Posted on September 13th, 2016
“No success was won without enthusiasm and perseverance.” (Lailah Gifty Akita)
ANTUSISME mendiskusikan pentingnya pengembangan Sumber Daya Manusia sangat kita hargai. Berbagai pandangan yang terus menyuarakan bahwa langkah perubahan apapun yang kita akan lakukan akan maksimal hasilnya bila dibarengi dengan membenahi Sumber Daya Manusia.
Apalagi semua ini ditempatkan dalam konteks perubahan cepat yang terjadi di seputar kita. Sebut saja perubahan peta bisnis karena hadirnya middle level consumers yang baru, atau Millennials yang bukan saja mempengaruhi sudut pandang pengembangan brand dan supply chain-nya. Juga kehadiran generasi yang lebih muda ke dalam dunia kerja.
Semua ini akan memberikan dampak tidak sedikit bagi bisnis kita. Setidaknya memberikan alarm bagi kita semua di dunia kerja untuk mulai mengambil ancang-ancang antisipasi.

Lustrum 2
Sudah sepuluh tahun lalu, ketika saya diminta untuk turut mensukseskan program sertifikasi Human Resources. Saya merasa terpanggil untuk mengatakan YA dengan 3 (tiga) alasan:
Saya memang aktif selama lima tahun pertama, dan minta izin cuti karena kesibukan, walau sesi saya selalu di akhir pekan. Permintaan terus berdatangan agar saya bisa kembali aktif berbagi di CHRP.

Kehadiran Wakil Rektor III Unika Atmajaya, Dr. Kristianto, Dekan FH Dr. Yanti Fristikawati, Pendiri CHRP Pak Anton S. Wahjosoedibio, dan Pak Bambang Supriyanto, Program CHRP Director, memberikan makna pentingnya inisiatif CHRP demi kebaikan masyarakat HR.
Diskusi yang Belum Berakhir?
Sebagian sharing saya, khusus memotret kembali Millennials. Fokus saya adalah demi menggaris-bawahi bahwa Millenials sudah hadir di tengah kita dan turut berkontribusi bersama kita di berbagai sektor.
Lihat juga postingan lalu di link ini: Millennials Pemimpin Masa Depan, Jumat 2 September 2016.
Terus menerus mengedepankan label negatif tentang millennials tidak akan menyelesaikan permasalahan. Tiada habisnya saya juga turut menyuarakan di berbagai forum bahwa banyak label yang diberikan kepada Millennials yang cenderung negatif, hanya merupakan potret dari Gen yang lebih senior.
Dan pada kenyataannya, apa yang dilabelkan pada Millennials sudah menjadi norma juga bagi Gen X atau bahkan Boomers, hanya karena mereka melihat peluang yang sama dengan Millennials. Apakah ada perubahan dalam diri generasi yang lebih senior? Tidak! Di luar sana terjadi berbagai perubahan yang di masa sebelum Millennial tidak ada.
Peran Siapa untuk Perubahan Ini
Kalau memang situasi masih seperti yang digambarkan di atas lalu harus memulai dari mana? Demikian sebuah pertanyaan yang dilontarkan seorang peserta di akhir sesi.
Saat organisasi menyusun deskripsi job, HR bersama dengan line managers akan mencantumkan juga job profile dan profile calon yang akan mengisinya. Lalu mereka akan ke pasar tenaga kerja atau ke kampus untuk mencari calon-calonnya. Proses rekrutmen dilakukan bersama HR dan line managers, termasuk wawancara.
Kalau ternyata dibelakangan hari, calon yang diambil ini tidak sesuai, itu bukan karena dia adalah Millennial, tapi kita yang tidak cermat memilih calon.
Pertanyaan selanjutnya: Apakah kita akan mengubah job profile? Ataukah kita akan terus memaksa mencari yang sesuai dengan profile yang diinginkan oleh organisasi (baca: Gen X atau Boomers) ?
Ada saja contoh pemimpin di berbagai perusahaan di Indonesia yang mau membuka diri untuk menyikapi berbagai perubahan, termasuk hadirnya tenaga kerja lintas generasi:
“Candidates are now in control, and they’re selecting employers who make the hiring process simple, fast and focused on them….. In fact, recruitment has become marketing, which means you have to compete for the best talent by creating engaging, relevant experience.”
Petikan di atas kami pelajari dari sebuah sesi publik baru-baru ini. Perusahaan ini bisa dijadikan contoh bagaimana menyikapi Millennials. Secara perlahan tapi pasti calon karyawan mulai mendikte proses rekruitmen. Bukan saja karena ada banyak pilihan pekerjaan, tapi karena mereka telah membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang membuat mereka unggul untuk berkompetisi dengan rekan-rekannya.
Antusiasme peserta malam itu, di akhir sesiku dalam rangka merayakan Lustrum 2 CHRP, program sertifikasi untuk menjadi HR Profesional, masih terus membara. Pembicaraan seputar topik di sesi itu masih berlanjut, karena itu tulisan ini juga akan masih berlanjut. Nantikan… !
“I always like to be in the presence of people who are good at and love their jobs, Irrespective of their jobs.” (Geoff Dyer)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...