Disiplin dan Motivasi

Posted on December 20th, 2011

Pada posting terdahulu saya bercerita tentang hari-hari awal saya memulai kuliah sambil bekerja. Untuk mendapatkan izin dari kantor saja memerlukan proses panjang. Bayangkan, kuliah dimulai jam 16:00 sementara jam kerja resmi selesai jam 16:00 pula. Berkali-kali saya mencoba meyakinkan pimpinan percetakan bahwa pekerjaan saya di perwajahan adalah proses awal dari membuat majalah, semua proses lain tergantung dari proses ini, sementara saya tidak tergantung pada proses-proses sebelumnya.

Saya juga berjanji untuk bekerja sesuai jadual, kalau perlu masuk lebih awal atau bekerja lembur di hari Sabtu dan Minggu bila diperlukan, tanpa dibayar lembur sekalipun, asalkan saya boleh ke tempat kuliah jam 15:30. Direktur percetakan akhirnya menyetujuinya.

Hitung-hitung sederhana, mulai kerja 07:30, dilanjut kuliah hingga jam 20:00, tiba di rumah sekitar jam 21:00 (waktu itu Jakarta masih belum semacet sekarang), saya harus membereskan catatan kuliah, belajar, dan tidak lupa untuk mencuci dan setrika sendiri pakaian. Jadi rata-rata saya tidur setelah jam 23:00 mendekati tengah malam.

Menyadari keterbatasan waktu seperti itu, kebiasan untuk belajar setiap hari sambil merapihkan catatan kuliah mulai saya jalankan secara disiplin, Teman-teman kuliah mulai memperhatikan itu, dan mereka mulai mengetahui kepada siapa harus meminjam catatan kuliah yang lengkap. Dan hasilnya, menjelang ujian semester, saya jarang belajar karena sudah siap, dan bahkan membantu teman-teman memfasilitasi belajar kelompok.

Kebiasan tersebut berlanjut, ketika teman-teman dengan gembira pergi berlibur ke rumah orang tua mereka di kampung, saya memutuskan untuk menggunakan kesempatan untuk membuat skripsi sarjana muda, di akhir semester enam. Saya pun minta cuti di kantor tapi sekaligus minta masuk kantor setiap hari, karena saya ingin nebeng mesin ketiknya untuk keperluan penulisan skripsi. Bagi generasi sekarang, saya perlu jelaskan bahwa bahan skripsi diketik di atas kertas stensil dan kemudian dibawa ke jalan Surabaya untuk diputar (istilah yang digunakan untuk mencetak).

Keterbatasan sarana, keterbatasan waktu, tidak pernah bisa menghentikan laju niat ini untuk sukses.Di malam hari sebelum tidur, sering terlintas di pikiran, betapa beratnya perjuangan hidup di Jakarta ini. Tapi begitu kemudahan-kemudahan yang saya alami bermunculan di dalam refleksi saya, maka motivasi untuk sukses terasa menguat, dan membuat tidurku juga sangat lelap.

Dan puji syukur tak henti-hentinya kupanjatkan ke hadirat Yang Maha Kuasa, karena selama kuliah dengan jadual sepadat itu, kami juga diberikan kesehatan.

Terimakasih juga kami sampaikan kepada bapak almarhum Herman Setiawan, direktur dan pemilik percetakan tersebut, yang telah memberikan saya keleluasaan seperti itu dan sekaligus membuka pelung sukses di masa mendatang.

 

Bookmark and Share

10 Responses to Disiplin dan Motivasi

  1. Terima kasih Om Joseph, cerita ini sungguh menginspirasi bahwa konsistensi, ketekunan dan keyakinan serta DOA akan membawa kita ke keadaan hidup yang lebih baik 🙂

    Have a bless-full day Om Joseph 🙂

  2. Harun says:

    Thank you pan Joseph. Love your writings. This piece in particular is something we need to teach our children…

    • josef josef says:

      Agree Harun, today at leat 3 friends said that they will discuss with their children on this and previous posting. Thanks to visit this blog, new story will be posted every tuesday and friday morning.

  3. D U I T
    Doa Usaha Iktiar Terus menerus
    dengan Visi Misi Tujuan Sasaran Target
    Action yang SMART y p josef

  4. Fanny Bataona says:

    Seperti biasa, postingan Opa selalu memotivasi Fanny untuk lebih berupaya menjadi lebih baik setiap hari…

    Thanks for your inspiring story

  5. jhon says:

    untuk kalimat ini saya setuju 🙂

    .. “Keterbatasan sarana, keterbatasan waktu, tidak pernah bisa menghentikan laju niat ini untuk sukses ”

    saya juga dari kalangan petani tidak mampu yang ingin melanjutkan kuliah S2 managemen strategy dengan modal “nekat” . uang aja 600 ribu di tangan cukup untuk mendaftar. dengan yakinnya saya katakan ke orang tua saya, “saya lulus seleksi” padahal belum keluar hasilnya bahwa saya lulus :).

    nga tanggung – tanggung saya sebarkan lamaran ke beberapa perusahaan akhirnya ada yang ingin merekut saya menjadi pegawai tidak tetapnya disana. 1 yayasan 2 perusahan.selalu di switch kalau ada proyek. dan pulang kerja biasa jam 2.30 pagi.dan harus hadir jam 7.30 ..waktu kuliah jam 6 samapi jam 9.00 malam .. saya ijin makan jam 7-8 malam .. padahal pergi kuliah .. seperti itu .. akhirnya selesai kuliah ..legah 🙂
    … setelah beberapa bulan masuk dech d salah satu Bank plat merah :). semoga bisa terinspirasi juga teman-teman.

    • josef josef says:

      Terima kasih Jhon atas sharing perjalanan hidpmu yang penuh warna. Sekarang Jhon pasti bisa melihat bahwa enjoyment bukan pada hasil akhir, tapi justru selama perjalanan untuk meraih hasil. Semoga Jhon bisa membagi lebih banyak lagi kisah hidupmu untuk meninspirasi yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Santi, buku baru masih dalam persiapan. Salam

Santi Sumiyati:
Terima kasih Pak Josef untuk “pelajaran baiknya” lagi yang sangat bermanfaat. Ditunggu...

josef:
Terima kasih Sri, sangat disarankan untuk refreshing, jauh dari kesibukan di kota besar. Salam

Sri Mahayani:
Hi Pak Josef, Menyenangkan sekali melihat2 fotonya…menarik tempatnya…bila nanti saya ada...

josef:
Terima kasih sama2 mba Maria, kami semua mengharapkan sekaligus mendukung sukses langkah kalian demi kualitas...


Recent Post

  • Pemimpin dengan #180FitChallenge
  • Makna Terima Kasih Seorang Pemimpin
  • Di Antara Bebatuan Ini Kami Dibesarkan
  • Boleh Jadi Anda Pemimpin Yang Handal
  • Menenun Kebersamaan di Sumba
  • Pesona Budaya dan Alam Sumba
  • Universitas Proaktif Berbenah
  • Energi dan Harapan Masa Depan
  • Mengapresiasi Tiap Momen Kehidupan
  • MU dan Leadership ala Alex Ferguson