Posted on February 26th, 2013
“Dr. Alfred Nobel, who made his fortune by finding a way to kill the most people as ever before in the shortest time possible, died yesterday”
Courtesy Google Image
KALIMAT di atas adalah sepenggal tulisan di sebuah surat kabar Perancis, dengan headline: “The Merchant of Death is Dead.” Isi lengkap berita itu adalah obituary dari Alfred Nobel. Dan percaya atau tidak, yang sedang memegang surat kabar itu dan membacanya adalah Alfred Nobel sendiri!
Bagaimana itu bisa terjadi??
Masyarakat sering bingung dan tidak bisa membedakan Alfred dan Ludwik, abang Alfred. Kaget?? Memang! Marah?? Tidak diceritakan. Reaksinya lebih lanjut sebagai “Pedagang Kematian (The Merchant of Death)?? Ini yang lebih penting untuk disimak.
Delapan Tahun Penuh Makna
Di usia 55 tahun pada waktu Alfred membaca artikel tersebut di atas, dia telah mempunyai 55 paten, memiliki 90 pabrik persenjataan di 20 negara, dan sangat kaya raya tapi tidak menikah. Tetapi kejutan dari obituary yang salah di atas, telah membuat Alfred untuk mengubah kehidupannya.
Dia tidak ingin dikenang dunia dengan catatan gelap seperti itu. Dan dalam perjalanan sisa hidupnya, salah satu kenangan penting adalah dia berhasil menciptakan Piala Nobel, yang masih kita kenal sejauh ini. Dan keberuntungan berada di pihak Alfred, karena dia masih punya kesempatan untuk sungguh-sungguh mengubah hidupnya dalam delapan tahun, sebelum dia sungguh-sungguh meninggal di tahun 1896.
Leaving Legacy
Dalam postingnya di 4 Februari 2013 lalu, Jesse Lyn Stoner, pendiri SEAPOINT Center, menggugah kita semua dengan pertanyaan, sekaligus menjadi judul posting: “How to Create the Life You Want to Be Remembered for?” Jesse menawarkan langkah untuk mencoba, dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan:
Stephen R. Covey juga menyarankan untuk menganalisa: kalau saja semua atribut yang berkaitan dengan kepangkatan, jabatan diberikan kepada saya karena pekerjaan, misalnya manager, kepala bagian, menteri, gubernur dll, bila semua itu ditanggalkan, dan tinggal saya sebagai pribadi, siapakah saya ini??
Semua kita pasti ingin meninggalkan kenangan positif. Kalau ada yang membuat obituary kita, inginnya isinya adalah positif. Dan yang paling penting adalah, tidak semua kita mempunyai keberuntungan untuk “salah diberitakan” oleh surat kabar dengan berita negatif seperti yang dialami Alfred, agar kita kaget dan mengubah kehidupan kita. Terpenting menurut saya adalah mulailah dari diri sendiri sekarang juga, seperti petikan berikut ini:
The Willingness to CHANGE
When I was young and free
And my imagination has no limits,
I dreamed of changing the world.
As I grew older and wiser,
I discovered the world would not change,
So I shortened my sights somewhat
And decided to change only my country.
But it seemed immovable.
As I grew into my twilight years,
In one last desperate attempt,
I settled for changing only my family,
Those closest to me, but alas,
They would have none of it.
And now as I lay on my deathbed,
I suddenly realize:
If I had only changed myself first,
Then by example I might have changed my family,
From their inspiration and encouragement,
I would then have been able to better my country
And who knows, I may have even changed The World
An Anglican Bishop (1100 A.D) as written in the Crypts
of Westminster Abbey)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Thank you Pak Josef, for this Tuesday’s inspiration. Truly touch my hearth. As usual, look forward for your permission to copy and share this article to my colleague. Have a great day!
Usai olah raga pagi, semangat saya berlipat ganda membaca komentar Agnes, Terima kasih. Seperti biasa, silahkan copy dan share artikel ini untuk para sahabatmu, yang tentu saja secara tidak langsung sahabatku juga. Salam sukses
Selamat pagi&semangat pagi bapak josef 🙂 saya sungguh termotivasi dengan tulisan2 d blog bapak,ingin rasanya saya bisa menulis blog dengan bahasa yg enak diterima dan mudah dipahami seperti tulisan bapak, pak,yang ingin saya tanyakan,bagaimana cara menulis sebuah tulisan,tidak terlalu panjang namun pembaca bisa mengerti dan mudah memahami tulisan kita sehingga pembaca tidak bosen dalam membaca tulisan kita, salam semangat,salam keluarga BISMA, semoga berjumpa bapak kembali di camp2 akmil magelang,amiiin, sukses buat masa depan n karir kita semua, °\(^▿^)/° (҂’̀⌣’́)9
Terima kasih Ruma. Komentarmu juga sangat memotivasi saya untuk terus menulis. Terus terang saya juga tidak tahu kalau saya bisa nulis. Hanya teman2 yang bilang, kalau saya bercerita, sangat menginspirasi. Lalu mereka menyarankan: kenapa tidak nulis aja cerita2 itu. Saya bilang: belum pengalaman menulis, apalagi yang menarik. jawab mereka: Tulis aja seperti layaknya engkau cerita pada kami. Anggaplah pembaca blog ini sedang mendengar kisahmu. Lalu saya minta tolong juga teman dari generasi yang berbeda: Gen X, Gen Y, anak saya, istri saya, semua saya minta untuk memberikan masukan, terutama menyangkut isinya menarik atau tidak, tapi juga gaya bahasanya. Demikian Ruma, asal muasal saya menulis. Semoga bermanfaat
Great story….
Thanks for visiting the blog and comment.Rgds
Sooo inspiring, Pak. Terima kasih atas tulisan nya.
Sepertinya bisa sejalan dengan mindset : minimal 3 kebaikan sehari. Dg implementasi yg bervariasi dari masing2 individu, hasilnya akan searah yaitu : menularkan virus positif secara berantai.
Berbagi manfaat sekecil apa pun, beramal dg ikhlas sekecil apa pun, minimal tersenyum sehingga dpt menularkan senyum kepada org lain…
Sesederhana itu penafsiran saya Pak 🙂
Keep on writing, keep on inspiring us, Pak Josef.
Selamat pagi Dewi. Terima kasih Dewi telah menangkap esensi tulisannya, dan yang paling saya suka adalah Dewi membuat interpretasi sederhana untuk dibawah dalam pengalaman hidup nyata kita sehari2. Dan itu yang workable. Dimulai dengan mindset positif, membawa manfaat kecil dalam tindakan sehari2 sambil menularkan virus positif itu kepada yang lain. Sekali lagi terima kasih Dewi
Dear Pak JOS,
Makasih banyak atas inspirasinya…:)
Benar2 menyadarkan saya untuk selalu berbagi kebahagiaan, serta jaga emosi & kepala dingin, terutama disaat menghadapi situasi sulit & tidak menyenangkan.
Terima kasih Mudji. penting untuk selalu saling mengingatkan dalam kehidupan ini. Isi komentmu adalah janji pada dirimu sendiri. Tidak gampang, tapi kalau terus mengingatkan diri sendiri, pasti berhasil. Salam, dan sekali lagi terima kasih
Thanks & very much appreciate the ideas.
Mohon perkenan Pak Josef utk share the ideas to people, friends that I care about.
Thanks
Wassalam
Terima kasih Aming. Silahkan kalau mau share arrikel ini kepada para sahabatmu, semoga bermanfaat juga bagi lebih banyak orang. Salam
Terima kasih Pak untuk mengingatkan bahwa untuk menjadikan hidup kita lebih bermakna maka kita harus memberikan makna yang baik bagi kehidupan orang lain…
Terima kasih Ratih. sering kita ketakutan, kalau dengan memberi kita jadi kekurangan. Tidak, Ratih, sama sekali tidak. Dengan memberi kita akan mendapatkan kelimpahan. Dengan membagi ilmu, kita belajar, dengan membagi pengetahuan kita leibh kaya akan pengetahuan, dengan membagi pengalaman, teman2 juga akan membagi pengetahuan dan pengalaman mereka, sehingga pengetahuan kita berlipat ganda. Akhirnya kita akan bahagia, karena melihat orang lain bahagia karena kita. Salam
Thanks for the insight, Sir.
Terima kasih Victoria, telah mengunjungi blog ini dan menyimak cerita di sini. Semoga bermanfaat
Dear pak joseph,
Artikel yg bpk tulis spti menyadarkan saya bahwa hal2 yg kecil bisa berdampak besar. Trkdg kita sibuk mengejar sesuatu yg sptinya luar biasa dan mengabaikan hal yg sederhana..pak ada satu pertanyaan dihati yg dr dulu ingin saya tanyakan . Tp ktk membaca artikel ini saya mkin penasaran :-D.
Pertanyaan saya pak, bagaimana cra bpk membagi wktu bpk yg saya sngt yakin full sekli,namun bpk masih bisa berbgi kebahagian,menginspirasi org2 dsekitr bpk tanpa menggurui dan klihatan super sibuk 😉
Keep inspiring pak joseph….thank u..
Terima kasih Nadya untuk komentarnya dan juga pertanyaanmu yang menarik. Tidak hanya Nadya, tapi banyak yang sama penasarannya. Pertanyaan saya: kalau Nadya punya waktu 15 menit istirahat, apa yang dilakukan. Saya menulis ide2 cerita. Kalau punya waktu di mobil di tengah kemacetan, apakah akan ikutan ngomel ? Saya buat draft naskah. Selesai berbincang2 dengan oranga apa yang dilakukan ? Saya menulis dua tiga butir pembelajaran dari pembicaraan itu sebagai ide cerita. Kalau ada seminar, sbg peserta atau pembicara, apa yg di lakukan ? Saya menuliskan beberapa pokok pikiran dari bahan seminar yg bisa bermanfaat di tulisan. Lagi membaca twit apa yg di lakukan ? Banyak ide2 yg saya catat sebagai ide cerita….. Dan masih banyak lagi kebiasaan untuk menunjang usaha saya untu berbagi melalui tulisan. Kalau punya twitter, Nadya juga tahu kalau pagi2 di perjalanan menuju Gym, sekitar jam 05:30, saya juga twit 3 inspirational quotes, yg juga dilink ke FB. Mudah2an ini menjawab pertanyaan Nadya. salam