Start-up Mentality

Posted on March 10th, 2020

“Working lean in startup mode should not end when your business has moved to the next stage in its lifecycle.” (Sue Vestri)

Belajar dari sumbernya. Awalnya memang saya diminta untuk berbagi ke team FTHR sambil diskusi tentang Growth Mindset. Setelah dipikir-pikir, ada sebuah sumber dimana kita bisa belajar Growth Mindset dalam praktek keseharian. Cerita perjuangan dan sukses penghuni Transformer Center, adalah contoh nyata, termasuk didalamnya bagaimana mereka membangun bisnis dari nol. Mereka kebanyakan adalah lulusan SMA. Saya ulangi lulusan Sekolah Menengah Atas SPI (Sekolah Selamat Pagi Indonesia).

Belajar Leadership sejak dini

Mengapa lulusan SMA penting saya garis-bawahi, karena beberapa hal berikut ini:

  1. Kita banyak menemukan bahwa ijasa dan pengalaman masa lalu akan menentukan seseorang diterima di perusahaan dan ditempatkan di posisi penting. Disana, mereka yang lulusan SMA, masih beliah dipercayakan menjadi Kepala Divisi untuk menjalankan bisnis tertentu, yang mereka rancang dari awal, dari nol.
  2. Kita banyak bicara tentang start-up mentality: disini mereka kerjakan tanpa memberi label itu. Dan mereka memulainya dengan segala keterbatasan, tidak seperti normal rencana usaha yang matang sebelum memulai. Mereka belajar sejak duduk di kelas satu SMA, disamping kurikulum formal yang diwajibkan.
  3. Mereka disana sangat percaya bahwa kesempatan mereka untuk memasarkan bisnis mereka, tidak sebatas kota Batu, atau Jawa Timur. Bahkan bukan juga Indonesia saja. Scope mereka adalah globe.
  4. Mereka disana belajar untuk bisa menerima kondisi masa lalu, dilahirkan dari orang tua miskin, di lingkungan dimana seakan suram masa depan. Setelah mereka bisa menerima kenyataan ini, mereka ditempah untuk bangkit dan membangun mimpi besar, serta mengambil langkah untuk meraihnya. Slogan mereka: big dream, big hope, big spirit, big action, big success.
  5. Mereka dibekali berbagai ilmu, pengetahuan dan praktek untuk menjadi Valuable Person, dan untuk bisa mandiri setelah lulus. Selanjutnya mereka dipersiapkan untuk menjadi Valuable Leader sejak mereka masih di SMA.

Panggilan Profesional untuk Perbanyak Leader

Sejak kapan seseorang belajar menjadi Leader? Banyak yang berpikir, nanti saja kalau saya sudah berkesempatan menjadi leader. Itu sama saja kita melamar menjadi juru masak, dan saat wawancara kita mengutarakan bahwa saya akan belajar memasak begitu saya diterima sebagai juru masak.

Karena itu anak-anak SMA yang mulai dipercayakan untuk tugas memimpin tim kecil, mereka sungguh diberikan empowerment oleh atasan mereka, agar mereka bisa belajar berperan sebagai pemimpin mandiri. Dan mereka mempunyai tolok ukur dalam pengembangan leader dengan lima tingkatan: Thinker, Arranger, Leader, Leader Maker dan Leader Multiplicator.

Bahkan saat sharing, pa Julianto Ekaputra yang sering dipanggil dengan ko Jul, mengajak serta anak-anak muda yang masih sekolah atau yang sudah mengepalai Divisi usaha, untuk turut menjelaskan atau menjawabi pertanyaan peserta.

Belajar Bersama

Karena ini merupakan experiential learning, kami mendorong peserta untuk bisa mendapatkan insight dan pembelajaran yang bisa dibawa pulang dan diterapkan di tempat kerja atau kehidupan masing-masing.

Ada 8 pertanyaan yang kami diskusikan bersama, dan yang pertama sudah saya sajikan dalam posting lalu, yaitu kesan mereka dalam satu kata tentang budaya di Transformer Center. Kemudian peserta diajak untuk memotret Leadership di Transformer Center dan memformulasikan dalam satu kalimat. Masing-masing peserta membagi butir rekamannya ke group, didiskusikan, kemudian tiap group akan memilih dan membagi di pleno satu kalimat. Berikut laporan mereka:

Satu kalimat menggambarkan Leadership di Transformer Center

  1. Memimpin dengan hati, otak dan tindakan (heart, Mind and Action)
  2. Lead by example
  3. A leader is someone who is able to inspire, empower his/her people to reach a greater purpose through practicing empathy, compassion: Care for others more than themselves
  4. Pemimpin yang melayani
  5. Leaders, who help others to unleash their potential, that use Heart, Mind and action
  6. Take action

Demo Kreativitas

Dalam waktu yang sangat terbatas, semua peserta tidak ingin kehilangan tiap momen berharga. Antara sesi sore dan makan malam, hanya diberi kesempatan 20 menit istirahat. Apa yang terjadi sesudahnya? Mereka sudah siap dengan HP masing-masing untuk merekam berbagai atraksi dalam mengantar special dinner. Adik-adik disini  merancang dengan tulus tapi kreatif, agar dinner kami sungguh berkesan. Parade untuk mengantar makanan pembuka sudah membuat takjub. Beberapa rekaman foto berikut bisa menjelaskan.

Kunci Sukses

Nampaknya kita tidak membutuhkan survey komprehensif untuk menandai kunci sukses di Transformer Center. Dari paparan singkat  adik-adik yang memimpin unit usaha, sharing dari ko Jul, ataupun berbagai pengalaman dan pengamatan singkat peserta, peserta bisa menangkap hal-hal yang kiranya menjadi kunci sukses, yang saya sajikan dalam bentuk wordsalad sebagai berikut:

Pengalaman adik-adik di Transformer Center juga menggaris bawahi, bahwa dalam banyak situasi kita tidak bisa menunggu sampai semuanya siap. Dalam keterbatasan itu, kita bisa memutuskan apa yang bisa kita mulai, kemudian kita bisa belajar dan sempurnakan sambil jalan. Kalau semua mereka berada dalam gelombang mindset yang sama seperti itu, maka mereka akan juga saling membantu untuk meraih hasil bersama.

Dua hari rasanya tidak cukup. Namun sebagai eye-opener, kami telah merekam banyak hal yang akan dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk dibagikan kepada teman-teman dan sanak keluarga, dengan harapan mereka juga bisa belajar atau berkesempatan berkunjung dan mengalami sendiri situasi di Transformer Center. Apa oleh-oleh itu, simak posting berikutnya.

“If not us, who? If not now, when?” (John. F. Kennedy)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET