Posted on October 23rd, 2026
“A person who respects others is respected by others in return. Those who treat others with compassion and concern are protected and supported by others. Our environment is essentially a reflection of ourselves.” (Daisaku Ikeda)
SENYUM PENUH SYUKUR. Jelang tidur malam, ada pesan WA dari seorang teman: Selamat malam Pak Josef…apa kabar Bapak?
Maaf ganggu…saya ingin share aja…saya kebetulan sore ini ada keperluan ke Sarinah Thamrin, dan janjian sama teman di Coffee Shop – Filosofi Coffee Literasi…lagi hits… dimana toko buku digabungkan dengan coffee shop … Rame terus sampai susah dapat bangku… dan ada yg menarik perhatian saya…yaitu ini Pak …

Ada buku Bapak dipajang di Filosofi Coffee Literasi Sarinah Thamrin… Luar biasa dan bangga saya melihatnya…karena bukunya bagus dan saya kenal dengan penulisnya.
Harkat Karyawan Sebagai Manusia
Kata teman ini, Coffee Shop ini rame terus dan susah dapat bangku. Artinya disana ada yang penting serta menarik. Dan mereka yang berkunjung kesana ingin diperlakukan sepadan, ingin diperhatikan, didengar, dilayani.
Pemilik Coffee shop ini juga menyadari sepenuhnya, bahwa pelanggan adalah raja. Mereka layak menerima pelayanan yang memuaskan. Tapi itu saja belum cukup. Pemilik Filosofi Coffee Literasi Sarinah Thamrin memberikan sebuah pesan penting bagi pengunjung, dengan menghadirkan buku MEMANUSIAKAN MANUSIA disana.
Semua pengunjung di layani oleh karyawan Coffee shop. Karyawan itu adalah juga manusia seperti kita para pengunjung. Karena itu kita dituntut (bukan oleh mereka, tapi oleh hati nurani kita) untuk mengangkat harkat mereka sebagai manusia, yang juga ingin dihargai, diperlakukan sebagaimana mestinya.
Orang Penting Yang Sering Diabaikan
Bagi yang sudah menyimak buku ini, di artikel 1.2 halaman 11, secara gamblang saya bercerita tentang interaksi saya dengan mereka yang menyediakan kopi bagi kami setiap hari di kantor, staf pantry. Kita semua hadir di perusahaan karena dibutuhkan oleh perusahaan, hanya saja peran kita yang berbeda. Artinya, semua kita penting. Karena itu tak boleh ada orang atau unit/bagian di Perusahaan yang merasa lebih penting dibandingkan dengan yang lain. Semua sama pentingnya. Karena itu kita hendaknya saling menghargai dan saling mempercayai satu sama lain.
Saya terkadang menyapa mereka dengan melemparkan pertanyaan sederhana saat mereka mengantar kopi: Apa yang membuatmu tersenyum pagi ini? Dan jawaban polos mereka tidak beda dengan karyawan lainnya:
”Senyum pagi ini karena bisa bercanda dengan ibu sebelum berangkat kerja.” Kata Tabah
”Anak-anakku dengan manja minta uang jajan buat di sekolah, walaupun tidak banyak, tapi saya masih bisa membagi mereka, dan mereka gembira sekali. Itu yang membuat saya senang dan tersenyum,” Demikian pengakuan Sukadi
Dibalik Setiap Target Ada Manusia
Selang beberapa hari, muncul posting lain dari mba Alfia Wardah. Atas izinnya saya angkat slide foto dan captionnya di Instagram (@aliawardah) secara utuh untuk kita simak bersama. Terima kasih Coach Alfia:

Senang bisa bertemu dan berdiskusi dengan Pak @josefbataona , sekaligus menerima buku Memanusiakan Manusia. Satu pesan yang sangat mengena bagi saya: manusia bukan sekadar angka dalam pencapaian target. Ketika seseorang merasa didengar, dihargai, dan dipahami, mereka akan berkontribusi bukan karena terpaksa, tetapi karena memang ingin memberikan yang terbaik.
Sebuah pengingat bahwa leadership bukan hanya tentang mencapai performance, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan manusia di balik setiap pencapaian. Karena pada akhirnya, bagaimana kita memimpin manusia akan menentukan bagaimana mereka bertumbuh dan berkontribusi. Keep learning, keep growing.
Jadikan Kebiasaan
Kalau kita cermati benar pesan-pesan diatas, yang menurut saya bukan pula kebetulan, maka kita akan semakin paham bahwa memperlakukan manusia lain sesuai harkatnya sebagai manusia, harus diniatkan dan dilaksanakana setiap hari, dimanapun kita berada, dan dengan tulus. Bila secara sadar kita menjalankan itu, maka akan menjadi kebiasaan. Mudah2an kebiasaan kita itu bisa juga menular kepada yang lain yang menyaksikannya saat bersama kita. Pesan orang bijak:
Treat people the way you want to be treated. Talk to people the way you want to be talked to. Respect is earned, not given – Hussein Nishah
Kalau kita bisa saling mengingatkan untuk kebiasaan sederhana seperti itu, mudah-mudahan akan cepat menular kemana saja dan dimana saja kita berada dan berinteraksi dengan yang lain. Semoga!
Terima kasih kami haturkan kepada pemilik Filosofi Coffee Literasi Sarinah Thamrin, semoga sukses selalu!
“Respect other people regardless of the level they are at… or the level you are at. When you hand out respect, you get it back.” (Erik Estrada)
josef:
Terima kasih pak Aktry Sani Husni, kalau saya bisa kalianpun bisa, dimulai dengan hal kecil keseharian. Yang...
Aktry sani Husni:
Bapak luar biasa, banyak ide sederhan yang muncul setelah mendengarkan materi bapak. Salah satu nya...
josef:
Terima kasih sama2 Lia, ditengah kesibukanmu dalam perjalanan baru, masih sempat menyimak tulisan ini dan...
lia catri:
Mungkin inilah makna Develop yang semakin diperkaya dewasa ini. Bukan hanya: How do I become better?...
josef:
Terima kasih mba Rani, untuk memberikan ulasan tambahan tentang apa yang dihayati saat menyimak paparanku....