Posted on September 18th, 2026
“MEANINGFUL RELATIONSHIPS that drive success and enrich our lives, depend on our deepest human powers, that we already possess, like empathy, listening, vulnerability, and generosity, which come from being present with our minds, our bodies, and our hearts.” (Fredric Steck)
Saya berkesempatan untuk berbagi di forum Mastering Industrial Relations, di Matahati BoothCamp, diselenggarakan oleh IRSchool.id.
Industrial Relations memang menyimpan banyak permasalahan yang seharusnya bisa ditemukan jalan keluarnya. Bila kita memaknai Industrial Relations ini sebagai Hubungan Antar Manusia di Industri, mungkin akan membantu dalam pendekatan kita. Saya hadir disana membawa cerita, kisah kami bersama partner lainnya yang bernama Pimpinan Unit Kerja, karyawan, atau bahkan dengan para pemimpin di perusahaan.

Saling Memahami
Di awal kaier, saya ditugaskan di pabrik selama lima tahun, dimana saya belajar banyak tentang manusia, human behaviour, bagaimana berkomunikasi dengan karyawan di berbagai level dan lini. Saya berhadapan langsung dengan dinamika Industrial Relations, yang justru memberikan saya banyak ruang untuk belajar dan bertindak.
Agenda Bipartit pertama menghadirkan 30 butir yang diajukan oleh PUK Serikat Pekerja. Setelah mencermati semuanya, saya mengambil langkah penting: mengajak rekan2 PUK dan sepakati diawal untuk membahas berapapun yang bisa dibahas selama waktu yang tersedia. Sisanya bisa dilanjutkan di pertemuan berikut. Hari itu ada lima butir penting yang kami bahas. Ada yang bisa langsung dijawab, ada yang memerlukan tindak lanjut olehku.
Dalam beberapa bulan kedepan ternyata, kami berhasil menyelesaikan semua butir agenda dan tambahan lainnya. Namun yang menarik untuk dicatat adalah:
Dan semuanya itu bermuara pada satu satu hal penting, kami melihat kehadiran teman2 semua sebagai manusia, yang ingin didengar, dimengerti dan dihargai. Kami hanya berbeda peran.
Di kesempatan sharing itu saya kembali mengedepankan pesan Menteri Ketenagakerjaan saat BUKBER 2026 dengan GNIK/PPIK, dengan tema menggugah: “Memanusiakan Pekerja.”
Jangan-jangan kita sibuk mengelola pekerjaan, hingga lupa memastikan bahwa pekerjaan itu sendiri hendaknya Memanusiakan Pekerja. Jika MAKNA itu hilang, mungkin pekerjaan kita juga kehilangan rohnya
Gaung MEMANUSIAKAN MANUSIA ini hendaknya terus dikumandangkan dan dilaksanakan.

Menyamakan Sudut Pandang
Di perusahaan berikutnya, tempat saya juga berkarya, ada banyak pabrik, disana saya temukan banyak Supervisor yang sangat berpengalaman dipimpin oleh assisten manager yang baru dan kurang berpengalaman. Sering muncul riak2 dalam berinteraksi, hanya karena pendekatan yang belum memadai.
Menyadari hal tersebut, kami merancang program bersama Team Industrial Relations Pusat, untuk berkeliling dan berusaha menyatukan sudut pandang tentang peran masing-masing, dan bagaimana memotret berbagai permasalahan.
Garis besar dibalik berbagai bahan diskusi adalah: semua karyawan dimanapun mereka bertugas, hadir di perusahaan ini karena dibutuhkan. Kita memang beda peran, namun perlu memainkan peran itu secara bijak.
Sering terjadi benturan diantara mereka yang menyulut kasus yang harus dieskalasi ke Pusat. Kalau semua persoalan bisa diselesaikan setempat, maka tidak akan ada eskalasi ke pusat. Kami mengajak para pihak terkait untuk mulai menyamakan sudut pandang tentang berbagai aspek HUBUNGAN ANTAR MANUSIA di lokasi kerja masing-masing,
Karyawanpun Merasa Didengarkan
Cerita yang sering saya sampaikan diberbagai forum, contoh sederhana keberanian karyawan mengajukan usul dan ditindak-lanjuti untuk memberikan insentif kecil berupa: Parkir Khusus Best Employee. Saat para manager turun dan berdialog dengan karyawannya, mereka bisa mendapatkan kejutan dari usulan2 yang tidak terduga seperti itu. Dan karyawanpun merasa didengarkan, pendapat mereka dihargai, dan proyek kecil yang mereka kerjakanpun mendapat perhatian management.
Dalam bukunya berjudul CONNECTABILITY, Fredric Steck mengemukakan:
“Kita semua ingin hubungan yang membawa kita dari satu hasil positif ke hasil positif berikutnya — hubungan bisnis dan pribadi yang saling menguntungkan yang tumbuh seiring waktu, lebih besar daripada sekadar sebuah transaksi, serta membawa MAKNA saat hubungan itu meningkatkan karier kita atau memperkaya kehidupan pribadi kita. Membina koneksi membutuhkan perhatian, kepedulian, dan komitmen pada hal-hal yang benar-benar membangun ikatan di antara kita sebagai manusia.”
Dan karyawan yang mendapat penghargaan kecil tersebut pasti termotivasi dan dia akan tinggal dan terus bekerja sepenuh hati demi kemajuan Perusahaan.
Hubungan Kerja Harmonis dalam Unit Kecil
Saya sengaja mengunjungi kapal kargo (Bulk Carrier) yang mengangkut Gandum dari luar negeri untuk kebutuhan produksi tepung, berdialog dengan pimpinan dan karyawan disana, untuk memahami cara kerja dan cara membangun hubungan selama tiga bulan berlayar.

Butir-butir berikut sangat penting untuk diperhatikan:
Semua karyawan mendapatkan kejelasan tentang perannya, kemana tujuan kapal dan berapa lama. Semua harus komit menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung-jawab, termasuk menjaga fisik sehat dan bugar, karena kalau ada yang sakit, tugasnya dibebankan kepada temannya.
Keselamatan Kerja Karyawan adalah MUTLAK, selain kondisi kapal yang prima. Empower others dan TRUST adalah kosa kata penting. Kemampuan mengambil keputusan, terutama demi keselamatan kapal dan manusia adalah krusial.
Teknologi andalan bukan pilihan tapi keharusan, untuk membantu arah maupun komunikasi dengan yang di darat.
Terakhir, kaptennya sendiri harus tetap antusias untuk bisa menjaga antusiasme semua crew, mengingat mereka akan berlayar dalam waktu yang lama.
Bila semua unit kecil di Perusahaan saling peduli untuk membangun harmoni kerja seperti contoh di atas, maka banyak masalah Industrial Relations bisa diredam. Kunci Semuanya itu adalah Memanusiakan Manusia yang namanya karyawan.
Dan dalam membina connectability, sebagai leader, saya akan tetap ingat pesan Lolly Daskal, yang sengaja saya tempatkan sebagai penutup tulisan ini.
“You don’t have to be perfect, you just have to be real. The most important part of your life is to be exactly who you are, and the most important thing you need to think about is not being perfect but being authentic, genuine, and heart-centered.” (Lolly Daskal)
josef:
Terima kasih mba Rani, untuk memberikan ulasan tambahan tentang apa yang dihayati saat menyimak paparanku....
Rani Wijaya:
Pak Josef, saya salah satu peserta di purna bakti ini dan senang sekali sudah mengulik AHA saya :...
josef:
Terima kasih Rina. Bisa juga refleksinya dibuat bertahap. Sepuluh tahun dari sekarang Rina mau jadi apa? Untuk...
Rina Ismariati:
Pertanyaan tentang, “Kalau hidup ini diibaratkan sebuah buku, apa judul bab berikutnya?” jujur bikin...
josef:
Terima kasih mba Malla, setiap kita punya keunikan yang bisa dibagi kepada orang lain. Terkadang kita gunakan...