Beyond the Moment

Posted on September 11th, 2026

“What matters is not what we take from life, but what we leave in the hearts of others.”

Perjalanan ke Lampung sebenarnya sudah selesai. Lima mobil kembali menyeberangi Selat Sunda. Rutinitas menunggu di Jakarta. Pekerjaan kembali berjalan seperti biasa.

Tetapi ada beberapa hal yang rasanya masih tertinggal. Bukan di hotel. Bukan di Pondok Nelayan Lempasing. Bukan pula di dalam mobil atau kapal ferry. Tetapi di dalam pikiran. Apa sebenarnya yang kita bawa pulang dari sebuah perjalanan bersama keluarga? 

Berikut foto bersama di Pondok Nelayan Lempasing.

Dari bersenang-senang menjadi belajar

Kami meminta setiap peserta menjawab dua pertanyaan sederhana: Apa yang paling menyenangkan dari perjalanan ini? Dan pengalaman apa yang bermanfaat untuk kehidupan ke depan?

Jawabannya beragam:  Ada yang menyukai hotel. Ada yang senang kulineran. Ada yang senang berenang. Ada yang menikmati naik kapal. Tetapi di balik jawaban sederhana itu muncul sesuatu yang lebih dalam.

Bahagia kumpul dengan keluarga. Bahagia ternyata lebih nikmat dirasakan bersama keluarga. Saling peduli. Kesalahan adalah hal yang wajar. Akui dan belajar dari kesalahan. Pengalaman baru bisa dilakukan dengan kebersamaan. Waktu bersama keluarga ternyata sangat berharga. Saya membaca satu per satu jawaban itu dan berpikir: ternyata sebuah perjalanan bisa menjadi ruang belajar tanpa harus menjadi kelas.

 

Lempasing mengajarkan sesuatu

Kami kembali mengunjungi Pondok Nelayan Lempasing. Tempatnya sederhana. Perahu-perahu nelayan berlabuh di sana. Hasil tangkapan dibawa pulang dan kemudian sebagian langsung disajikan kepada pengunjung. Berikut foto suasana makan siang bersama.

Kami datang sebagai pelanggan. Kami menikmati ikan, cumi, udang dan kerang yang segar. Tetapi di balik meja makan itu ada kehidupan orang lain.

Ada nelayan yang pergi melaut. Ada keluarga yang bergantung pada hasil tangkapannya. Ada orang yang membeli hasil laut itu dan mengolahnya menjadi hidangan. Kami menikmati perjalanan sekaligus ikut menggerakkan kehidupan ekonomi kecil di sana.

Saya kira ini juga bagian dari creating moments. Sebab momen yang baik tidak harus berhenti pada kesenangan kita sendiri. Ia bisa menjadi kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.

 

Kepedulian tidak selalu membutuhkan panggung

Di tengah perjalanan, kami juga menyempatkan diri mengunjungi saudara yang sedang sakit. Sederhana. Tidak ada acara khusus. Tetapi perjumpaan itu meninggalkan kesadaran yang dalam: kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan hidup kita masing-masing.

Salah satu peserta mengatakan pengalaman itu membuatnya semakin termotivasi untuk hidup lebih sehat. Saya tersenyum. Begitulah keluarga. Kadang kita datang untuk menghibur orang lain, tetapi justru kita sendiri yang pulang membawa pelajaran. Kehadiran kita mungkin sederhana bagi kita, tetapi bisa sangat berarti bagi orang yang sedang membutuhkan. 

 

Dari keluarga, kepedulian bergerak lebih jauh

Ada satu momen lain yang menurut saya penting. Di perjalanan ini, masing-masing anggota keluarga menyisihkan sedikit uang dari tabungan pribadi untuk membantu saudara-saudara kita yang mengalami bencana di Flores, NTT.

Tidak besar. Tidak perlu disebut jumlahnya. Yang penting adalah kemauan untuk berbagi. Dana tersebut langsung ditransfer kepada pihak yang menangani bantuan di Ende, Flores.

Saya melihat ada sesuatu yang indah di sini. Kami sedang menikmati perjalanan. Tetapi kami tidak lupa bahwa di tempat lain ada saudara-saudara yang sedang mengalami kesulitan. Kebersamaan ternyata bisa melahirkan kepedulian. Dan kepedulian, ketika dilakukan bersama, bisa menjadi kontribusi.

 

Family is not only about belonging

Selama ini kita mungkin memahami keluarga sebagai tempat kita berasal. Tempat kita pulang. Tempat kita merasa diterima. Tetapi mungkin keluarga juga merupakan tempat kita belajar bagaimana menjadi manusia.

Belajar peduli. Belajar berbagi. Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar menghargai yang lebih tua. Belajar memberi ruang kepada yang lebih muda. Belajar bahwa kebahagiaan kita tidak harus mengurangi kebahagiaan orang lain. Dan mungkin yang paling penting: belajar bahwa kita tidak hidup sendirian. Kita boleh menjadi pribadi yang mandiri. Tetapi kita tetap saling membutuhkan: Independent, yet interdependent. Itulah keluarga yang sehat.

 

Legacy ternyata dimulai dari hal-hal kecil

Kita sering membicarakan legacy seolah-olah ia sesuatu yang besar. Nama yang dikenang. Prestasi yang dicatat. Harta yang diwariskan. Padahal mungkin legacy dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Anak yang belajar peduli karena melihat orang tuanya peduli. Generasi muda yang belajar berbagi karena melihat generasi senior berbagi. Seseorang yang belajar meminta maaf karena pernah melihat orang dewasa mengakui kesalahannya. Keluarga yang tetap saling mengunjungi meskipun sudah tinggal berjauhan. Cerita tentang perjalanan yang terus diceritakan bertahun-tahun kemudian.

Legacy is not always what we leave behind. Sometimes it is what we leave inside people.

Karena itu saya teringat kembali perjalanan hidup saya sendiri. Semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa yang penting bukan hanya apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi siapa yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.

Berikut foto hidangan khas Lempasing

 

Creating moments, creating meaning

Mungkin itu pula yang sesungguhnya kami lakukan dalam perjalanan ke Lampung. Kami bukan hanya menciptakan foto. Kami menciptakan cerita. Bukan hanya menikmati makanan. Kami menciptakan kenangan. Bukan hanya menginap di hotel. Kami menciptakan ruang untuk bertemu. Bukan hanya mengunjungi keluarga. Kami merawat hubungan. Bukan hanya menikmati perjalanan. Kami belajar. Dan bukan hanya bersenang-senang bersama. Kami menemukan kesempatan untuk peduli kepada mereka yang membutuhkan.

Itulah sebabnya saya menyukai dua kata sederhana ini: Creating Moment.

Karena sebuah momen tidak selalu datang dengan sendirinya. Kadang ia harus kita ciptakan. Kita harus menyediakan waktu. Kita harus hadir. Kita harus mengajak. Kita harus membuka ruang. Kita harus mau berjalan bersama.

Dan ketika momen itu tercipta, jangan lupa menikmatinya. Sebab waktu tidak akan kembali. Anak-anak akan bertambah besar. Orang tua akan semakin tua. Kita sendiri akan terus bergerak menuju fase kehidupan berikutnya.

Suatu hari nanti, mungkin yang tersisa hanyalah cerita. Dan mudah-mudahan, ketika cerita itu diceritakan kembali, kita bisa tersenyum dan berkata: “It was worth the time we made for each other.”

“In the end, our lives are measured not by the moments we owned, but by the moments we shared and the lives we touched.”

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Rani, untuk memberikan ulasan tambahan tentang apa yang dihayati saat menyimak paparanku....

Rani Wijaya:
Pak Josef, saya salah satu peserta di purna bakti ini dan senang sekali sudah mengulik AHA saya :...

josef:
Terima kasih Rina. Bisa juga refleksinya dibuat bertahap. Sepuluh tahun dari sekarang Rina mau jadi apa? Untuk...

Rina Ismariati:
Pertanyaan tentang, “Kalau hidup ini diibaratkan sebuah buku, apa judul bab berikutnya?” jujur bikin...

josef:
Terima kasih mba Malla, setiap kita punya keunikan yang bisa dibagi kepada orang lain. Terkadang kita gunakan...


Recent Post

  • Beyond the Moment
  • Creating Moments
  • Sebelum Pensiun, Sudahkah Kita Menyiapkan Diri?
  • Pertemanan yang Mendorong Pertumbuhan
  • Ketika Hidup Menjadi Sekolah Kepemimpinan
  • Dari Best Practice Menuju Next Practice
  • Menjadi Manusia yang Layak Diikuti
  • Tiga Cermin di Momen Bahagia
  • Coaching Conversation dan Human Transformation
  • Memberi Ruang Menumbuhkan Masa Depan