Posted on September 18th, 2015
“Passion will move men beyond themselves, beyond their shortcomings, beyond their failures.” (Joseph Campbell)
CERITA OM TONY (bukan nama sebenarnya) sungguh berapi-api. Kami baru pertama kali bertemu di Kupang beberapa waktu lalu. Ceritanya bermula ketika saya menanyakan beragam batu akik yang sedang dipakai di beberapa jarinya. Keluarlah berbagai kisah menarik, perjalanan dia menekuni batu akik.
Matanya lebih terbuka lebar lagi ketika saya menanyakan, di mana biasanya orang membeli batu akik Sisik Naga, Badar Timor, Sei Timor, Panca Warna atau Solar Timor? Dia mulai serius menyimak, jangan-jangan dia sedang berbicara dengan peminat serius batu akik. Apalagi ketika saya menyebut nama batu “Sigori Lafau” dari Pulau Nias, yang katanya bernilai sampai Rp 15 Milyar.
Mengasah Batu Menggali Harapan
Di banyak rumah di RT di mana om Tony tinggal, warganya asyik menggosok batu akik sebagai kegiatan sehari-hari. Pertanyaan saya pada Om Tony, apakah pernah ada kejutan, di mana ada yang tiba-tiba menjadi kaya atau kehidupan ekonominya berubah menjadi lebih baik sebagai hasil dari kegiatan itu?
Jawaban Om Tony, “Belum ada”, walau hasil gosokan sudah membuahkan puluhan sampai ratusan ribu rupiah. Tapi ada harapan di balik kegiatan itu, sampai-sampai Om Tony memasang plang nama jalan menuju rumahnya dengan Jalan Batu Akik.
Tidak banyak kegiatan sampingan yang produktif yang bisa dilakukan warga di tempat itu. Karena itu kegaduhan tentang potensi keuntungan di balik batu akik, membuat mereka menaruh harapan pada kegiatan itu. Mungkin saja akan terbantu, kalau mereka dibekali dengan pengetahuan tentang pengenalan batu akik, cara mengasahnya, dan cara memasarkannya.
Satu hal yang bisa kita petik dari pengalaman ini adalah: Pengrajin batu akik ini terus mengasah batu tersebut, penuh kesungguhan dan kesabaran hingga berbentuk cantik dan sekaligus memberikan nilai terbaik.
Tapi kenapa tiba-tiba saya bicara batu akik? Apa ikut-ikutan mode? Dan pertanyaan Om Tony juga tidak kalah menariknya, “Sebetulnya pekerjaan bapa itu apa?”
Mengenali dan Mengasah Talent
Sebagian besar hidup saya diabdikan untuk mencari Talent, mengasahnya dan membuatnya siap untuk bersinar. Itu adalah pekerjaan utama saya di bidang Human Resources. Ada bibit unggul yang baru, yang hadir sebagai Fresh Graduate. Karyawan potensial tersebut dipoles sambil dibekali dengan berbagai ilmu, pengetahuan dan pengalaman agar bisa siap menerima berbagai tanggung jawab di kemudian hari.
Tidak saja kegiatan memoles Talent. Membekali para manager dengan pengetahuan dan pengalaman untuk memoles Talent juga sangat menentukan. Tentu saja berbagai prasarana (tools) untuk memoles Talent, juga disediakan. Teknik mengasahnya juga tergantung dari manusia yang berbeda-beda.
Dan penentu semuanya itu adalah ketulusan dan kesungguhan para manager dalam menggali dan menemukan bakat-bakat terpendam dan mengembangkannya agar bisa bersinar terang. Ini akan kontras dengan kelompok manager yang menginginkan Talent siap pakai dari luar. Mereka tinggal membeli dengan berani bayar mahal.
Petikan kata-kata bijak berikut turut menggaris-bawahi pemahaman ini:
“The people who get on in this world are the people who get up and look for the circumstances they want, and, if they can’t find them, make them.” (George Bernard Shaw)
Kutipan tersebut sekaligus mengatakan bahwa upaya pengembangan Talent tidak mudah. Namun mereka yang serius akan terus berupaya mencari jalan hingga berhasil.

Indofood Got Talent
Sehari-hari, setiap karyawan sudah mempunyai tugas untuk saling menunjang mencapai tujuan bersama. Tugas tersebut disesuaikan dengan kemampuan setiap orang. Apakah hanya itu kemampuan yang dimiliki karyawan?
Kesempatan merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-70, Indofood di Sudirman Plaza menggelar acara “Indofood Got Talent”. Response karyawan luar biasa. Mengamati pamer kebolehan selama kurang lebih 2 jam, membuat kita berdecak kagum.
Ternyata banyak sekali bakat yang tersimpan. Mereka perlu moment untuk memunculkan bakat-bakat terpendam itu ke permukaan. Dan lebih hebat lagi, mereka hanya bisa latihan dalam tempat dan waktu yang sangat terbatas, datang lebih pagi, jam makan siang ataupun sore usai kerja.

Foto di atas adalah pemenang Indofood Got Talent, yang menampilkan Cup Dance diiringi lagu dan Tari Sajojo.
Love Your Job
Talent yang unjuk kebolehan dalam Indofood Got Talent, dengan penuh semangat berlatih di luar jam kerja mereka. Dalam kedua contoh di atas, kuncinya ada pada: “Mencintai apa yang dikerjakan,” sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan sepenuh hati, dengan sungguh-sungguh, dan tidak merasa terbebani.
Bila perilaku ini dibawa ke dalam situasi kerja sehari-hari, maka kita akan mendapatkan karyawan yang mencintai pekerjaannya, bekerja penuh ketulusan dan akan berjuang tanpa disuruh atau dipaksa untuk bisa meraih hasil maksimal.
“When you’re following your energy and doing what you want all the time, the distinction between work and play dissolves.” (Shakti Gawain)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...
Mencintai pekerjaan juga akan memunculkan kreativitas untuk mencapai hasil yang maksimal. Yippieee CHR menang di Indofood Got Talent dan mempertahankan juara sbg best suporter 😉
Terima kasih Ratih, mencintai pekerjaan, membuat seluruh pribadi kita terbuka untuk menerima berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan baru yang kreatif. Rumus ini berlaku di tempat kerja, di rumah, ataupun di tengah masyarakat. Salam
Ada Talent Quotes yang bagi saya terkesan yaitu “Any human anywhere will blossom in a hundred unexpected talents and capacities simply by being given the opportunity to do so.” Jadi hanya dengan memberi kesempatan untuk Talent-Talent tersebut berkembang maka akan muncul bakat-bakat terpendam ke perusahaan. Dan adalah diperlukan ketulusan dan kesungguhan para manager dalam menggali dan menemukan bakat-bakat terpendam dan mengembangkannya agar bisa bersinar terang.
Mawardi
Terima kasih Mawardie untuk mengangkat kembali dua unsur penting: kesempatan yang diberikan dan ketulusan serta kesungguhan para manager dalam menggali, dan mengembangkan talent. Ikuti terus postingan selanjutnya