Posted on March 10th, 2020
“Working lean in startup mode should not end when your business has moved to the next stage in its lifecycle.” (Sue Vestri)
Belajar dari sumbernya. Awalnya memang saya diminta untuk berbagi ke team FTHR sambil diskusi tentang Growth Mindset. Setelah dipikir-pikir, ada sebuah sumber dimana kita bisa belajar Growth Mindset dalam praktek keseharian. Cerita perjuangan dan sukses penghuni Transformer Center, adalah contoh nyata, termasuk didalamnya bagaimana mereka membangun bisnis dari nol. Mereka kebanyakan adalah lulusan SMA. Saya ulangi lulusan Sekolah Menengah Atas SPI (Sekolah Selamat Pagi Indonesia).

Belajar Leadership sejak dini
Mengapa lulusan SMA penting saya garis-bawahi, karena beberapa hal berikut ini:
Panggilan Profesional untuk Perbanyak Leader
Sejak kapan seseorang belajar menjadi Leader? Banyak yang berpikir, nanti saja kalau saya sudah berkesempatan menjadi leader. Itu sama saja kita melamar menjadi juru masak, dan saat wawancara kita mengutarakan bahwa saya akan belajar memasak begitu saya diterima sebagai juru masak.
Karena itu anak-anak SMA yang mulai dipercayakan untuk tugas memimpin tim kecil, mereka sungguh diberikan empowerment oleh atasan mereka, agar mereka bisa belajar berperan sebagai pemimpin mandiri. Dan mereka mempunyai tolok ukur dalam pengembangan leader dengan lima tingkatan: Thinker, Arranger, Leader, Leader Maker dan Leader Multiplicator.
Bahkan saat sharing, pa Julianto Ekaputra yang sering dipanggil dengan ko Jul, mengajak serta anak-anak muda yang masih sekolah atau yang sudah mengepalai Divisi usaha, untuk turut menjelaskan atau menjawabi pertanyaan peserta.

Belajar Bersama
Karena ini merupakan experiential learning, kami mendorong peserta untuk bisa mendapatkan insight dan pembelajaran yang bisa dibawa pulang dan diterapkan di tempat kerja atau kehidupan masing-masing.
Ada 8 pertanyaan yang kami diskusikan bersama, dan yang pertama sudah saya sajikan dalam posting lalu, yaitu kesan mereka dalam satu kata tentang budaya di Transformer Center. Kemudian peserta diajak untuk memotret Leadership di Transformer Center dan memformulasikan dalam satu kalimat. Masing-masing peserta membagi butir rekamannya ke group, didiskusikan, kemudian tiap group akan memilih dan membagi di pleno satu kalimat. Berikut laporan mereka:
Satu kalimat menggambarkan Leadership di Transformer Center
Demo Kreativitas
Dalam waktu yang sangat terbatas, semua peserta tidak ingin kehilangan tiap momen berharga. Antara sesi sore dan makan malam, hanya diberi kesempatan 20 menit istirahat. Apa yang terjadi sesudahnya? Mereka sudah siap dengan HP masing-masing untuk merekam berbagai atraksi dalam mengantar special dinner. Adik-adik disini merancang dengan tulus tapi kreatif, agar dinner kami sungguh berkesan. Parade untuk mengantar makanan pembuka sudah membuat takjub. Beberapa rekaman foto berikut bisa menjelaskan.

Kunci Sukses
Nampaknya kita tidak membutuhkan survey komprehensif untuk menandai kunci sukses di Transformer Center. Dari paparan singkat adik-adik yang memimpin unit usaha, sharing dari ko Jul, ataupun berbagai pengalaman dan pengamatan singkat peserta, peserta bisa menangkap hal-hal yang kiranya menjadi kunci sukses, yang saya sajikan dalam bentuk wordsalad sebagai berikut:

Pengalaman adik-adik di Transformer Center juga menggaris bawahi, bahwa dalam banyak situasi kita tidak bisa menunggu sampai semuanya siap. Dalam keterbatasan itu, kita bisa memutuskan apa yang bisa kita mulai, kemudian kita bisa belajar dan sempurnakan sambil jalan. Kalau semua mereka berada dalam gelombang mindset yang sama seperti itu, maka mereka akan juga saling membantu untuk meraih hasil bersama.
Dua hari rasanya tidak cukup. Namun sebagai eye-opener, kami telah merekam banyak hal yang akan dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk dibagikan kepada teman-teman dan sanak keluarga, dengan harapan mereka juga bisa belajar atau berkesempatan berkunjung dan mengalami sendiri situasi di Transformer Center. Apa oleh-oleh itu, simak posting berikutnya.
“If not us, who? If not now, when?” (John. F. Kennedy)
josef:
Terima kasih Uni, karena dua tahun itu singkat, saranku sudah mulai bersiap-siap dari sekarang kalau niatnya...
josef:
Terima kasih Rina, Dampak bagi orang lain harus diniatkan dan dilakukan secara konsisten. Dan dimulai dari...
Unie:
Setuju Pak Josef, masa purna bakti bukan titik akhir tapi adalah fase baru yg harus kita rencanakan dengan...
Rina Ismariati:
Sebagai bagian dari generasi yang masih sedang membangun perjalanan karier, saya merasa banyak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Sofia, semoga bermanfaat. Bagi juga inspirasinya kepada teman2 lainnya yang...