Posted on January 11th, 2019
“As the sun makes ice melt, kindness causes misunderstanding, mistrust and hostility to evaporate.” (Albert Schweitzer)
AULD LANG SYNE. Lagu popular asal Skotlandia diawali dengan: Should auld acquaintance be forgot, and never brought to mind? Lagu ini seakan mempertanyakan apakah teman lama dan masa lalu akan dilupakan dan tidak akan pernah diingat lagi? Tentu saja jawabannya adalah TIDAK. Di dalam lagu ini bahkan disebutkan janji untuk mengingat sahabat dan masa lalu dengan ketulusan. Karena ini adalah momen kumpul keluarga, maka lagu itu kami maknai sebagai kesempatan untuk mempertebal rasa persaudaraan, memperkuat tali persaudaraan dan membuat tekad agar di tahun baru 2019 kita bisa lebih mengasihi satu sama lain.

Keceriaan akhir tahun
Organ tunggal sengaja kami hadirkan untuk menghangatkan suasana. Bebas membawakan lagu kesukaan sesuai generasi. Ada jogged mengiringi irama dangdut, ataupun tari daerah. Beberapa lomba yang disiapkan para milenials untuk membuat semua yang hadir tetap melek.

Semua itu membuat jam terasa berjalan sangat cepat menuju akhir tahun. Tak terasa kami sudah berada di saat dimana kegemuruhan diakhiri dan semua diajak memasuki keheningan.
Introspeksi Memasuki Tahun Baru
Renungan kali ini saya angkat dari sebuah video yang sedang beredar di WA. Di usia yang sudah lanjut, seorang bapa mencermati kalau beberapa kali dia bicara pada istrinya, tidak mendapatkan respon. Dia menduga bahwa istrinya boleh jadi sudah mengalami penurunan kemampuan mendengarkan. Dari konsultasi dengan seorang sahabat dokter, dia dianjurkan untuk mencoba berbicara dengan istrinya pada jarak yang berbeda-beda, agar bisa ditentukan seberapa parah kondisi pendengaran istrinya.
Saat kembali ke rumah, dia mendapatkan istrinya sedang masak, lalu dari jarak sekitar 10 meter, dia menyapa istrinya:
Mama sedang masak apa untuk makan siang kita ?
Ternyata tidak terdengar jawaban. Lalu dia mendekat dalam jarak 8 meter dan bertanya:
Mama sedang masak apa untuk makan siang kita ?
Tak ada jawaban yang didengar. Kemudian dia melangkah maju dalam jarak 5 meter dia bertanya, juga dalam jarak 2 meter, pertanyaannya tidak mendapat jawaban. Akhirnya dia berdiri tepat dibelakang istrinya dan bertanya:
Mama sedang masak apa untuk makan siang kita ?
Saat itu juga istrinya berbalik dan menjawab dengan suara lantang:
Papa, ini untuk kelima kalinya mama menjawab: Mama sedang menggoreng ikan untuk makan siang kita.
Setelah pertanyaan kedua, saya mencoba mendapatkan tanggapan yang hadir, dan mereka berkeyakinan bahwa sang istri memang tidak mendengar. Dan keyakinan mereka bertambah kuat seperti halnya keyakinan sang bapa, setelah pertanyaan ke tiga dan keempat, bahwa istri memang tidak mendengar.
Namun semuanya kaget mendengar jawaban istri pada pertanyaan kelima. Semua meledak tertawa. Saya biarkan saja mereka leluasa tertawa, karena sebetulnya kami semua sedang menertawakan diri sendiri. Lalu pesan apa yang mau di sampaikan?
Keragaman Penuh Rukun dan Damai
Seperti halnya sang suami di cerita diatas, kita seringkali dan cepat sekali memvonis bahwa problem itu ada pada orang lain. Yang lain adalah penyebabnya, bukan saya. Kemudian berupaya agar orang lain itu yang harus mencari solusinya. Dalam kasus cerita diatas, ternyata yang mempunyai problem adalah sang suami. Dan solusi problem juga ada pada diri suami sendiri. Jadi kalau kita selalu sigap untuk introspeksi, kita tidak akan muda melempar kesalahan pada orang lain. Bila ini yang kita lakukan, hidup kita lebih tenang dan damai, keluarga kita penuh damai sukacita, dan juga lingkungan dimanapun kita berada akan lebih rukun dan damai.

Bersyukur dan Saling Mendoakan
Renungan diatas telah mengantar kami sekeluarga mendekati detik-detik pergantian tahun. Lirik lagu Auld Lang Syne kami akhiri dengan bait penutup:
Mari kita panjatkan doa serta bersyukur
Slamat tinggal tahun lama yang penuh kenangan
Semoga di Tahun Baru kita diberkati
Agar hidup rukun damai untuk selamanya
Semoga Persaudaraan kita dikuatkan
Agar Saling Mengasihi Untuk Selamanya
Saatnya untuk saling bersalaman, saling memaafkan, saling mengucapkan terima kasih, dan tentu saja di lubuk hati yang paling dalam kami saling mendoakan agar sebagai saudara, sebagai keluarga dari beragam suku, agama, latar belakang sosial-ekonomi, dan profesi, kami akan terus saling mengasihi agar senantiasa hidup rukun dan damai. Amin
“Hope itself is like a star- not to be seen in the sunshine of prosperity, and only to be discovered in the night of adversity.” (Charles H. Spurgeon)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...
Benar Pak, seringkali kita menyalahkan apapun yang berada di luar diri kita pada saat ada permasalahan. Padahal, benar sebagaimana tulisan Bapak, mestinya kita instrospeksi diri sendiri dulu ya Pak. Berat memang, tapi mesti dimulai. Terima kasih Pak untuk pencerahannya di awal tahun 2019.
Terima kasih Santi, Selamat Tahun Baru, sukses selalu. Introspeksi diri, mengakui kesalahan sendiri membutuhkan kebesaran jiwa. Nampaknya kecil tapi sulit dalam implementasinya, perlu banyak belajar dan berlatih. Salam