Masih Adakah Loyalitas Karyawan?

Posted on September 9th, 2014

“Growing complexity goes hand-in-hand with a sharp rise in our individual thirst for knowledge and desire to get to the bottom of the things.” (Damien O’Brien)

DUNIA BISNIS terus berubah. Struktur bertambah complex. Pandangan pelaku bisnis tentang berbagai aspek dalam organisasi terus berkembang, termasuk menyangkut struktur organisasi dan talent. Semuanya wajar-wajar saja. Tinggal bagaimana pimpinan perusahaan yang berbeda karakteristik operasinya, memilah berbagai konsep yang tersedia dan memilihnya untuk membuat perusahaannya siap berkompetisi di pasar.

Hubungan Karyawan dan Management

Dalam bukunya yang berjudul “The Alliance: Managing Talent in the Networked Age”, Reid Hoffman, mengetengahkan bahwa telah terjadi perubahan di tempat kerja yang berdampak pada hubungan kerja karyawan dan pimpinan, terutama ketika fokus perusahaan lebih pada keuntungan jangka pendek. Tingkat kepercayaan mengalami erosi dan hubungan kerja mengarah ke hubungan bersifat legalistic transaksional.

Managemen sering bicara tentang pentingnya talent retention, kerja sama tim dan kekeluargaan. Tetapi ketika target jangka pendek tidak tercapai, unsur-unsur tersebut menjadi pudar. Akhirnya tidak ada yang mau menginvestasi untuk hubungan jangka panjang.

“When no one wants to make  long term investment in relationship, it’s bad for everybody, including companies.  And this isn’t good for anyone:

A business without loyalty is a business without long-term thinking. A business without long-term thinking is a business that’s unable to invest in the future. And a business that isn’t investing in tomorrow’s opportunities and technologies — well, that’s a company already in the process of dying.” Demikian kata Reid Hoffman.

Dan Hoffman menawarkan model hubungan baru yang disebut Alliance, model hubungan ketenagakerjaan yang memungkinkan tumbuhnya TRUST atas dasar saling menguntungkan. Dalam hubungan ini, pimpinan  akan berkata kepada karyawan:

“Help make our company more valuable, and we’ll make you more valuable.”

Karyawan pun akan menanggapinya dengan berkata:

“Help me grow and flourish, and I’ll help the company grow and flourish.”

Gejala Global

Hari itu kami hadir bersama beberapa sahabat HR Communities dalam sebuah round-table discussion over lunch dengan Damien O’Brien, Chairman Egon Zehnder Global.

Round-table discussion over lunch with Damien O’Brien-Chairman Egon Zehnder Global

Dari paparan beliau, terasa benar berbagai challenges global yang familier di telinga. Artinya HR Challenges sifatnya universal. Kita pun merasakannya di Indonesia. Beberapa di antaranya, yang juga menjadi bahan diskusi:

  • Scarcity of Top HR Talent, sejalan dengan kesadaran akan pentingnya peran strategic HR.
  • Global Mobility, keuntungan sekaligus tantangan kehilangan talent.
  • Talent Retention, dan berbagai langkah untuk menghadapinya.
  • Memahami Gen Y.
  • Memahami makna WISDOM dan professionalism.
  • Engaging the heart, not just the mind.
  • Value/Meaning dari setiap pekerjaan bagi individu karyawan.

Wisdom dan Lama Masa Kerja

Hadirnya berbagai generasi di perusahaan: Boomers, Gen X dan Gen Y sangat mempengaruhi warna interaksi antar karyawan. Sebut saja konsep professionalism dan WISDOM. Generasi Boomers beranggapan bahwa professionalism dan WISDOM itu diperoleh dari lamanya seseorang tinggal di posisi tertentu atau di perusahaan, agar bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman secara mendalam.

Pengalaman ini akan memberikan perspektif penting dalam membentuk Wisdom dan profesionalisme seseorang. Di sini muncul pula pemahaman tentang loyalitas. Candaan yang sering dilontarkan Boomers: “Kalau belum ubanan, belum cukup bijak untuk menduduki posisi pimpinan top.”

Sementara itu Gen Y menganggap bahwa professionalism dan WISDOM itu bisa diperoleh dengan mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan berpengalaman di fungsi yang berbeda-beda, tapi juga dalam kecepatan yang tinggi. Artinya, kalau seseorang bisa belajar cepat, dia seharusnya diberikan kesempatan untuk cepat berpindah, baik lateral maupun vertikal/promosi. Dan ini akan bisa diakselerasi, bila diberikan kesempatan training yang memadai.

Seperti keyakinan dari Choo Chiau Beng – CEO Keppel Corporation:

“A different boss, a new role, or a completely unforeseen event can bring out the best in people.”

Beda perusahaan beda pendekatan. Apapun konsep masing-masingnya, tetapi Gen Y terus mengalir masuk ke perusahaan dan mengalir keluar bila lingkungan kerja yang mereka temukan tidak sesuai.  Globalisasi Talent semakin terbuka, keterbatasan Talent Pipeline untuk middle dan top position semakin mengkhawatirkan Sejalan dengan itu bisnis terus menuntut adanya stabilitas talent dengan ragam profesi dan WISDOM agar sanggup menghadapi kompetisi di pasar, sehingga bisa terus tumbuh secara menguntungkan dan berkesinambungan.

“Curiosity is one of the earliest and most dependable indicators of a person’s future potential. (Damien O’Brien)

Bookmark and Share

4 Responses to Masih Adakah Loyalitas Karyawan?

  1. Tromol Sihotang says:

    Dear pak Josef, satu materi yang ditunggu-tunggu banyak orang. Pengembangan talenta adalah sangat penting karena ini menyangkut kontinuitas perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang. Zaman yang cepat berubah seiring dengan semakin canggihnya tehnologi membuat semua pihak harus mempunyai kompetensi dan inovatif. Saat ini Gen Y sdh mulai masuk dunia kerja yang cara management perusahaan dalam mengelola talent tidak akan sama maintenance dengan zaman boomers memasuki dunia kerja.
    Semoga dengan topic ini akan menjadi bahan penting bagi perusahaan dan management dalam memenage talent yang sudah ada.

    Terima Kasih

    • josef josef says:

      Terima kasih Tromol, walau warna perusahaan beda2 dan pendekatan yang dipilih juga demikian, kita perlu mengangkat tema ini terus menerus untuk saling mengingatkan, saling belajar satu sama lain. Terima kasih waktunya Tromol menyimak kisah ini.

  2. Sandra Sahupala says:

    Dear Pak Josef,
    Tulisan ini menurut saya sangat “intriging”. Sebagaimana Pak Josef kemukakan bila target jangka pendek tidak tercapai maka “relationship” sudah tidak penting lagi. Dari pengalaman saya bekerja dari perusahaan ke perusahaan baik MNC atau lokal saya amati bahwa gerakan bisnis sangat dinamis dan cenderung membuat Management tidak ingin mengambil risiko komitmen jangka panjang, sehingga seringkali talent retention menjadi tidak penting. Saya agak termenung memikirkannya. Mungkin ini adalah karena Leaders Senior Management merupakan orang-orang yang mengejar target jangka pendek (short sighted) dalam rangka mendapat quick gain, atau bisa juga karena memang dalam 2 dasawarsa terakhir shifting prioirities di bisnis sangat pesat, pada berbagai bidang industri. Bila bidang industrinya sustainable maka investment di talent dan talent retention menjadi sangat logis dan harus dilakukan. Namun lebih banyak industri yang tidak sustainable daripada yang sustainable. Bila bidang bisnisnya tidak sustainable sebetulnya dituntut kematangan dan kemampuan Leaders Senior Management untuk menjaga kelestarian perushaannya. Kembali lagi para Pimpinan Perusahaan cenderung short sighted. Jadilah Talent Management (incl retention) dilakukan secara tidak konsisten. Jadi kembali ke judul artikel Pak Josef ini : Masih adakah loyalitas karyawan? Saya bertanya ” Masihkah diperlukan loyalitas karyawan, bila Perusahaan cenderung dioperasikan secara short sighted? BTW, no offense kepada para Leaders Senior Management, karena seringkali actions are driven by forces.

    • josef josef says:

      Terima kasih banyak mba Sandra, butir2 yang disampaikan justru memperkaya pemahaman kita, dan bahkan untuk membekali kita untuk memberikan jawaban atas pertanyaan di judul itu: Masih adakah loyalitas karyawan, atapun juga menjawabi pertanyaan mba Sandra: Masikah diperlukan loyalitas karyawan ?? Dua2nya perlu refleksi tulus !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life