Waiting Time is Learning Moment

Posted on January 17th, 2020

“A wise man will make more opportunities than he finds.” (Francis Bacon)

BANYAK KESEMPATAN untuk belajar dan banyak juga hal yang tersedia untuk dipelajari. Apakah demikian? Ada teman yang menyatakan terlalu sibuk sehingga tak punya waktu untuk belajar. Bukankah ditengah kesibukan itu ada pembelajaran? Banyak sekali perjalanan dinas sehingga tak tersisa waktu untuk belajar demi pengembangan diri. Bukankah ada saat dimana kita menunggu boarding, atau saat pesawat delay. Bagaimana kita memanfaatkan saat-saat itu? Dan masih banyak lagi yang bisa kita masukan dalam daftar itu.

Hujan Lebat Jalanan Macet

Ada undangan untuk pertemuan kecil di daerah Citos, Jakarta Selatan, jam 17:00. Tapi mendung yang semakin pekat, tak bisa lagi membendung hujan, yang akhirnya turun dengan derasnya mengguyur Jakarta. Dan bisa diduga, banjir dan kemacetanpun tidak bisa dicegah. Siapa yang disalahkan? Akankah kita terus mengeluh dalam situasi seperti itu.? Sama sekali TIDAK!

Kami bertiga, dari rencana enam orang sudah hadir 30 menit lebih awal dari jadual. Karena hujan maka ketiga teman lain baru tiba 1.5 jam dari jadual semula. Berarti kami mempunyai waktu tunggu dua jam. Dua jam menunggu. Gelisa? Tidak! Bosan? Tidak! Mengeluh? Kami buang jauh! Lalu apa yang terjadi? Kami gunakan kesempatan untuk saling update, saling belajar dari pengalaman masing-masing. Dan tidak terasa, waktu dua jam terasa cepat berlalu, penuh dengan hal positif yang kami bawa pulang untuk bekal hidup. Sayapun mengusulkan, bagaimana kalau masing-masing kami bertiga berbagi minimum lima butir pelajaran yang dipetik dari obrolan santai dua jam sore/malam itu. Semua setuju. Berikut butir-butir yang kami petik:

Hasrat Belajar yang Genuine

Saya mengangkat “Waiting Time” sebagai tema pembelajaranku, sambil menghargai kawan yang dengan penuh perhatian menyimak. Berikut kelima butir dari saya:

  1. “Waiting time” bisa bermanfaat untuk belajar, kalau bisa kita optimize.
    Ini merupakan pilihan. Dan pilihan terpenting adalah tidak membiarkan hal yang sifatnya negatif mampir di pikiran kita, selama waktu tunggu.
  2. Disiplin untuk tiba on time walau yang lain2 terlambat. Jangan terpengaruh oleh kebiasaan orang lain, tapi belajar untuk membangun perilaku positif dan jadikan itu sebagai kebiasaan: Tepat waktu.
  3. Saya belajar dan bertambah yakin betapa pentingnya seorang pemimpin hidup sesuai values di perusahaan. Ini dari contoh mba Eka yang bercerita bahwa dia senang dengan lingkungan kerja saat ini yang mempunyai values yang juga dia sukai. Dia merasa nyaman sehingga bisa konsentrasi kerja
  4. Saya belajar juga bahwa untuk bisa banyak menggali ilmu dari orang lain yang kita ajak bicara, kita harus memperlihatkan keinginan belajar yang genuine, seperti yang ditunjukan pa Adrian. Itu alasan mengapa saya bisa banyak cerita.
  5. Kehadiran teman2 FTHR (Future HR) untuk diskusi dengan pa Adrian dan mba Eka adalah bagian dari membangun network yang perlu kita kembangkan dan dipupuk. Karena masing2 kita punya role yang diatur oleh alam semesta ini, untuk saling menunjang, saling melengkapi.

 

Memimpin dengan Hati

Butir yang dikedepankan mba Eka Ratna Sari mengingatkan kita akan peran tangan Ilahi dalam kehidupan kita:

  1. Pentingnya merespon, berpikir dan bertindak positif.
    Ketika kita berpikir positif maka secara tidak langsung kita meruntuhkan benteng yang ada dalam diri kita. Seperti sharing pak Josef kemarin mengenai bagaimana respon seseorang dlm menghadapi masalah ketika proposal ditolak. Ketika mikir negatif, maka akan ngeluh dan down. Tapi ketika berpikir positif maka hal itu akan menjadi challenge untuk diri sendiri dan secara tidak langsung akan mengasah mengembangkan cara berpikir positif kita.
  2. Manfaatkan “waiting time” dengan hal yang positif. Kemurahan Tuhan kemarin Eka dikasih kesempatan untuk belajar banyak dari pak Josef ketika menunggu teman2 lain yang belum datang. Belajar untuk disiplin dan tepat waktu. Hal ini jadi reminder untuk Eka pribadi kedepan disela waktu menunggu, bisa sambil baca buku daripada hanya sekedar cek social media (socmed adalah kehidupan untuk anak milenial)
  3. Tuhan memang sudah sediakan yang terbaik. Mungkin dari sisi duniawi akan melihat ini sebagai “coincidence” tapi Eka melihatnya bahwa segala sesuatu memang sudah Tuhan rancang untuk kehidupan kita.
  4. Pentingnya peran seorang pemimpin untuk timnya. Hal ini baru Eka sadari kemarin ketika pak Josef sharing bagaimana seorang pemimpin harus punya cinta dulu untuk timnya.  Hal ini sungguh Eka rasakan perbedannya ketika dikantor lama dan di MIC Transformer. Ketika pemimpin membimbing Eka dengan penuh cinta, akan beda hasilnya. Ada semangat untuk  memberikan yang terbaik juga ketika Eka pribadi merasa dicintai.
  5. Kita bisa belajar dari siapapun. Dari pertemuan kemarin, Eka belajar juga dari teman-teman dari Future HR.  Dari sisi ketelitian, detail, strategy, solusi yang dilakukan oleh teman-teman Future HR dalam merancang sebuah plan.

 

Kenali Teamwork Semu

Sementara itu pa Adrian Pangemanan, merekam beberapa hasil obrolan, yang sayang kalau lenyap ditelan hujan lebat Jakarta.

  1. Selalu ada hal baik dalam setiap kondisi. Kondisi hujan yang sangat deras sehingga waktu meeting menjadi tertunda mungkin membuat sebagian besar orang merasa tidak nyaman.
    Tetapi saya bersyukur disaat menanti kedatangan rekan2 yang lain, Pak Josef sudah hadir dilokasi, dan saya manfaatkan untuk menggali kisah hidup beliau yang memiliki banyak value2 yang menarik sebagai bekal untuk kehidupan pribadi saya…thank u yah pak.
  2. Dalam sharing bersama beliau khususnya mengenai kepemimpinan hal menarik yang saya dapatkan dari sharing Pak josef adalah saat memimpin tim gunakanlah hati dengan hati, tidak bisa hanya menggunakan otak dengan otak. Karena dengan menggunakan hati akan timbul “cinta”  kepercayaan diantara pemimpin dan timnya.
  3. Saya juga belajar bagaimana saat Pak Josef akan memberikan coaching, beliau bener2 sangat menghargai waktu dari rekan beliau yang akan dicoaching, beliau sampai benar-benar memperhatikan detail pemilihan lokasi, tingkat kebisingan dan kenyamanan untuk ngobrol Bersama. Beliau tidak hanya sekedar melakukan tetapi memastikan coaching session ini menjadi yang terbaik bagi orang yang  akan dicoaching.
  4. Saat kami berdiskusi mengenai film Anak Garuda, saya belajar saat beliau memberikan insight terhadap sebuah scene film tersebut. Beliau mengatakan kejadian dalam film persis seperti di perusahaan, seringkali terjadi TEAM WORK yang SEMU. Bagi saya ini adalah hal yang sangat menarik karena begitu seringnya saya menjumpai dalam 1 team terlihat baik-baik saja tetapi sebenarnya dalam diri khususnya hati tidak terjadi kondisi saling memahami. Padahal memahami inilah yang menjadi titik kuncinya sehingga tidak terjadi Team Work yang semu.
  5. Ada hal yang menarik yang saya benar-benar belajar dari pak Josef khususnya saat beliau membuka ipad beliau dan menunjukkan tulisan-tulisan dari setiap kejadian yang beliau alami dan pelajari. Inilah yang sangat tinggi nilainya bagi saya, karena dengan blog yang beliau buat berarti ada lebih dari ribuan orang yang membaca tulisan beliau. Saya sangat yakin pasti ada seseorang yang hidupnya terselamatkan karena membaca hal positif yang beliau tuliskan.
  6. Memberikan surprise dan menghargai usaha orang lain. Saya belajar banyak saat beliau sharing memgenai seorang staff HRD di Jogja membeli buku #curhatstaf padahal staff ini awalnya ingin membeli buku yang lain yang sudah sangat diinginkan, bahkan sampai nabung dulu. Tetapi setibanya di toko buku saat melihat buku #curhatstaf akhinya membeli buku ini….
    Kisah staf ini dia tuliskan di LinkedIn dan pak Josef berkesempatan untuk membaca dan mencari tahu nomor telpon si staff tersebut dan segera menelpon.
    Saya sangat yakin staff HRD tersebut pasti sangat bahagia dan bangga ditelpon  oleh pak Josef langsung dan pak Josef memberikan kejutan berikutnya bahwa buku terbitan ke 3, buku perdananya akan ditanda tangani khusus oleh pak Josef dan akan dikirimkan ke staff HRD di Jogja. Kerenn dan inspiratif pak.

Kami hanya bertiga. Kami isi “momen menunggu” tersebut dengan hal yang positif. Dan sangat mengejutkan saat masing-masing kami menuliskan butir-butir pembelajaran itu, ada 16 butir. Luar biasa ! Terima kasih pa Adrian dan mba Eka untuk sharingnya. Kebiasaan sederhana seperti itu, bisa kita lakukan kapan saja dan dimana saja.

“If I want to be great I have to win the victory over myself: SELF-DISCIPLINE.” (Harry S Truman)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Meisia, batuknya sudah hilang berkat resep tradisional

Meisia:
terima kasih sharing tips nya pak… Ternyata obat-obatan itu ada di sekitar kita ya.. BTW semoga udah...

josef:
Terima kasih sama2 Santi, semoga lebih banyak leader yang mau belajar coaching untuk menunjang tugas...

Santi Sumiyati:
Selamat malam Pak Josef, terima kasih untuk tulisannya yang selalu saja memberikan suatu insight...

josef:
Selamat Pagi pa Riyadno. Kami sehat-sehat saja. Tolong japri saya di wa jadi saya tahu no hpnya masih sama...


Recent Post

  • Agar Sehat dan FIT
  • Evaluasi Leadership Program
  • Kesalahan BESAR Seorang Pemimpin
  • Memaknai Pesan Alam Semesta
  • Waiting Time is Learning Moment
  • #GEMprogram3 Mulai Bergulir
  • Bersyukur: Sumber Kebahagiaan
  • Membuka Peluang Belajar
  • Pilihan Buku Pilihan Hidup
  • Membekali Agen Perubahan