Bahagia itu Sederhana

Posted on April 17th, 2018

“Even the rich are hungry for love, for being cared for, for being wanted, for having someone to call their own.” (Mother Teresa)

MENCARI KEBAHAGIAAN. Terkadang, itu yang terlintas di pikiran kita. Lalu berbagai opsi mulai bermunculan. Apakah kebahagiaan itu harus dicari keluar? Apakah harus dengan biaya yang mahal atau cukup dengan yang murah? Mencari ke tempat yang jauh ataukah di sekitar kitapun tersedia? Haruskah kita menunggu ada yang membawa kebahagiaan untuk kita? Mungkinkah saya menciptakan sendiri kebahagiaan itu? Ataukah saya menciptakan momen di mana bersama yang lain kita bisa mendapatkan kebahagiaan bersama? Bahkan Abraham Lincoln berpesan: “People are just as happy as they make up their minds to be.”

Masa Kanak-kanak

Bahagia itu tidak harus mahal, dan bisa dinikmati siapa saja, tanpa peduli latar belakang ekonomi, sosial, pendidikan dan lain-lain.

Bersama teman-teman di Sekolah Rakyat dulu kami sangat bahagia berjalan kaki sekitar 3 km tanpa alas kaki menuju ke sekolah, Kami bahagia hanya karena kami bisa sekolah. Ketika istirahat, kami bisa bermain dengan apa saja yang tersedia sekitar kami, menggunakan batu, kayu, atau petak umpet di semak di belakang sekolah.

Kebahagiaan kami sering tak terbendung, ketika mendapatkan nilai 8, 9 atau 10 yang dituliskan guru dengan kapur di batu tulis hitam, yang kemudian kami tempelkan ke pipi dengan harapan agar semua yang di desa bisa melihat bahwa hari itu saya bisa berprestasi mengagumkan. Itu contoh kebahagiaan kami, dan ternyata bahagia itu sederhana.

Tugas rumah tangga kami jalankan dengan penuh sukacita, saat kami harus ke hutan mencari kayu kering untuk keperluan memasak di dapur. Apa motivasinya? Di hutan ternyata banyak buah-buahan yang bisa dipetik gratis.

Pantai pun menjadi daya tarik tersendiri, di mana kami bisa leluasa berenang, bahkan lupa kalau belum makan siang. Entah sejak usia berapa kami bisa berenang. Kegembiraan bisa diciptakan entah hanya sekedar kejar-kejaran, berenang, mancing, bermain pasir atau memilih berbagai kulit kerang yang bertebaran di sana. Singkat cerita, apa saja yang tersedia sekitar kami, bisa menjadi sumber kegembiraan.

Kumpul Keluarga itu Membahagiakan

Arisan keluarga biasanya menjadi ajang silaturahmi. Di tengah kesibukan masing-masing, kita menjadualkan pertemuan melalui sarana arisan. Di sana kita bisa saling tukar informasi, berbagi cerita kehidupan, atau sekedar berbagi cerita gembira yang mengundang gelak ketawa.

17 April 2018_Bahagia Itu Sederhana1

Salah satu agenda saya adalah mengupdate silsilah, karena ada yang baru menikah atau melahirkan.

Mother Teresa juga sudah mengingatkan kita tentang DISRUPTION di tengah keluarga, yang perlu disimak secara bijak:

“Everybody today seems to be in such a terrible rush, anxious for greater developments and greater riches and so on, so that children have very little time for their parents. Parents have very little time for each other, and in the home begins the disruption of peace of the world.” (Mother Teresa)

Arisan itu belum komplit kalau kita belum menikmati hidangan tuan rumah. Kali ini kami disuguhkan makanan laut segar, ikan goreng, ikan bakar rica, cumi dan udang, ditemani sayur urap, serta sambal pedas kesukaan keluarga.

17 April 2018_Bahagia Itu Sederhana2

Jeli Menangkap Momen

Saat kita menangkap momen di mana yang lain sedang bahagia, respon kita spontan tentu senyum dan menikmati momen itu. Namun dalam dunia kekinian, HP atau iPad harus selalu siaga karena momen spontan itu hanya dalam hitungan detik. Begitu ada latar belakang yang layak jadi spot foto, akan dimanfaatkan sebaik mungkin, seperti saat kami berada di Bandara Radin Inten 2. Ketika dua gadis zaman now ini sedang ancang-ancang untuk aksi lebih lanjut, ternyata iPad-ku juga tidak kalah gesit untuk menangkap beberapa momen, satu di antaranya adalah yang ini.

17 April 2018_Bahagia Itu Sederhana3

Membayangkan Senyum Seseorang

Mengawali pekan, di hari Senin 9 April 2018, saya dan teman-teman kantor sepakat untuk membuat orang lain tersenyum bahagia. Kami tidak mengenal mereka, karena senyum itu muncul di wajah mereka yang tertolong (nantinya) berkat tetesan darah yang kami sumbangkan. Laporan PMI menyebutkan, hari itu mereka berhasil mengumpulkan 358 kantong darah.

17 April 2018_Bahagia Itu Sederhana4

Itu ceritaku. Anda semua pasti juga punya cerita yang tidak kalah menarik untuk dibagi. Sudahkah ceritamu dibagikan kepada yang lain? Akankah masing-masing kita membuat tekad untuk juga mengajak orang lain untuk juga turut berbahagia, bukan hanya dengan cerita tapi dengan perbuatan nyata? Pilihan ada ditangan kita masing-masing.

“Let no one ever come to you without leaving better and happier. Be the living expreassion of God’s kindness: kindness in your face, kindness in your eyes, kindness in your smile.” (Mother Teresa)

Selain hadir di blog: https://www.josefbataona.com/

Saya juga bisa ditemui di:

Bookmark and Share

2 Responses to Bahagia itu Sederhana

  1. Santi Sumiyati says:

    Selamat siang Pak Josef, saya setuju sekali dengan tulisan Bapak bahwa bahagia tidak selalu disebabkan oleh hal hal besar ya Pak….apapun bisa jadi sumber kebahagiaan selama ada rasa syukur didalamnya. Terima Kasih Pak Josef sudah berkenan berbagi dengan kami. Salam hormat, Santi S.

    • josef josef says:

      Terima kasih Santi, sering kita yang membuat hal sederhana menjadi kompleks. Bahagia atau tidak ada dalam pikiran kita, dan saya sepakat dengan Santi, bila hidup kita diwarnai dengan rasa syukur, kita lebih damai dan bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Sutjipto untuk menggarisbawahi pentingnya menjaga kesehatan. Biasanya kita menyadari pentingnya...

josef:
Terima kasih Sutjipto, semua itu perlu prsiapan, termasuk persiapan mental untuk memasuki dunia yang boleh...

josef:
Terima kasih Koekoeh, inilah maknanya berbagi siapa tahu ada yang bisa dimanfaatkan oleh teman lainnya. Yang...

Sutjipto Budiman:
Sangat setuju, kalau kita tidak sehat bagaimana mau produktif. Kalau pun sudah punya uang, uang itu...

Sutjipto Budiman:
Selamat menjalani kehidupan baru Pak. Sangat berkesan dan memberi pelajaran bahwa Bapak...


Recent Post

  • Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu
  • Setelah Baju Itu Kutanggalkan
  • KESEHATAN: Harta Tak Ternilai
  • Perhatian Kecil Berdampak Besar
  • Kesan Positif Yang Ditinggalkan
  • Bahagia di Tengah Harmoni
  • Keberagaman Talent Ciptakan Sukses
  • Tetangga Lapar Tanggung Jawab Kita
  • Bangga dengan Pekerjaanku
  • Saatnya Mengisi Baterei