Kuminta Dengarkan Anakmu! (Bagian-1)

Posted on June 14th, 2016

“It is only in our darkest hours that we may discover the true strength of the brilliant light within ourselves that can never, ever, be dimmed.” (Doe Zantamata)

JERITAN MIRNA DI ATAS, saat dia membuka tuntas ceritanya mengalami tindak kekerasan dari teman-temannya di sekolah dulu. Tapi mengapa baru lima tahun lalu dia membuka kisah itu, belasan tahun setelah kejadian sebenarnya? Ibunya hanya menangis mendengarkan, mulut ayahnya seakan terkunci tapi akhirnya mereka meminta maaf, menyesal dan bertanya mengapa tidak diberitahu saat itu. Tidak diberitahu? Ibu tidak pernah mau mendengarkan saya mengadu, langsung menilai, ayah menganggap saya terlalu manja, sensi berlebihan. Akhirnya saya pun hanya menyimpan cerita ini, tidak tahu kepada siapa harus mengadu.

stop kekerasan pada anak

(Image: Pixabay, diolah)

Fakta dan Ulasan tentang Tindak Kekerasan

Dalam sebuah riset yang dilakukan LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) yang dirilis awal Maret 2015 ini menunjukkan fakta mencengangkan terkait kekerasan anak di sekolah. Terdapat 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dari tren di kawasan Asia yakni 70%.

Riset ini dilakukan di 5 negara Asia, yakni Vietnam, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Indonesia yang diambil dari Jakarta dan Serang, Banten. Survei diambil pada Oktober 2013 hingga Maret 2014 dengan melibatkan 9.000 siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orangtua, dan perwakilan LSM.

Selain itu, data dari Badan PBB untuk Anak (Unicef) menyebutkan, 1 dari 3 anak perempuan dan 1 dari 4 anak laki-laki di Indonesia mengalami kekerasan. Data ini menunjukkan kekerasan di Indonesia lebih sering dialami anak perempuan.

Aku dan Keluargaku

Saya (Mirna), berasal dari keluarga besar, ayah dan ibu saya bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurut keluarga, saya sangat dimanja oleh semua orang, termasuk oleh sanak saudara ibu yang lain, karena saya menjadi cucu terakhir di keluarga ibu. Saya memang ingat bahwa saya sering cengeng dan merengek bila meminta sesuatu, dan biasanya kemauan saya akan dituruti.

Asal Mula Kekerasan di Sekolah

Tiba saat saya disekolahkan. Sejak kelas 1 catuwulan 1, saya selalu mendapatkan ranking pertama. Saya juga sering mendapat pujian dari guru. Saya bergaul dengan teman-teman di sekolah dan saya punya 3 sahabat dekat. Kehidupan saya di sekolah baik-baik saja sampai saya kelas 4.

Suatu saat ketika saya sekolah pagi hari, ada siswa kelas 6 bernama Didi mengatakan menyukai saya dan ingin saya menjadi pacarnya. Saya menolaknya. Dia datang lagi bersama temannya dan berdiri di depan pintu kelas. Saya tutup pintu kelasnya. Beberapa hari kemudian dia dan teman-temannya mengolok-olok saya, mengatakan saya jelek tapi sombong. Selepas kejadian itu, teman sekelas saya bernama Deni mulai ikut-ikutan mengolok-olok saya. Teman laki-laki lainnya mengikuti sampai mereka mulai melempari saya dengan kapur, menjambak rambut saya, memukul punggung saya, menempelkan permen karet di rambut, dan menendang bola ke arah saya ketika mereka bermain bola di dalam kelas.

Penolong Terakhir

3 orang sahabat saya jadi takut untuk menemani saya, karena siapa pun yang dekat dengan saya akan dimusuhi oleh mereka. Jadi saya tidak punya teman, kecuali ada 1 perempuan bernama Meli yang senantiasa menjaga saya. Setiap pulang, dia menemani saya, dan bila ada yang mengganggu, Meli yang akan menghadang mereka dan membantu saya. Sering mereka menunggu saat saya berpisah dengan Meli di jalan agar mereka dapat mengganggu saya, karena itu terkadang saya bermain ke rumah Meli hanya untuk mengulur waktu sampai mereka pulang ke rumah dan tidak mengganggu saya.

Selain pulang sekolah, istirahat juga menjadi waktu yang menakutkan bagi saya, karena tidak ada guru di dalam kelas dan mereka bisa menindas saya semaunya. Deni, Dede, dan anak laki-laki lainnya kemudian menambah tingkat kekerasannya kepada saya, yaitu setiap kali saya pulang, saya dikejar dan dipukul.

Bila saya lari, saya dilempari batu. Pernah suatu saat Deni menyatakan perasaan sukanya kepada saya, dan saya jelas menolaknya. Pernah juga, saya dikurung di dalam kelas dan mereka mau memegang saya, saya pukul mereka dengan sapu dan lari ke depan pintu, namun ditutup oleh anak lainnya. Lalu saya kejar-kejaran di dalam kelas hingga akhirnya pintu itu terbuka.

Apakah Orang Terdekat Mendengarkanku?

Saya lari pulang ke rumah sambil menangis ketakutan. Di rumah saya ceritakan kepada kakak saya bahwa saya sering dilempari batu dan dipukul oleh mereka. Kakak  menyuruh saya untuk mengatakannya kepada ayah dan ibu. Saya lalu mengatakannya dan meminta untuk pindah sekolah. Namun, ayah saya mengatakan saya anak yang manja dan saya mungkin melebih-lebihkan kejadian karena saya mau pindah sekolah bukan karena kejadian itu benar apa adanya. Saya kembali ke ruang tamu dan saya menangis.

Keesokannya saya tetap kembali sekolah, namun karena sudah tahu saya akan terus berada di sekolah itu lebih dari 1 tahun lagi, pada saat itu saya sudah kelas 5, maka saya katakan hal ini ke ibu guru saya, namanya Bu Debi. Bu Debi adalah sosok guru yang baik namun tegas, cara mengajarnya mudah dimengerti dan Bu Debi menjadi mentor saya saat saya mengikuti lomba Murid Teladan se-kotamadya. Oleh karena itu, hubungan saya cukup dekat dengan Bu Debi dibandingkan dengan guru lainnya.

Hal pertama yang saya tanyakan adalah, “Bu, apakah ada orang di dunia ini yang hanya menangis saja dan tidak pernah bahagia?” Bu Debi menjawab tidak ada, karena pasti akan ada saat di mana seseorang merasa sedih dan saat di mana dia merasa bahagia. Saya memutuskan untuk tidak memberitahunya pada saat itu, karena ada ketakutan Deni dkk akan semakin memukuli saya sementara saya tidak akan pindah sekolah.

Mengapa dan Mengapa?

Tinggal setahun Mirna di kelas akhir SD. Apakah situasinya berubah? Ternyata tidak…. Apakah kesabaran Mirna membuahkan hasilnya? Ternyata sebaliknya terjadi… Lalu mengapa Mirna terus berdiam seakan menerima bahwa dia memang harus menjadi korban? Ikuti lanjutan kisah ini di posting berikutnya.

(Catatan: Semua nama dalam kisah ini dan lanjutannya sengaja disamarkan)

“Use what you’ve been through as fuel, believe in yourself and be unstoppable!” (Yvonne Pierre)

Bookmark and Share

2 Responses to Kuminta Dengarkan Anakmu! (Bagian-1)

  1. Ditunggu kisah selanjutnya pak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2. Mari kita terus saling belajar. Salam

Nurita Magdalena:
Terima kasih banyak Pak Josef atas sharing yang menginspirasi

josef:
Terima kasih banyak Suster Marietta, sudah berkenan mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini. Buku itu hadiah...

Sr.Marietta:
Yth Bapak Yosef Bataona, 2 buku yang saya terima melalui Sr.Agnes Keraf SFS sangat meneguhkan dan...

josef:
Terima kasih sama2 Coach Amanda, sudah berkenan mengunjungi blog ini dan menyimak tulisan ini. Selain itu...


Recent Post

  • Manusia Seutuhnya
  • Shani Yang Memberdayakan
  • Meraih Trust dan Respect
  • Learn Unlearn Relearn
  • Panggilan Mengubah Paradigma
  • Belajar Bersama dari Buku Leader as MEANING MAKER
  • Sikapi Dengan Hati Yang Jujur
  • Agar Tetap Tegak Diterpa Badai
  • Mengasah Listening Skill Menuju Peran Sebagai MEANING MAKER
  • Tim Membutuhkan TRUST