Posted on January 15th, 2025
“Leadership is much more an art, a belief, a condition of the heart, than a set of things to do. The visible signs of artful leadership are expressed, ultimately, in its practice.” (Max Depree)
Dalam proses penjurian Indonesia Best Companies in Creating Leaders from Within 2025 yang diselenggarakan oleh Majalah SWA dan NBO, kami kembali diingatkan pada satu hal mendasar:
Kepemimpinan hari ini bukan lagi isu HR semata, melainkan agenda bisnis yang menentukan masa depan organisasi.
Dunia bergerak semakin cepat dan sering kali tidak terduga. Cara kerja lama, bahkan yang dulu terbukti berhasil, tidak selalu relevan hari ini. Di tengah situasi seperti ini, kemampuan perusahaan untuk menyiapkan pemimpin dari dalam organisasinya sendiri menjadi penentu keberlanjutan.

Pentingnya Kesiapan Pemimpin
Dari berbagai perusahaan yang dinilai, terlihat pola yang cukup konsisten. Banyak organisasi memiliki strategi yang baik, bahkan sangat baik. Namun hanya pemimpin yang siap menghadapi perubahan yang berhasil mengeksekusi strategi tersebut.
Hari ini, kecepatan mengambil keputusan sering kali lebih penting daripada menunggu keputusan yang sempurna. Ketahanan mental lebih dibutuhkan dibanding sekadar kontrol. Dan kemampuan beradaptasi jauh lebih bernilai daripada mempertahankan stabilitas semu.
Di sinilah peran para middle leaders menjadi sangat krusial. Mereka bukan sekadar penerus kebijakan, tetapi justru penggerak utama transformasi. Berikut foto Dewan Juri bersama pemateri.

Dari Pelatihan ke Budaya Memimpin
Hal menarik lain yang ditemui adalah pergeseran cara pandang terhadap pengembangan pemimpin.
Perusahaan-perusahaan unggulan tidak lagi bertanya, “Program apa yang harus kita buat?” tetapi “Lingkungan seperti apa yang kita bangun agar pemimpin bisa bertumbuh?”
Pengembangan leader dilakukan melalui:
Leadership tidak lagi dibentuk di ruang kelas, tetapi di tengah pekerjaan sehari-hari. Dewan juri bersama beberapa penerima award.

Coaching: Percakapan yang Menghidupkan Potensi
Satu benang merah yang sangat kuat adalah meningkatnya kesadaran akan pentingnya coaching. Bukan sebagai program eksklusif, tetapi sebagai cara berinteraksi sehari-hari antara leader dan tim.
Leader tidak lagi dituntut untuk selalu punya jawaban, melainkan mampu:
Pemimpin yang baik hari ini adalah mereka yang mampu melahirkan banyak pemimpin lain, bukan yang membuat timnya bergantung.
Transparansi Talent: Kejelasan yang Memberdayakan
Sebagai dewan juri kami juga melihat praktik yang semakin dewasa dalam pengelolaan talent. Di beberapa perusahaan, karyawan tahu mereka sedang dipersiapkan untuk peran apa, siapa yang akan mereka gantikan, dan apa rencana pengembangan yang perlu dijalani.
Bahkan, rencana ini sering kali dirancang bersama. Transparansi semacam ini menciptakan rasa percaya, kejelasan arah, dan komitmen yang lebih kuat terhadap proses pengembangan diri. Foto bersama beberapa teman di lokasi

Teknologi dan AI: Alat Bantu, Bukan Tujuan
Teknologi, termasuk AI, semakin banyak dimanfaatkan untuk memetakan talent dan menemukan potensi tersembunyi. Ini langkah yang tepat. Namun perusahaan-perusahaan terbaik paham satu hal penting:
AI tidak menggantikan kepemimpinan.
Teknologi membantu kita berpikir lebih cepat dan melihat pola lebih jelas, tetapi keputusan tetap membutuhkan empati, nilai, dan keberanian manusia.
Belajar dari Kepemimpinan yang Berdampak
Satu contoh yang mengesankan bagi adalah bagaimana Amartha mengaitkan pengembangan pemimpin dengan dampak sosial. Pemberdayaan ibu-ibu di pedesaan bukan hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga membentuk pemimpin dengan empati, growth mindset, dan kemampuan digital.
Di sini kita belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal hasil bisnis, tetapi juga tentang kontribusi bagi sesama.
Legacy
Dari seluruh proses penjurian ini, saya menarik satu kesimpulan pribadi:
Organisasi tidak pernah kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kekurangan pemimpin yang siap dan mau bertumbuh bersama orang lain.
Mengembangkan pemimpin dari dalam bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk mempercayai proses. Namun di situlah legacy sebuah organisasi dibangun.
Pada akhirnya, setiap perusahaan perlu bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kita sedang sibuk mengelola bisnis hari ini, atau sungguh-sungguh menyiapkan pemimpin untuk masa depan?
Karena masa depan organisasi, cepat atau lambat, akan ditentukan oleh jawaban atas pertanyaan itu.
“The things you do for yourself are gone when you are gone, but the things you do for others remain as your legacy.” (Unknown)
josef:
Terima kasih sama2 Helda, kebersamaan kita melangkah dalam perjalanan karier membuahkan banyak kisah menarik....
Helda:
Selalu hangat dan beri insprirasi setiap cerita yang bapak buat…hal hal jecil jd sangat dalam dan sangat...
josef:
Terima kasih Emmi, banyak cerita yang saya hadirkan, merupakan cerita kita bersama. Saya sengaja merangkumnya...
Emmi:
Baca tulisan Pak Jos itu berasa lagi ngobrol dalam 1 ruangan, face to face. Temen2 yg pernah ngalamin pasti...
josef:
Terima kasih Cita. Satu dua menit waktumu untuk mengunjungi blog dan menyimak tulisan disana sangat berarti....