Posted on November 7th, 2017
“The real power of a leader is in the number of minds he can reach, hearts he can touch, souls he can move, and lives he can change.” (Matshona Dhliwayo)
DI HARI SUMPAH PEMUDA, aku memilih berbagi pengalaman kepada generasi muda di Program Certified Human Resources Professional (CHRP) Atma Jaya Batch 40. Sejak 11 tahun lalu program ini diluncurkan, sudah memberikan kesempatan kepada sekitar 2.000 peserta yang berjuang untuk memajukan Sumber Daya Manusia di Indonesia.
Mereka mendapatkan pemaparan konsep maupun sharing praktek nyata di lapangan dari praktisi Human Resources. Bersama rekan-rekan fasilitator di program ini, kami menyadari bahwa masa depan organisasi manapun sangat bergantung pada manusia yang ada di dalamnya. Kita semua berpacu dengan waktu, menghadapi berbagai tantangan perubahan yang berjalan begitu cepat.

Membawa Materi Program ke Dunia Nyata
Di permukaan, saya sedang membagi pengalaman kepada peserta. Namun dalam kenyataannya, saya sedang belajar bersama mereka, terutama kalau mereka aktif mengajukan pertanyaan. Dan salah seorang dari mereka memang menyuarakan ini:
“Budaya yang perlu diubah harus dari atas. Tapi mereka yang di atas berperilaku tidak sebagaimana mestinya. Bila mau berubah mulainya dari mana?”
Ada dua hal penting yang dikemukakan penanya: tentang budaya dan kalau ada masalah tentang budaya bagaimana memperbaikinya.
Budaya merupakan hasil interaksi setiap hari oleh para pelaku dalam organisasi. Tentu saja semakin tinggi posisinya, akan semakin dominan pengaruh perilakunya terhadap budaya organisasi. Contoh perilakunya, baik atau buruk cepat atau lambat akan ditiru bawahannya, atau setidaknya dikenali oleh bawahannya. Bagi yang kuat mentalnya, tentu tidak akan dengan serta merta meniru yang tidak baik.
Idealnya, perilaku semua yang terlibat sejalan dengan komitmen yang dicantumkan pada Values yang dianut perusahaan tersebut. Kalau value-nya menghendaki adanya “respect” semua akan memperlihatkan perilaku tersebut kepada sesama, secara vertical atau horizontal, dan juga kepada para pihak di luar perusahaan tersebut.
Kenyataannya Berbeda
Sering terjadi, dunia nyata berbeda dengan yang diidamkan, seperti yang ditanyakan oleh peserta tersebut. Perilaku kebanyakan petingginya tidak sejalan dengan Values yang dianut oleh perusahaan. Lalu apa yang harus dilakukan, bila ada kebutuhan untuk mengubahnya?
Mungkin perlu dipertanyakan, apakah para petinggi itu menyadari perbuatan mereka? Atau karena pengaruh kekuasaan yang mereka punyai sesuai jabatan di organisasi, mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan sudah benar?
Pertanyaan berikutnya, apakah mereka sudah mendapatkan feedback dari bawahannya, atau pihak lain, dan apakah mereka mendengar?
Atau mungkin lingkungannya tidak cukup kondusif sehingga bawahan pun tidak berani atau takut memberikan feedback. Atau mungkin sudah pernah dilakukan, tapi karena tidak digubris, akhirnya mereka menjadi apatis.
Bila sudah demikian situasinya, maka intervensi dari pihak yang lebih independen (external ?) dan yang bisa didengar oleh para petinggi tersebut akan bisa menumbuhkan harapan adanya perubahan. Sementara itu yang bisa dilakukan adalah dalam lingkaran sendiri bila Anda juga adalah seorang leader, maka hendaknya menyadari secara penuh bahwa anak buahmu atau anggota timmu sedang mencermati perilakumu setiap hari, apakah sebagai leader bisa dijadikan panutan.
Kesempatan ini juga saya gunakan untuk memberikan hadiah buku ‘#CURHATSTAF: Seni Mendengarkan bagi Para Pemimpin’ kepada tiga peserta. Pesan dari buku tersebut, semoga mereka bisa belajar untuk menjadi pemimpin yang mau meluangkan waktu untuk mendengarkan timnya.
Maka tidak berlebihan ketika salah seorang peserta memberitahukanku, ketika berjalan bersama menuju tempat parkir: “Saya ingin menyeberang ke mall di samping sana untuk membeli buku tersebut untuk saya hadiahkan kepada bosku.”

Menariknya juga, dalam seminggu itu, setidaknya saya mendapatkan permintaan tanda tangan di buku tersebut untuk hadiah pemimpinya, dan pesannya adalah: “Terima kasih karena sudah menjadi role model.” Sementara itu, kawan yang lain menuliskan pesan di buku itu untuk mantan bosnya: “A leader who always try to listen to his team …. That what I remember about you.”
Mereka justru menggaris-bawahi sisi positif seorang leader berdasarkan pengalaman mereka sendiri, yang juga merupakan idaman banyak karyawan.
“Leadership is practiced not so much in words as in attitude and actions.” (Harold S. Geneen)
josef:
Terima kasih sama2 Helda, kebersamaan kita melangkah dalam perjalanan karier membuahkan banyak kisah menarik....
Helda:
Selalu hangat dan beri insprirasi setiap cerita yang bapak buat…hal hal jecil jd sangat dalam dan sangat...
josef:
Terima kasih Emmi, banyak cerita yang saya hadirkan, merupakan cerita kita bersama. Saya sengaja merangkumnya...
Emmi:
Baca tulisan Pak Jos itu berasa lagi ngobrol dalam 1 ruangan, face to face. Temen2 yg pernah ngalamin pasti...
josef:
Terima kasih Cita. Satu dua menit waktumu untuk mengunjungi blog dan menyimak tulisan disana sangat berarti....
Terima kasih Pak Josef untuk menjadi leader di CHR : mau mendengar, memberi motivasi, mendorong pengembangan anak buah, mengedepankan tindakan nyata dibanding hanya kata-kata, selalu mengajak berpikiran positif dan menjadi panutan bagi kami semua 🙂
Terima kasih Ratih, kita semua masih dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik. Dengan menginspirasi yang lain untuk berjalan bersama, kita jadinya tidak sendirian, punya kawan. Ini yang membuat perjalanan itu menyenangkan.