Posted on June 17th, 2016
“Every adversity, every failure and every heartache carries with it the seed of an equivalent or a greater benefit.” (Napoleon Hill)
MENDUNG MASIH MELIPUTI hidup Mirna di tahun terakhir SD. Berikut kisah lanjutan Mirna yang dia tuturkan apa adanya.
Lomba Murid Teladan semakin dekat, saya ikut serta dalam lomba tersebut dan saya memenangkan Juara Harapan 2, cukup lumayan untuk SD saya. Oleh karena itu, Bapak Kepala Sekolah mengumumkan hal ini di upacara bendera hari Senin. Ketika nama saya dipanggil dan saya beranjak ke depan barisan, anak laki-laki itu mulai melempari saya dengan topi dan lama-lama saya dilempari sepatu. Acara itu jadi agak kacau, para guru berusaha menenangkan dan saya tetap diminta maju ke depan, kemudian bapak kepala sekolah menyerahkan piala itu ke saya.

(Image: Pixabay, diolah)
Menindas Lebih Jauh karena Dilaporkan
Setelah kejadian itu, Bu Debi menanyakan kepada saya, kenapa mereka melemparkan sepatu kepada saya. Kemudian saya ceritakan apa yang saya alami dan Bu Debi kaget. Deni, Dede, dan kawan-kawannya dipanggil oleh Bu Debi dan katanya mareka ditampar.
Siangnya, mereka menunggu saya di luar kelas dan ketika saya masuk ke gang kecil yaitu jalan pintas dari kelas ke gerbang keluar, ternyata mereka sudah menunggu saya di ujung gang, dan ketika saya mau kembali, mereka juga menunggu saya di ujung satunya lagi, sehingga saya terjepit dan tidak dapat pergi kemana-mana. Mereka menghampiri saya dan meraba-raba. Saya berteriak dan saya tendang mereka sekeras-kerasnya, kemudian mereka menjambak rambut saya dan memukuli punggung saya, saya balas memukul dan entah bagaimana akhirnya saya bisa lolos.
Menghabisi Hal yang Mereka Benci
Sehari-hari saya tetap diganggu oleh mereka sampai kelas 6. Pada waktu EBTANAS, atau ujian akhir sekolah, di hari ketiga, saya diberitahu oleh teman saya bahwa kertas jawaban saya diutak-atik oleh mereka. Ketika saya masuk ke dalam kelas, benar saja, mereka sedang menghapus jawaban saya dan mengisi dengan jawaban lain. Saya kaget dan saya berteriak kemudian saya berikan ke guru pengawas.
Di akhir sekolah, saya, murid yang selalu mendapatkan ranking 1 sejak kelas 1 sampai dengan kelas 6, mendapatkan NEM yang kecil, yaitu 38,60. Ketika keluarga saya mengetahui hal ini, mereka heran mengapa lembar jawaban bisa diganti oleh murid yang lain dan mengapa saya tidak memberitahukannya ke pengawas ujian. Entahlah, saya tidak ingat.
Faktor Penyulut dan Langkah yang Dilakukan
Dalam kilas balik, Mirna melihat ada beberapa faktor yang kemungkinan bisa menjadi penyulut apa yang dialaminya:
Mirna telah mencoba mengambil beberapa langkah penting, antara lain membela diri, tapi apa daya dia sendirian. Di samping itu Mirna juga berusaha menceritakan pada orang tuanya, tapi mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkan Mirna, bahkan dengan memberikan penilaian bahwa itu karena Mirna manja atau maunya dia untuk pindah sekolah.
Pesan untuk Guru dan Orang Tua
Kisah di atas sengaja diutarakan Mirna sambil menyampaikan pesan berikut ini kepada semua pihak, Orang Tua, Guru, dan siswa sekolah:
Pelajaran Berharga Bagiku dan Orang Lain
Mirna masih melanjutkan dengan kata-kata penutup:
Kejadian di atas sudah berlalu sekitar 22 tahun lalu, namun beberapa detail tidak bisa saya lupakan. Sekarang, saya sudah menikah dan memiliki suami yang sangat penyayang. Karir saya juga berjalan dengan baik, saya mendapatkan posisi yang cukup baik dan memiliki pengetahuan yang cukup baik di bidang saya.
Everything happens for a reason. Pengalaman ini sangat berarti untuk pelajaran hidupku, tapi juga ingin saya bagi, semoga bermanfaat bagi orang lain dalam menghadapi kejadian-kejadian seperti yang saya alami.
“You are today where your thoughts have brought you; you will be tomorrow where your thoughts take you.” (James Allen)
josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...
Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...
josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...
josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...
josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...