A New Horizon Beyond Corporate Life

Posted on May 15th, 2020

“Don’t simply retire from something; have something to retire to.” (Harry Emerson Fosdick)

PERTEMANAN profesional. Kebersamaan kami sudah lebih dari 20 tahun. Dan komunitas ini bernama HRDF. Kami sudah saling berbagi dan saling belajar. Saat ada anggota yang membutuhkan input profesional tentang HR, anggota lain siap membantu. Sering kami membawakan kasus-kasus nyata yang lagi trend untuk didiskusikan, baik dalam kelompok informaal sambil ngopi, ataupun dalam forum meeting rutin kami. Dan ternyata dengan keberagaman latarbelakang industri, diskusi kami menjadi semakin kaya. Sekali atau dua kali dalam setahun, kami juga merencanakan rekreasi bersama ke luar kota.

 

Beyond Corporate Life

Hari ini, pertemuan rutin kami mengambil tema: A New Horizon Beyond Corporate Life: Let’s Make our Rest of Life to Be the Best of our Life.

Semua anggota memang sangat peduli pada karyawan mereka dan merancang program untuk Persiapan Pensiun. Terkadang kita membuat asumsi bahwa bapak ibu yang hadir pada pertemuan pada hari ini (mereka adalah Head of HR di perushaan masing-masing), tentu sudah punya persiapan sendiri yang matang. Dengan sedikit mengesampingkan asumsi tersebut, tiga sahabat kita yang sudah lebih dahulu lulus dari korporasi mencoba membagi pengalaman tentang persiapan dan cara mereka menapaki kehidupan setelah tidak di korporasi lagi. Perlu disampaikan bahwa mereka bukannya jadi penganggur. Malah sebaliknya masih sangat sibuk. Sharing ini sengaja memberikan pengalaman nyata sebagai inspirasi bagi anggota, namun bisa juga berguna untuk tambahan input bilamana anggota menyelenggarakan program persiapan pensiun untuk karyawannya.

Fokus ketiga pembicara adalah:

  1. Society wellbeing: Community Service oleh bu Sandra.
    Banyak opportunity, tapi bagaimana saya tahu ada opportunity somewhere? Bagaimana mengoptimalkan network yang dibangun dalam perjalanan karier, untuk karya sosial setelah pensiun? Apakah hanya dengan memberi uang?
  2. Physical wellbeing: healthy life style, oleh bu Etty. Sejak kapan membangun healthy life style? Apa makna Healthy Life style itu sesungguhnya? Bagaimana memadukan Fit and healthy?
  3. Mental wellbeing: professional development (Learning about startup mindset) oleh bu Ripy. Ide untuk membangun own business. Apa sebetulnya mindset yang beda dari start up? Bisakah mengubah perilaku dilayani saat kita di top position jelang pensiun untuk berperilaku melayani saat memulai aktivitas/bisnis setelah pensiun? Bagaimana mengubah mindset sebagai karyawan penjadi pengusaha? Financial position seperti apa yang membuat kita konfiden untuk melangkah? Kapan memulai persiapan itu, apakah day one after corporate life?

 

Aspek penting merangkum ketiga hal tersebut adalah: kehidupan sesudah corporate life hendaknya tidak menjadi anti klimaks dalam kehidupan. Karena itu pertanyaan kunci yang harus diajukan kepada diri sendiri adalah: Apa sebenarnya tujuan hidupku? Apa yang sudah saya penuhi selagi aktif di korporasi, dan apa yang belum?

Dan kita mungkin akan surprise sendiri kalau menyadari bahwa ada banyak hal yang perlu dilakukan demi memenuhi tujuan hidup ini.

Saat paling tepat untuk Pensiun

Hanya seminggu kemudian, muncul sebuah artikel menarik di Inc. 10 Maret 2020, oleh Jessica Stillman, dengan judul yang menggelitik:

“The Best Time to Retire Is Never, According to a Stanford Psychologist and a Neuroscientist.”

Beberapa butir penting dari artikel itu:

  1. Interview dilakukan pada beberapa orang usia 70-100 tahun guna memahami apa yang berkontribusi pada life satisfaction mereka. Dan semua yang diinterview masih terus bekerja.
  2. Yang dimaksud terus bekerja adalah mempunyai meaningful activities, bukan sekedar menyibukkan diri.
  3. Perlu dipertimbangkan bahwa, berpindah dari corporate life yang penuh kesibukan, dan dengan peran yang penting disitu, akan sulit bagi seseorang untuk pensiun dan hanya bermain golf/tenis, atau ngurusin taman dan sesekali momong cucu saja.
  4. Ada Perusahaan  yang menyadari pentingnya ilmu dan pengalaman para senior seperti itu, dan berusaha untuk memberikan mereka kerja dengan ritme dan jam kerja yang lebih sesuai untuk usia mereka. Tapi belum banyak.
  5. Singkat kata, saran tulisan ini, temukan pekerjaan atau kegiatan, bukan sekedar pengisi waktu luang, tapi yang mempunyai makna dalam usia pensiun. Jessica bahkan menambahkan sebagai sub judul tulisannya: These experts insist you’ll be happier and live longer if you work forever (on a more relaxed schedule).

Beberapa rekaman kebersamaan.

Inspirasi dari Village of Longevity

Istilah Village of Longevity (Desa Umur Panjang) muncul bilamana kita menyebut  Desa Ogimi di Pulau Okinawa, yang lebih banyak penduduknya berusia lebih dari 100 tahun dan bahagia.

Merujuk pada Buku “Ikigai, Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang (versi terjemahan), Hector Garcia dan Francesc Miralles mengedepankan bahwa orang-orang Okinawa hidup dengan prinsip “ichariba” sebuah ekspresi lokal yang berarti: “Memperlakukan semua orang seperti saudara, bahkan jika anda belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.”

Ekspresi ini juga bermakna bahwa mereka merasa sebagai bagian dari sebuah komunitas. Menurut saya butir ini perlu digaris-bawahi, karena umumnya pembahasan tentang rahasia hidup sehat bahagia lebih banyak fokus pada diet dan olahraga. Selengkapnya simak tulisan di link ini: https://www.josefbataona.com/leadership-2/pemimpin-dengan-80fitchallenge/

 

Paparan diatas setidaknya memberikan kita gambaran bahwa kebahagiaan di kehidupan setelah corporate life, mempunyai dimensi yang sangat penting. Dan itu diperoleh bukan karena kita sudah pensiun, tapi karena kita memberikan perhatian aktivitas pada hal-hal yang bermakna bagi kehidupan kita, kehidupan masyarakat dan juga lingkungan hidup dimana kita berada.

Acara ini diselenggarakan awal Maret 2020. Pertemuan berikutnya sudah dijadualkan. Tapi situasi berubah, kita semua harus tinggal dan bekerja dari rumah. Apa yang dilakukan dengan jadual berikut ini? Ikuti tulisan selanjutnya.

“Before you speak, listen. Before you write, think. Before you spend, earn. Before you invest, investigate. Before you criticize, wait. Before you pray, forgive. Before you quit, try. Before you retire, save. Before you die, give.” (William A. Ward)

Catatan: Karena Hari Raya Lebaran, maka posting baru akan hadir Jumat 5 Juni 2020

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET