Diutus untuk Melayani

Posted on March 18th, 2014

“True Leadership must be for the benefit of the followers, not to enrich the leader.” (John C. Maxwell)

PAGI ITU JAKARTA diguyur hujan lebat. Mengantisipasi kemacetan, saya sengaja berangkat lebih awal menuju Jl. Kebahagiaan 4 Jakarta. Melalui Radio Sonora FM92.0 saya hadir untuk berbagi, yang akan dipancarkan secara langsung ke 20 Jaringan Sonora di Seluruh Indonesia.

Materinya adalah kisah perjalanan seorang anak nelayan yang mulai membangun mimpi besar ketika berdiri di Pantai Lamalera Lembata NTT, menatap laut luas yang dibatasi garis horizon. Saat itu dia sangat yakin bahwa di balik garis horizon itu ada kehidupan yang lebih baik, tapi tidak tahu apa bentuknya…

Pantai by josefbataona

Warna-warni Sepanjang Jalan

Tiba di Jakarta, ternyata …….tidak seperti yang dibayangkan. Seakan memasuki hutan belantara kehidupan yang memerlukan mental survival tinggi serta waktu untuk penyesuaian. Tapi kerasnya hidup di sini mungkin sepadan dengan tingginya ombak atau kerasnya bebatuan yang menghampar di Desa Lamalera. Dengan modal fighting spirit dan keinginan kuat untuk melangkah meraih mimpi, situasi ini bisa dilalui.

Tahun pertama adalah tahun untuk mencari kepastian kebutuhan fisik yang mendasar: punya pekerjaan untuk bisa hidup. Selanjutnya tangan Tuhan menuntun saya untuk bisa dipertemukan dengan pimpinan sebuah percetakan di akhir tahun pertama. Di sinilah hitung-hitungan sederhana memberikan saya cahaya harapan untuk bisa memulai kuliah di tahun berikutnya.

Awal 1974, melalui program cicilan 2x, saya berani melangkah memasuki Universitas Atma Jaya, mengambil Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Personnel Management.

Wah kayaknya pilihan tepat sejak awal?? Mungkin!!

Saya sendiri awalnya juga tidak mengerti. Yang pasti saya memilih jurusan itu, karena uang kuliahnya Rp 40 ribu setahun dan bisa nyicil dua kali. Alasan kedua: kuliahnya sore sehingga saya bisa kerja pagi. Tapi saya yakin perjalanan menuju puncak sukses harus melewati jalur ini.

Tantangan pertama muncul, ketika di tengah tahun kemampuan tabungan saya hanya  bisa mengumpulkan Rp 10 ribu dari Rp 20 ribu sisa pembayaran uang kuliah. Pejabat fakultas yang saya temui hanya bisa berujar, “Itu aturan Universitas, saya tidak bisa membantu.” Sementara itu ketika menemui pejabat Universitas, banyak alasan yang diberikan tapi intinya sama, “Tidak bisa memenuhi permintaan saya untuk menyicil lagi.”

Malam hari, ketika hampir kehabisan akal. Muncul pemikiran untuk mengeluarkan slip gaji dan melakukan rekap pemasukan dan pengeluaran, untuk memastikan, apakah masih ada potensi menabung yang saya abaikan. Ternyata confirm: kemampuan menabung memang hanya Rp 10 ribu sampai tengah tahun. Dengan modal rekap itu dan tekad kuat untuk terus kuliah, saya kembali menemui pejabat universitas keesokan harinya.

“Sebelum bapak mengatakan TIDAK untuk kedua kalinya, bolehkah bapak mencermati rekap ini. Saya datang jauh-jauh dari NTT untuk kuliah. Orang tua tidak mampu, saya harus bekerja untuk kuliah. Dan saya janji untuk melunasi sisa Rp 10 ribu rupiah sebelum ujian kenaikan.”

Dan pengakuan tulus itu membuat kami mengadakan kesepakatan di atas kertas bermaterai untuk melunasi sisa Rp 10 ribu sebelum kenaikan. Dan janji itu sungguh saya tepati. Dan kuliahpun berlanjut dengan kemudahan yang diperoleh melalui Beasiswa Supersemar di tingkat berikutnya.

Apapun Perannya, Itu Adalah Panggilan

Awal karya menuju pentas international dimulai sebagai Management Trainee. Periode setahun ini sungguh menegangkan, karena hanya ada dua kemungkinan: sukses dan melanjutkan perjalanan atau gagal dan harus keluar.

Dalam situasi seperti itu, ada saja jalan yang dibuka.

Sore itu saya menuju toko buku loak di Kramat Sentiong, tempat saya beli buku semasa kuliah. Tujuan untuk mencari bacaan akhir pekan. Mata saya tertuju pada sebuah buku berjudul: “How to Stop Worrying and Start Living” karangan Dale Carnegie. Buku itu saya lahap habis di hari Sabtu itu. Dan sebuah tips sederhana yang saya timba dari buku tersebut:

“Kalau kamu percaya bahwa kamu berhasil, maka kamu akan berhasil. Sebaliknya kalau kamu percaya bahwa kamu gagal, maka kamu akan gagal.”

Selanjutnya setiap pagi sebelum berangkat kerja, saya berdiri di depan cermin dan melakukan dialog affirmative pada diri sendiri:

“Josef hari ini kamu akan sukses, Josef hari ini kamu akan sukses, Josef hari ini kamu akan sukses.”

Dan hasilnya sungguh ajaib, rasa percaya diri tinggi mengawal saya sepanjang hari. Periode menegangkan pun berlalu. Dan mulailah saya merambah menuju puncak.

Perjalanan melewati berbagai fungsi Human Resources, termasuk 2,5 tahun berkiprah di pentas International sebagai Regional HR Manager Asia Pacific Quest International, anak perusahaan Unilever.  Karierku selama 31.5 tahun berkarya, ditutup pada posisi HR Director dan menjadi Board Member selama 11 tahun terakhir. Namun buat saya, bukan posisi Direktur itu yang penting. Tapi di posisi manapun saja berada, kiranya bisa berperan untuk memberikan manfaat bagi banyak orang. Hingga perjalanan masih berlanjut sebagai HR Director di Bank Danamon dan sekarang HR Director PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

Leadership Itu Panggilan Sekaligus Janji

Ketika ditanyai pendapat saya tentang pengalaman sekaligus pandangan saya tentang Leadership, tanggapan saya:

“Leadership adalah sebuah panggilan dan sekaligus Komitmen atau Janji.”

Panggilan karena di sana dia tidak mengerjakan tugas sesuai job description, tetapi memenuhi panggilan hati untuk “Melayani”.

Siapakah yang dia layani?? Yang pasti bukan atasannya, tetapi bawahannya. Di dalam melayani dengan hati, muncul komitmen atau janji, bahwa dia akan men-develop anak buahnya, membuat mereka sukses. Hasil akhirnya memang bersama dengan anak buahnya mereka bisa memenuhi apa yang diharapkan atasan atau organisasi. Karena panggilan ini muncul dari HATI, maka tidak ada beban dalam menjalankannya. Dengan demikian, menurut hemat saya, kebahagian seorang Leader adalah ketika dia melihat anak buahnya sukses.

Key Success Factors

Menutupi acara ini, Eloy, anak pedalaman Nias yang sangat sukses itu meminta saya untuk membagi tiga Key Sukses Factors saya:

Faktor sukses saya justru ada dalam Moto Hidup Saya: “Be Yourself, But Better Everyday”:

  • Be Yourself, menjadi diri sendiri, mengenali kemampuan, talenta diri, tahu apa yang dimaui.
  • Better Everyday = Belajar tak hentinya agar menjadi pribadi yang hari ini lebih baik dari hari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Termasuk di dalamnya menjaga tubuh saya dengan komitmen olahraga 4x seminggu.
  • Apa yang dipelajari itu bukan untuk diri sendiri, tapi untuk bisa Berbagi.

Dan saya akan terus berbagi melalui jaringan maya, yakni blog: www.josefbataona.com yang selalu menghadirkan artikel baru setiap Selasa dan Jumat pagi jam 08:00, yang selanjutnya saya umumkan via Twitter @josefbataona, Facebook dan LinkedIn, termasuk berbagi melalui Radio Sonora pagi ini.

On air di Studio Sonora by josefbataona

Juga berbagi di berbagai forum di tengah masyarakat; Perguruan Tinggi, public seminar, atau bahkan sekedar ngobrol santai sambil ngopi. Alasannya sederhana:

“Semua pengetahuan yang kupunyai, bukan untuk diri sendiri tapi untuk dibagi, agar bersama kita ciptakan hidup yang lebih baik.”

Bookmark and Share

4 Responses to Diutus untuk Melayani

  1. Ratih says:

    Saya jadi teringat jawaban Pak Josef ketika saya pernah bertanya kenapa sih Pak Josef nggak bikin buku saja, dan jawaban Bapak adalah dengan menulis di blog maka banyak orang yg bisa membaca tulisan Bapak tanpa perlu mengeluarkan uang utk membeli buku. Jawaban yg benar2 membuat saya tertegun..
    Jangan pernah lelah untuk berbagi ya Pak…

    • josef josef says:

      Terima kasih Ratih, baru2 ini ada yang memberikan saya data bahwa di Indonesia ternyata yang membaca e-book atau yang digital masih sedikit, prosentasenya masih single digit. Data ini mau mengungkapkan bahwa lebih banyak orang yang membaca tulisan cetak,p sambil bisa meminjamkan kepada teman lainnya. Reaksi saya ?? Kita tunggu.

  2. Roestam says:

    Terimakasih Pak Josef buat gagasan dan semangat melalui tulisan yg menginspirasi, dan jg telah mengingatkan kembali bhw penugasan sekecil atau sebesar apapun yg kita peroleh merupakan panggilan dari pelayanan itu sendiri. Salam semangat…

    • josef josef says:

      Terima kasih Roestam untuk waktunya mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini. Kita hendaknya saling mengingatkan satu sama lain demi kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET