Posted on September 2nd, 2016
“We believe that when the right talent meets the right opportunity in a company with the right philosophy, amazing transformation can happen.” (Reid Hoffman)
MENGAPA MEREKA DITERIMA? Kalau kita jujur, banyak sekali pembahasan tentang millenials yang justru memojokkan mereka. Nilai atau label yang ditempelkan pada mereka sering negatif, hanya karena tidak sesuai dengan kacamata generasi pendahulu.
Tapi mereka itu sudah hadir di tengah kita. Hasil didikan generasi pendahulu di perguruan tinggi. Dan mereka sekarang memasuki dunia kerja karena diundang oleh generasi pendahulu. Kalau memang semua label negatif itu tidak sesuai dengan persyaratan kerja, mengapa mereka diterima?
MENGAPA? Sajian kopi dan selfie ini sengaja untuk menghangatkan diskusi dalam pertemuan HR Directors Forum baru-baru ini.

Mereka Hadir Demi Masa Depan
Cerita pendek yang dibagi Joseph Folkman di Forbes edisi 6 Juni 2016 cukup menggelitik. Ketika mendengarkan sebuah presentasi yang memaparkan tentang karakteristik millennials yang terlalu sering kita dengarkan, seorang millenials yang hadir berdiri dan berkata dengan lantang:
“I’m so tired of hearing this garbage about Millennials and none of this is true!”
Hadirin pun menyambutnya dengan tepuk tangan menggemuruh.
Sementara itu, Folkman juga beruntung mendapat kesempatan untuk menganalisa situasi sebuah perusahaan yang 43% karyawannya ingin keluar (global norm 28%)
Ada 5 (lima) pertanyaan/pernyataan yang diajukan yang bisa membuat semua kita berpikir ulang tentang Millennials:
Dalam survey kepada 1.000 orang (428 diantaranya millennials), atas pernyataan:
1) Kemungkinan meninggalkan job-mu saat ini, ternyata yang menjawab YA adalah: Millennials 51%; Gen X 51%; Boomers 39%.
2) Mereka memerlukan feed-back berkala, yang menjawab YA: Millennials 69% dan yang lainnya 53%.
Senang Dipuji dan Dihargai
3) Apakah mereka merasa tidak aman dan memerlukan pujian dan penghargaan, yang menjawab YA 66% dari total populasi, mereka memerlukan lebih banyak lagi pujian dan penghargaan.
4) Apakah mereka lebih outspoken, maka jawaban mereka: Saya cenderung speak-up kalau ada sesuatu yang ingin saya katakan: 81% Millennials 85% Gen X 90% Boomers yang setuju. Walaupun demikian, Millenials cenderung lebih berhati-hati.
5) Atas pernyataan: Saya sering berkeinginan mencoba pendekatan-pendekatan baru atau yang belum terbukti bila hasilnya menjanjikan, 85% Millennials setuju dan lainnya 88%.
6) Atas pernyataan: Saya cenderung berpikir “outside the box” dan tidak konvensional, jawabannya: 61% Millennials dan 68% lainnya mengatakan setuju.
Paparan ini tidak dapat kita generalisir, tapi sedikitnya bisa memberikan kita indikasi bahwa ada karakteristik tertentu yang dijadikan label yang melekat pada Millennials, ternyata juga ada pada generasi lainnya.
Namun demikian ada keunikan Millennials yang banyak ingin memulai bisnis sendiri. Kekuatan ini barangkali perlu dimaksimalkan bila mereka bergabung dengan organisasi kita, misalnya dengan memberikan mereka kesempatan. Simak juga tulisan lalu tentang “Disruptive HR Mindset“.
Topik yang serius ini juga menjadi bahasan menarik dalam pertemuan HR Directors Forum baru-baru ini. Tanggung jawab tim ini adalah mempersiapkan para Millennials ini untuk menjadi pimpinan masa depan di organisasi masing-masing.

Keinginan Millennials
Dari Survey Gallup terakhirpun kita mencermati bahwa keinginan mereka dalam organisasipun tidak muluk-muluk. Mereka mengharapkan dari manager mereka:
Sementara itu top 5 yang paling diinginkan oleh mereka adalah:
Menyimak daftar tersebut, tidak ada yang berlebihan. Semua karyawan, apapun usia atau generasinya, di manapun dia di dalam organisasi, daftar tersebut juga menjadi keinginan mereka.
Kalau kita sudah paham tentang karakteristik Millennials, kita tahu tentang kapasitas mereka, yang semuanya itu diperlukan untuk pekerjaan tertentu di perusahaan, masihkah kita enggan untuk memperkerjakan Millennials? Seharusnya kita bangga sama Millennials dan siapkan mereka sebagai pengganti para leader yang ada.
“First get the right people on the bus, the wrong people off the bus, and the right people in the right seats, and then they can figure out where to drive it.” (Jim Collins, Good to Great)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...
Thanks Pak Josef to give these tips to have a better communication between generations
Terima kasih Sutjipto, semoga semua kita membuka diri untuk mencari pendekatan terbaik lintas generasi. Salam