagi Jum’at membawa inspirasi luar biasa bagi kita kita semua sebagai lecutan motivasi dan inspirasi dalam kehidupan kita. Saya yakin bapak banyak punya cerita yg menginspirasi. Kami selalu menunggu setiap tulisan yg luar biasa. Trims Pak Josef.

    • josef josef says:

      Terima kasih Devi, saya bukan hanya membagi cerita untuk inspirasi kita semua, tetapi sekaligus memberi contoh agar kita semua bersedia menggali kisah hidup kita masing2 yang sangat kaya pembelajaran, lalu dibagi kepada teman2 lainnya. Semoga…

  2. hanny says:

    Baca tulisan Bapak, saya jadi makin bangga dengan kedua orang tua saya. Love them to the moon and back :). Terima kasih untuk inspirasi paginya Pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Hanny, tanpa jasa mereka mendidik dan membesarkan kita, kita tidak akan menjadi seperti ini. Semoga kita terus mensyukuri berkat memiliki orang tua kita yang tak ternilai kerja keras mereka tapa pamrih

  3. Dwi Aryssandhy says:

    Inspiring banget pak Josef.
    saya jadi seraya kembali ke masa lalu saya sewaktu tinggal di Ende dan Maumere. Kenangan dan pembelajaran akan optimisme hidup dan cita – cita luhur dari kesederhanaan berpikir. Rendah hati dan suka menolong adalah ciri khas yang saya selalu kenang hingga saya di Jakarta ini pak.

    • josef josef says:

      Terima kasih Dwi, dalam kesederhanaan seputar kita, ternyata ada banyak kisah inspiratif, kalau kita ingin mengangkatnya ke permukaan demi pembelajaran kita semua. Semoga kenanganmu di Ende dan Maumere terus memberi inspirasi hidup

  4. Doris Maruli Purba says:

    sungguh luar biasa Bapak Josef, sangat inspiratif sekali. dan mengingatkan saya kepada orang tua saya. i love u.. dad, mom.
    terima kasih. Salam

    • josef josef says:

      Terima kasih Doris, tiada hentinya syukur kita panjatkan kehadirat Yang Maha Kuasa, bahwa kita oleh mendapatkan bimbingan dari ayah dan ibu kita masing2. Semoga ini juga menjadi inspirasi kita untuk mendidik anak2 kita sendiri.

  5. Merza says:

    Anak yang hebat dari orangtua yang hebat dan menjadi role model kehidupan bagi lingkungannya…

    • josef josef says:

      Terima kasih Merza, sudah mengunjungi blog dan menyimak kisah ini. Pelajaran dari Orang tua kita masing2 akan maksimal, kalau kita membuka diri untuk belajar, dan selanjutnya berbagi

  6. yenny prabowo says:

    Terima kasih banyak inspiratisfnya Pak Josef, benar-benar membuka mata hati kita akan arti kesederhanaan dan makna kata cukup.

  7. Peter Bataona says:

    Dear jos, thank you for sharing beautiful experiences tentang bapa dan mama. Terbayang kalau ada delapan saudara/i bapak bisa memberisepotong kisah atau pengalaman mereka tentang bapak Sindolfus dan kalai delapan anak bapa Sindol juga sharingkan endapan kisajyg menyena.gkan dari memory mereka tentang figur yang satu ini maka gilirannya kita bisa memiliki satu buku kehidulan tenta.h bapak Sindolfus dan semaligus menjadi filosofi kebidupan yang berguna untuk umum. Semoga mimpi ini bisa jadi ksnyataan. Regards.

    • josef josef says:

      Terima kasih Peter, banyak kisah hidup mereka yang sangat menginspirasi. Ini hanya sepotong kecil kisah mereka. Semoga mimpimu untuk kompilasi kisah 2 yang bisa kita share pada banyak orang, bisa terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET