Perlukah Mengambil Hati Atasan?

Posted on September 6th, 2013

“Leaders don’t create followers, they create more leaders.” (Tom Peters)

SERING SEKALI kita mendengar diskusi, atau bahkan terlibat dalam diskusi tentang atasan, dari yang sifatnya ringan sampai ke tingkat tukar pikiran serius dengan tujuan agar bisa mengambil langkah tepat dalam bekerja, terutama dalam menghadapi atasan. Tulisan inipun saya buat karena tergelitik oleh rasa penasaran seorang teman yang terus bergulat mencari jawaban atas pertanyaan: “Perlukah Mengambil Hati Atasan?” Jawaban spontan saya, yang juga mungkin mengagetkan penanya (yang tidak menyangka): Perlu dan Harus.

Atasan adalah Manusia Biasa Sekaligus Profesional

Dalam perjalanan hidup, kita sering melakukan sesuatu untuk menyenangkan orang lain, sebut saja: berusaha menyenangkan orang tua dengan nilai rapor yang bagus, menyenangkan teman dengan mentraktir makan, menyenangkan anak buah dengan kartu ucapan terima kasih, dan lain-lain.

Sebagai manusia biasa, atasan juga senang mendapat perhatian. Usaha kecil untuk mengetahui detail hobinya sudah membantu untuk membangun komunikasi dengan atasan. Diskusi tentang makanan kesukaan atau tujuan wisata yang digemari, musik kesukaan, atau buku bacaan yang digemari, semua ini adalah hal-hal mendasar yang bisa membuat atasan senang dan sekaligus membantu kita untuk membangun dialog. Di sini atasan merasa diperhatikan. Tapi ini baru pintu masuk untuk mengambil hati atasan secara professional.

Hubungan kita dengan atasan adalah hubungan professional.  Apa alasan seorang atasan punya anak buah? Mereka diharapkan bisa berkontribusi sesuai talenta masing-masing, sesuai tugas masing-masing  untuk keberhasilan tim. Dalam konteks ini, cara mengambil hati atasan adalah dengan bekerja dan berprestasi maksimal. Logikanya, atasan akan sangat senang kalau seluruh anggota tim akan menjalankan tugasnya dan berkontribusi pada pencapaian tugas bersama. Jadi kalau berpikir untuk mengambil hati atasan, seharusnya berangkat dari pertanyaan: “Kontribusi apa yang diharapkan oleh atasan dari saya untuk mencapai tujuan organisasi.

Mengambil Hati Tidak Sama dengan Mencari Muka

Contoh yang diangkat oleh teman yang mengajukan pertanyaan tersebut: ada saja yang hanya bekerja kalau dilihat atasan. Ada lagi yang mencoba menyampaikan hasil kerja gemilang (sebetulnya hasil tim) tapi sengaja memberi kesan seakan itu adalah kontribusi dia. Lebih celaka lagi kalau dia berusaha menjelekkan temannya atau cerita negatif dengan niat mengadu-domba. Ini sudah masuk ranah mencari muka, dan mencari muka yang tidak sehat, bahkan negatif.

Atasan yang professional tidak akan terjebak dengan langkah bawahan yang hanya sekedar mencari muka. Dia juga jeli untuk membedakan, mana bawahan yang bisa melangkah bersama dengan saling menunjang, dan mana yang mau untung sendiri, nggak peduli akan hasil bersama. Namun demikian, dalam praktek, ada juga atasan yang terjebak dalam permainan anak buah yang berusaha mencari muka dengan cara yang licik. Dalam konteks ini, kita sepatutnya percaya bahwa seorang atasan yang profesional akan jeli membaca situasi:

“A leader is one who sees more than others see, who sees farther than others see, and who sees before others see.” (Leroy Eimes)

Tips Bagi Professional Muda

9 Tips Sehat untuk Mengambil Hati  Atasan, oleh Jacquelyn Smith, Staff Forbes, berdasarkan sharing dari Al Coleman, Jr (pengarang buku Secret to Success: The Definite Career Development Guide for New and First Generation Professionals) dan Anita Attridge, Executive Coach:

  1. Laksanakan tugas dengan sebaik mungkin. Semuanya berawal di sini. Jadi kalau Anda tidak melaksanakan tugas dengan baik, lupakan tips lain berikut ini.
  2. Memahami atasanmu. Pada kesempatan awal bekerja, tanyakan pada atasanmu bagaimana cara komunikasi yang dia inginkan: tatap muka, sms, telepon, email ? Juga seberapa sering dia menginginkan update?
  3. Menunjang tugas atasan secara professional. Adanya Anda sebagai bawahan karena ada tugas yang diemban oleh tim dibawah pimpinan atasan. Atasan akan sangat gembira, bila pekerjaanmu juga akan menunjang terpenuhinya tugas tim.
  4. Bangun kredibilitas, jangan bicara di belakang atasan, bicarakan issue dengan tatap muka. Ini akan menumbuhkan kepercayaan atasan padamu.
  5. Prioritas kerja atasanmu adalah juga prioritas kerjamu. Bila ada prioritas kerjamu yang tidak menjadi prioritas atasanmu, Anda harus menyesuaikannya, karena tugasmu adalah bagian dari tugas seluruh tim di bawah pimpinan atasanmu. Diskusikan secara berkala, agar bisa memahami dari waktu ke waktu tentang prioritas itu.
  6. Mau terlibat dalam berbagai inisiatif, proyek atau penugasan. Di luar tugas rutin, tentu ada perbagai penugasan atau proyek yang akan ditentukan oleh atasanmu. Tunjukkan interesmu untuk mengerjakan projek tersebut, kalau perlu impress atasanmu dengan minimum panduan dari atasanmu.
  7. Bila muncul problem, berikan ide, saran solusi, dan jangan hanya bertanya kepada atasan.
  8. Tunjukkan interesmu pada hal-hal yang menjadi interes atasanmu. Misalnya, buku bacaan yang diminatinya, olahraga, tujuan wisata, dan lain-lain. Atasanmu akan mengapresiasi usahamu memahami interes dia, tapi Anda juga akan surprise tentang hal-hal di bidang itu yang belum Anda ketahui.
  9. Tunjukkan bahwa Anda punya komitmen jangka panjang untuk organisasi di mana kalian sama-sama bekerja. Walaupun dewasa ini tidak banyak orang yang tinggal di perusahaan untuk jangka panjang, tidak ada salahnya untuk kita berpikir dan bertindak demi kepentingan Perusahaan jangka panjang.

Saya Hanya Perlu Tiga Hal

Ketika saya ditanya: “Perlukah mengambil hati atasan?” Jawaban spontan saya, yang juga mungkin mengagetkan penanya (yang tidak menyangka): Perlu dan Harus.

Dalam berbagai kesempatan tatap muka, tidak henti-hentinya saya mengulang motto hidup saya, dan bagaimana saya menterjemahkannya dalam konteks pelaksanaan tugas, bagaimana saya mengajak anggota tim untuk saling menunjang dalam menyelesaikan tugas bersama.

Tujuan saya adalah: Kalau mereka ingin mengambil hati saya sebagai atasan; pertama, laksanakan tugas yang diberikan sebaik mungkin, tunjukkan prestasi maksimal. Kedua, bersama bangun tim yang solid; dan ketiga, bersama menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan bagi kita semua.

“I suppose that leadership at one time meant muscle; but today it means getting along with people.” (Indira Gandhi)

 

Bookmark and Share

12 Responses to Perlukah Mengambil Hati Atasan?

  1. Mr Batoana..
    Thank you for sharing this good article.

    Regards,
    Syafii Harahap

    • josef josef says:

      Terima kasih Syafii atas waktunya mengunjungi blog dan menyimak artikel ini. Di blog sudah hadir 188 artikel, dan saya masih akan terus hadirkan artikel baru tiap Selasa dan Jumat pagi jam 08:00

  2. adhitya_29 says:

    very inspiring Pak, menurut saya tulisan ini dibutuhkan oleh semua bawahan2 di semua organisasi. banyak juga org2 pekerja keras yang kurang bisa mengambil hati atasan karena takut dikira menjilat. padahal mengambil hati atasan tidak sama dgn menjilat.

  3. Elisa Ratna says:

    really inspiring pak josef,
    saya selalu menantikan artikel2 terbaru dari bapak setiap selasa dan jumat.
    ijin untuk share artikel ini ya pak.
    Terima kasih.

    • josef josef says:

      Terima kasih Elisa, semoga saya terus bisa dapat inspirasi untuk terus menulis dan berbagi. Silahkan Elisa untuk membagi artikelnya ataupun link ke blog

  4. Noor Ali says:

    ilmu yg sangat bermanfaat dari Bapak sangat penting bagi bawahan yg ingin maju..untuk tujuan kesuksesan bersama…

  5. dwinanto wibowo says:

    Terima kasih sharingnya Pak Josef, menginspirasi sekali untuk selalu mengembangkan diri menuju kesuksesan…

  6. Robby ardian says:

    Sebuah artikel yg menggungah rasa ..itulah kenyataannya ,thanks untuk pencerahannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Buku “LEADER as MEANING MAKER” oleh Josef Bataona
  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET