Memanusiakan Manusia Dalam Keseharian

Posted on October 31st, 2025

“Leaders touch the heart before they ask for a hand.” (John C Maxwell)

TUKAR PIKIRAN santai melalui zoom, bersama mba Melati Mew dari Kompas, yang sedang mempersiapkan laporan seputar praktek Well-being di beberapa perusahaan. Laporan ini disajikan di harian Kompas Minggu, 26 Oktober 2025. Atas izinnya, saya hadirkan kembali tulisannya ini untuk pembaca blog yang tercinta. Berikut tulisan mba Melati seutuhnya.

 

Bahasa Sederhana Sulit Implementasi

”Seperti kata John C Maxwell, leaders touch the heart before they ask for a hand. Seorang pemimpin yang memanusiakan karyawan itu membuat karyawan mau berkontribusi bukan karena terpaksa, tetapi karena mereka merasa dihargai dan memang mau melakukan sesuatu yang baik itu. Pemimpin seperti itu memperlakukan karyawan sesuai dengan harkat manusia, yakni ingin didengarkan, dihargai, dan dipahami,” ucap Josef Bataona, praktisi human resources, yang diwawancara secara daring pada Rabu (22/10/2025).

Menurut Josef, karyawan seperti apa pun, dengan potensi dan kekurangan masing-masing, dapat berkembang menjadi lebih baik jika dipimpin oleh sosok leader yang tepat. Seorang karyawan memang tidak bisa memilih siapa atasan mereka, sehingga saat mereka bertemu dengan leader yang hanya mengandalkan perintah dan membuat anak buah harus nurut, hasilnya menjadi tidak maksimal.

”Cepat atau lambat, anak buah ini akan merasa tertekan karena tidak didengarkan untuk boleh mengikuti caranya sendiri. Padahal, mereka punya cara lain yang lebih efektif,” kata Josef.

 

Jika memiliki kemampuan influencing, lanjut Josef, seorang leader bisa membuat karyawan mengerjakan lebih dari sekadar job descriptionyang hasilnya 1,5 kali hingga 2 kali lipat dari target. Ini terjadi jika mereka termotivasi melalui pengaruh pemimpin. Tanpa pengaruh itu, karyawan mungkin tidak menemukan makna di balik pekerjaan mereka, sehingga motivasi menurun, pekerjaan terasa monoton, dan produktivitas menurun.

”Inilah yang menjadi inti konsep bahwa pemimpin tidak hanya memberi tahu karyawan tentang apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengajak mereka memahami ’mengapa’ di balik pekerjaan itu. Pemimpin mendorong mereka untuk menemukan sendiri makna pekerjaan mereka, menghargai pendapat, dan memberi ruang bagi ide-ide baru,” ucapnya.

Simak juga selengkapnya di link ini: Kantor Sehat yang Mendengarkan Karyawan

 

Isu Kekinian dan Selalu Relevan

Di halaman depan buku MEMANUSIAKAN MANUSIA, Seni Mengangkat Harkat Karyawan Sebagai Manusia, dituliskan:

“Isu memanusiakan manusia tetap hangat sepanjang waktu. Kita akan terus saling mengingatkan agar dalam praktek sehari-hari kita sejalan dengan pemahaman itu.” (Josef Bataona)

Dengan demikian tulisan di harian Kompas tersebut bukan sekedar sebuah laporan, tetapi upaya untuk terus menghidupkan makna Memanusiakan Manusia, terus mengingatkan para leader akan pentingnya hal tersebut dalam memimpin timnya. Mereka akan surprise sendiri bahwa hasil kerjanya akan berlipat ganda.

Karena itu tidak berlebihan kalau ibu Deby Sadrach meneguhkan dalam kata pengantar di buku ini:

Meminjam istilah marketing lagi, ketika membaca buku ini, mudah-mudahan pembaca, seperti saya, secara engaging akan dibawa melaju dari tingkat ”awareness” sampai pada tingkat ”conviction” tentang peran memanusiakan manusia yang tidak dapat tidak harus dilakukan para pemimpin untuk menghadirkan kemajuan di bidang apapun kita dipercaya untuk bertanggung jawab.

”The greatest change in corporate culture – and the way business is being conducted – may be the accelerated growth of relationship based …. On partnership.” (Peter Drucker)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna
  • Saya Adalah Pemimpin (I Am a Leader)
  • Transformasi Ke Level Berikutnya