Percaya Pada Diri Sendiri

Posted on January 15th, 2021

“The path to empowerment leadership doesn’t begin when other people start to trust you. It begins when you start to trust yourself.” (Frances X. Frei and Anne Morriss)

RESOLUSI menjadi kata yang sangat populer di awal tahun ini. Banyak orang sibuk dengan membuat rencana untuk dikerjakan atau yang dicapai di tahun 2021. Satu hal yang perlu kita cermati benar, resolusi ini hendaknya bukan sekedar “wish list” tapi benar-benar daftar dengan komitmen untuk dicapai. Seberapa besar atau ambisius target hendak dirancang? Dari mana memulainya?

Mulailah dengan percaya pada diri sendiri, percaya bahwa saya bisa, bahwa saya punya kemampuan, dan punya potensi yang bisa diberdayakan. Dari album Jazz for Reading, alunan musik There will never be Another You, oleh Gerald McCarthy, seakan ingin memberikan konfirmasi siapa dirimu sesungguhnya, unik tak ada duanya.

 

Kemampuan dan Potensi Diri

Pada kesempatan ini, mari kita melihat kemampuan dan potensi diri kita tanpa  menggunakan alat test yang rumit. Selagi kita masih di awal tahun, luangkan waktu untuk menuliskan apa yang sudah dikerjakan dan hasil yang sudah diraih selama tahun 2020. Kemampuan diri apa yang diberdayakan untuk meraih hasil tersebut. Mengingat tahun 2020 juga merupakan tahun yang unik, baru kali ini dialami, kita mungkin telah memaksimalkan kemampuan diri atau menggali potensi diri yang sebelumnya belum kita berdayakan. Berikan catatan disamping hasil yang diraih tersebut. Jangan lupa untuk menandai di daftarmu, karya pelayanan dalam membantu orang lain.

Masukkan juga dalam daftar itu, pembelajaran yang didapat dari berbagai kegiatan tersebut, dari uji coba kegiatan dan kemampuan baru, atau juga dari berbagai peluang dengan hasil yang belum maskimal. Dan daftar tersebut hendaknya mencakup hal yang kecil maupun besar.

Dalam berbagai kesempatan, saya mengusulkan untuk membangun kebiasaan dengan menuliskan setiap hari, paling tidak tiga hal yang patut syukuri. Inipun bisa menjadi sumber untuk melengkapi daftar diatas.

Setelah selesai membuat daftar tersebut, tanyakan pada diri sendiri, apa reaksimu atas hasil yang diraih? Saya harapkan ungkapan berikut ini yang muncul:

Bangga! Ternyata saya bisa! Ada potensi diri yang barusan digali! Dan ternyata saya SURVIVE di 2020 dan siap melangkah ke 2021 dengan penuh percaya diri! Sayapun senyum bahagia, terutama karena masih ada HARAPAN hadir di depan kita.

 

Trustworthy Person for Trustworthy Leader

Menarik juga untuk menyimak sebuah tulisan di HBR, May 2020 oleh Frances X. Frei dan Anne Morriss, dengan judul Begin with Trust.

Mulailah dengan mengenali diri, respek pada diri sendiri, percaya pada diri sendiri dan empower diri. Ini akan menjadi fondasi yang kokoh saat mempersiapkan diri untuk menjadi seorang leader. Dan banyak dari kita yang juga percaya bahwa menjadi trustworthy person (pribadi yang layak dipercaya) sudah cukup modal untuk menjadi trustworthy leader.

Ternyata menurut Frances X. Frei dan Anne Morriss, dalam membangun trust, hendaknya mempertimbangkan Leadership dari perspektif yang berbeda. Dalam Traditional Leadership, semua narasi adalah tentang anda: visi dan strategimu; kemampuanmu mengatasi berbagai kesulitan dan memimpin team; tentang talentamu, karismamu; momen heroik penuh keberanian dan instingmu.

Tetapi leadership itu sebetulnya berkaitan dengan empowering other people, sebagai bagian/hasil dari kehadiranmu, sedemikian rupa sehingga dampak kepemimpinanmu berlanjut walau anda sudah tidak ada lagi. Tugasmu sebagai leader adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan semua anggota team bisa mengembangkan dan mewujudkan kemampuannya, disaat anda masih memimpin atau sudah tidak ada lagi. Ini yang disebut “Empowerment Leadership.”

Tiga TRUST Driver

Ada tiga driver utama dalam membangun TRUST:

  1. Authenticity: Orang cenderung mempercayaimu kalau mereka percaya bahwa mereka berinteraksi dengan dirimu yang sesungguhnya, tak ada agenda tersembunyi, tak bersandiwara.
  2. Logic: kalau mereka mempercayai judgement dan kompetensimu
  3. Empathy: kalau mereka merasa bahwa anda peduli pada mereka, kepentingan mereka terwakili.

Trust itu perlu diraih, dan dalam meraihnya pertimbangkan untuk fokus pada ketiga driver tersebut. Bila trust itu hilang, kita bisa menelusurinya dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut. Kita ambil sebuah contoh. Saat pandemi kita memberikan paparan kepada anggota team kita tentang dampak finansial terhadap perusahaan kita, sehingga pengketatan perlu dilakukan. Apa reaksi mereka? Beragam. Sebut saja sebagian mempertanyakan kredibilitas informasi yang diberikan. Bagaimana saya menelusuri ketidakpercayaan atau sikap skeptik team atas apa yang saya paparkan?

  1. Bila sikap skeptik itu didasari penilaian bahwa saya tidak tampil seperti diriku apa adanya, atau paparan saya terasa tidak utuh, ada yang disembunyikan, maka ini merupakan authenticity problem.
  2. Bila paparan saya terkesan lebih mementingkan diri sendiri sebagai pemimpin atau kepentingan perusahaan, kurang mempertimbangkan kepentingan team, maka ini merupakan empathy problem
  3. Bila itu berkaitan dengan keraguan atas kemampuanku untuk eksekusi atau empower team untuk meraih hasil, maka ini merupakan logic problem.

Latihan sederhana ini bisa membantu kita saat kita ingin membangun atau memperkuat Trustworthy standing kita, atau juga saat memudar, dimana kita bisa menelusuri untuk mengambil langkah yang tepat.

Kita sudah  melangkah  memasuki 2021 secara lebih konfiden, karena selalu ada ada harapan, disamping keyakinan bahwa baik sebagai individu atau sebagai leader, saya BISA.

“Leadership really isn’t about you. It’s about empowering other people as a result of your presence, and about making sure that the impact of your leadership continues into your absence.” (Frances X. Frei and Anne Morriss)

Bookmark and Share

2 Responses to Percaya Pada Diri Sendiri

  1. kelana says:

    halo pak josef, bagaimana cara upgrade rasa PD, saya tidak ragu dengan kemampuan tapi terkadang tidak mau membalas argumen orang lain yang menurut saya kurang tepat.. jadi kelihatannya hanya menurut2 saja…

    makasih pak

    • josef josef says:

      Terima kasih tanggapan Kelana. Tidak mau membalas argumen juga merupakan pilihan. Namun kalau argumen diperlukan untuk pengambilan keputusan, maka “menurut” artinya mau mengikuti kemauan pihak lain, namun harus tulus, tidak merasa terpaksa. Pilihan lain yang bisa dilakukan adalah, belajar menguasai materi yang diperdebatkan, atau belajar teknik untuk memenangkan argumentasi. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ringga, kita bisa belajar dari mana saja, asalkan kita terus membuka diri dan punya kemauan untuk...

Ringga Arie Suryadi:
Bagus sekali pak josef saya tambahkan link video Dave Ulrich agar menambah ilmu tentang HR From...

josef:
Terima kasih Precelia untuk tawarannya, namun saya tidak akan mengambil kesempatan ini, karena alasan pribadi....

Precelia:
Selamat malam Pak Josef, saya Precelia dari PasarTrainer. Sebelumnya, mohon maaf jika saya message bapak...

Sofia:
sehat sehat dan sukses juga buat mba Fiona..


Recent Post

  • Mengukir Positive Legacy
  • Coaching for Student’s Resilience
  • Mengasah Intuisi Menginterpretasi Simbol
  • Jeli Saat Menjadi Andalan
  • Banyak Cara Saling Menyapa
  • Makanlah dari Rezeki Milikmu
  • Percaya Pada Diri Sendiri
  • Saya Mengaku Salah
  • Advis Utama Seorang CEO: Be Yourself
  • Building Resilience with Growth Mindset