Generasi Harapan Masa Depan

Posted on March 27th, 2018

“The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” (Alvin Toffler)

HOPE. Kata ini sengaja saya tempatkan di sini, setelah sebelumnya saya tempatkan kata “Disruption”. Betapa tidak, para mahasiswa-mahasiswi di Universitas Multi Media yang mengundang saya untuk berbagi pengalaman, juga memilih kata itu dalam topik: “Pengelolaan Sumber Daya Manusia di Era Digital & Disruption”.

Karena itu saya merasa perlu untuk mengajukan pertanyaan: “Sebetulnya siapa yang disrupted? Bukankah kalian bahagia, karena dunia digital adalah dunia kalian, anak-anak zaman now?”

Pertanyaan ini untuk menjembatani para mahasiswa ini untuk melihat HARAPAN di balik hadirnya teknologi terkini dan di masa mendatang. Mereka dilahirkan di zaman di mana teknologi bertemu dengan Manusia yang mampu menggunakannya secara tepat, demi menciptakan disruption? Bukan! menciptakan HARAPAN era berikutnya lagi.

27 Maret 2018_Generasi Harapan Masa Depan1

Transformasi Era Digital

Sebuah pertanyaan tajam dari seorang peserta: “Di era digital ini, bagaimana suatu perusahaan memutuskan antara menggunakan mesin dan Manusia?”

Sebagai ilustrasi mereka, saya putarkan sebuah video pendek tentang transformasi, yang menggambarkan betapa dasyatnya dampak teknologi, namun perlu disadari: Di dunia dimana semuanya tersambungkan (connected), semua sama-sama meraih kinerja gemilang, masih ada HARAPAN terakhir di pundak Manusia, termasuk Anda semua yang hadir hari ini. Karena masih banyak hal yang tidak tergantikan oleh mesin. Sebut saja: kreativitas, values, etika, berpikir, menemukan insight, dan lain-lain. Bahkan untuk memprogram mesin barupun perlu Manusia.

Jadi teknologi akan mengambil porsi untuk membantu kinerja kita, meningkatkan efisiensi, mempercepat proses, sementara itu Manusia akan terus diberdayakan untuk bidang yang belum bisa digantikan mesin?

27 Maret 2018_Generasi Harapan Masa Depan2

Ini Duniamu, Generasi Zaman Now

Saat saya sharing, di sebuah rumah sekitar sana ada seorang anak lulusan Marketing sedang menjalankan program magang di dunia maya. Saya menyebutnya: “Virtual Internship”. Maksudnya?

Ada sebuah perusahaan di luar negeri, yang menerima permintaannya untuk internship dengan tugas utama adalah “Content Creator”. Selain belajar tentang  ragam penggunaan blog dan berbagai social media, dia juga ditugaskan untuk harus menulis 1-3 artikel per minggu untuk postingan di blog, dan 30 postingan untuk FB Twitter dan Instagram, sesuai dengan tema yang dipilih. Setiap hari dia duduk santai di teras rumahnya atau di kafe untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut. Menyenangkan, bukan?

Atau di dekat sana, hanya beberapa kilometer dari kampusnya, ada perusahaan multinasional yang memproses penerimaan Management Trainee, dengan Gamification, dalam empat level. Level 1 apply online, Level 2 Online games assessment, asli main game. Level 3 Online Digital Interview, di mana mereka harus membuat video mempresentasikan topik tertentu yang kemudian diupload ke dalam system, dan level 4, Discovery Center. Jujur saja, kalau saya ikutan proses ini, mungkin saya sudah kalah di level 2, karena kurang trampil bermain game, dibanding mahasiswa yang hadir.

27 Maret 2018_Generasi Harapan Masa Depan3

Brand Millenial

Bisa dimengerti bahwa informasi menyebar sangat cepat di zaman now. Berbagai survey, tulisan, diskusi tentang millennial yang katanya tidak tahan berlama-lama bekerja di sebuah tempat tertentu, juga turut memunculkan pertanyaan di pikiran generasi penerus ini.

Ilustrasi yang saya berikan di atas mengedepankan kenyamanan kerja berkat hadirnya teknologi. Namun demikian, mereka harus berkompetisi.

Pertanyaan untuk refleksi, apa keunikan diri sehingga punya peluang untuk bisa lebih unggul dibandingkan dengan yang lain?

Latihan membuat Personal Branding juga saya tawarkan. Apakah opsinya hanya satu? Tidak! Buka diri, persiapkan diri untuk berbagai kemungkinan opsi berkarya. Saya turut senang bahwa butir tersebut berhasil mereka tangkap dan disajikan di blognya: http://www.umn.ac.id/executive-sharing-just-better-everyday/

“Keep all option open! Jangan mematok diri bekerja pada bidang itu saja, jika ada kesempatan baik di masa depan, kita bisa melebarkan sayap untuk berkarya di bidang lain. So, Just be yourself, but better everyday! Menjadi diri sendiri saja tidaklah cukup, kita harus memastikan diri kita berkembang ke arah yang semakin baik setiap harinya,” pesan Josef saat ditemui di Lecture Theatre UMN pada Jumat (16/3/2018).

Berbagai Komen di Sosmed

Barangkali kesempatan untuk tanya jawab kurang banyak, masih ada lagi pertanyaan, permintaan input atau bahkan komen yang masih saya baca di social media peserta, dalam beberapa hari kemudian. Saya petik beberapa di antaranya:

“Seseorang yang sangat sederhana yang kini menjadi sosok yang saya kagumi…… Sekarang saya mengerti, menjadi seorang pemimpin tidak harus sempurna, cukup menjadi diri sendiri. Semoga kelak saya bisa mengikuti jejak karier seperti Bapak Joseph, Amin.” (@vincentiusardi)

“What an incredible lecture you’ve brought to us. Thank you so much Sir.(@kwanhikwan)

Antusiasme mereka untuk belajar sangat saya apresiasi. Motivasi untuk menyimak implementasi dari ilmu yang sedang mereka pelajari, akan terus mengasah keingintahuan (curiousity) yang akan menunjang kehausan mereka untuk membuka diri dan belajar, agar bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari: Just Be Yourself, But Better Everyday, demikian motto, yang senantiasa menjadi panduan hidupku.

“Learn as much as you can while you are young, since life becomes too busy later.” (Dana Stewart Scott)

Catatan: Karena Jumat 30 Maret Hari Libur, tidak ada postingan di blog. Postingan baru akan hadir kembali, Selasa 3 April 2018.

Selain hadir di blog: https://www.josefbataona.com/

Saya juga bisa ditemui di:

Bookmark and Share

2 Responses to Generasi Harapan Masa Depan

  1. Santi Sumiyati says:

    Terima kasih Pak Josef, untuk mengingatkan kami, walaupun bukan termasuk generasi milenial, untuk tidak berhenti belajar ya Pak. Memang tidak nyaman untuk mengubah paradigma atau kebiasaan…tapi tetap harus dicoba ya Pak kalau hasilnya akan lebih baik. Terima kasih Pak Josef.

    • josef josef says:

      Terima kasih Santi, kita belajar selama hayat masih dikandung badan, karena berbagai perubahan kedepan perlu penanganan yang boleh jadi beda dengan pendekatan saat ini. Terus belajar to be better everyday. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Sutjipto untuk menggarisbawahi pentingnya menjaga kesehatan. Biasanya kita menyadari pentingnya...

josef:
Terima kasih Sutjipto, semua itu perlu prsiapan, termasuk persiapan mental untuk memasuki dunia yang boleh...

josef:
Terima kasih Koekoeh, inilah maknanya berbagi siapa tahu ada yang bisa dimanfaatkan oleh teman lainnya. Yang...

Sutjipto Budiman:
Sangat setuju, kalau kita tidak sehat bagaimana mau produktif. Kalau pun sudah punya uang, uang itu...

Sutjipto Budiman:
Selamat menjalani kehidupan baru Pak. Sangat berkesan dan memberi pelajaran bahwa Bapak...


Recent Post

  • Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu
  • Setelah Baju Itu Kutanggalkan
  • KESEHATAN: Harta Tak Ternilai
  • Perhatian Kecil Berdampak Besar
  • Kesan Positif Yang Ditinggalkan
  • Bahagia di Tengah Harmoni
  • Keberagaman Talent Ciptakan Sukses
  • Tetangga Lapar Tanggung Jawab Kita
  • Bangga dengan Pekerjaanku
  • Saatnya Mengisi Baterei