Pandemi: Empathy dan Coaching

Posted on May 7th, 2021

“Recognise that every interaction you have is an opportunity to make a positive impact on others.” (Shep Hyken)

DISKUSIReboan. MOMENT belajar banyak tersedia. Mereka yang mau berbagi juga tersebar dimana-mana. Yang mau belajarpun tak terhitung. Tantangannya, bagaimana mempertemukan yang mau berbagi dan mereka yang bersedia untuk belajar, agar moment pembelajaran itu tercipta. Malam itu teman-teman alumni Universitas Sanata Dharma Jogya yang berkarya di bidang HR di berbagai perusahaan, dan yang masih belajar, mengajak saya untuk berbincang-bincang dalam forum yang mereka namakan #DiskusiReboan.

Kepekaan Seorang Pemimpin

Suatu hari di tengah pandemi, anda menerima telpon dari atasanmu: Apa yang bisa saya bantu agar pekerjaanmu sekarang ini bisa diselesaikan dengan lebih baik?

Beberapa jawaban di chat diberikan:

Sangat senang; Happy pak; merasa diperhatikan; senang Pak, berarti bos saya perhatian; merasa diperhatikan pak; kaget!; Spirit saya terjaga kembali; kaget dan happy; wah tumben; tanda tanya

Saat saya meminta konfirmasi apa maksud dari pernyataan: Tumben, tanda tanya, atau kaget, peserta menjelaskan: dalam kondisi normal di tempat kerja saja jarang disapa atasan, maka tidak bisa membayangkan bahwa dia mau melakukan dalam situasi pandemi ini.

Walaupun komen ini datangnya hanya dari beberapa peserta, namun ini menjadi rujukan bagus untuk diskusi, mengapa aspek LISTENING menjadi semakin penting selama pandemi, dan mengapa perlu untuk didiskusikan.

Catatan penting yang perlu disadari adalah bahwa pola hubungan antar atasan bawahan yang dibangun sebelum pandemi akan sangat kuat mewarnai hubungan selama pandemi. Jadi seperti contoh diatas, kalau tim jarang disapa atasan, sangat boleh jadi, akan dilakukan juga selama pandemi. Seandainya para pihak segera menyadari bahwa ada yang perlu diperbaiki, maka ini merupakan kesempatan baik, walaupun hasilnya tidak dalam semalam.

Kontras Dengan Yang Suka Detail

Kontras dengan atasan yang kurang peduli, yang jarang menyapa timnya, seorang peserta bertanya, bagaimana pandangan bapak dengan tipe Leader yang micro-manage? Maksudnya, atasannya sangat detail mau tahu setiap detail pekerjaan, setiap progress.

Sambil terus belajar plus/minus tipe leadership seperti itu, beberapa langkah kecil yang bisa dicoba:

  1. Memahami secara jelas apa permintaan atasan dalam tugas tersebut.
  2. Apa kriteria keberhasilan di mata beliau
  3. Bilamana perlu dibuatkan jadual yang disepakati, termasuk di titik mana diperlukan konsultasi atau konfirmasi dari atasan.
  4. Sejauh mana kita diberikan keleluasaan untuk memutuskan bertindak,

Yang terpenting dari langkah tersebut diatas, adalah upaya untuk meraih TRUST dari atasan, meyakinkan dia melalui hasil kerja, bahwa sebagai anak buah kita juga bisa diandalkan, asal diberi kesempatan. Berikut foto beberapa peserta.

PMS dan Tulus Memberi Feed-Back

Ada peserta yang sedang membenahi PMS (Performance Management System) di perusahaannya, dan bertanya, bagaimana membangun komitmen dan disiplin para leader untuk memberikan feed-back.

Tantangan yang banyak dihadapi adalah disiplin untuk melakukan one on one session dengan setiap anggota team, mulai dari setting target, progress review dan year end result review. Satu kata yang penting dalam konteks PMS adalah PERFORMANCE. Dan bagian terpenting dalam berbicara tentang Performance adalah MANUSIA yang menjadi anggota teamnya. Sering terdapat ketegangan dalam menentukan pencapaian di akhir tahun, karena beda persepsi dan kita terlalu fokus pada angka. Kalau saja sepanjang tahun leader meluangkan waktu untuk melakukan dialog dengan anak buahnya, termasuk tentang bagaimana dia bisa membantu untuk pencapaian target, maka diskusi akhir tahun akan lebih nyaman. Usaha untuk menekan subyektivitas sudah dlakukan berkala, sehingga anak buah akan bisa menerima dengan perasaan bahwa penilaian itu obyektif.

Dan tidak kalah pentingnya adalah, timnya terus melihat proses sebagai pembelajaran untuk tumbuh dan berkembang.

Lebih Fokus Pada Manusia

Saat saya menyiapkan tulisan ini, ada artikel yang disajikan LinkedIn, yang menampilkan kisah sebuah perusahaan yang mengubah cara pandangnya terhadap Performance Management: Our people are greater than numbers. Pengalaman selama Pandemi mempertebal keyakinan mereka akan langkah baru ini.

Agar karyawannya bisa tumbuh dan berkontribusi, mereka menghendaki ownership lebih atas goal mereka, serta mengharapkan lebih sering mendapat feed-back dan coaching. Mereka ingin tinggalkan performance rating, karena hasil pekerjaan mereka tidak bisa diukur dengan angka. Pendekatan baru lebih fokus pada PEOPLE melalui 4 elemen, yang diyakini bisa menumbuhkan Learning and Growth dalam mencapai potensi secara maksimal, baik secara individu, team atau perusahaan. Berikut keempat elemen tersebut:

  • Objectives: We’re not looking for task lists, tick boxes and scores. We want big, bold objectives that span multiple years, are self-created and team-aligned, and that inspire us all to have impact and drive transformative innovation.
  • Feedback: Throughout the year, we’re encouraging our people to seek, give and receive feedback frequently and promptly, empowering them to take ownership for driving the business forward, and supporting them with coaching and frequent, forward-looking conversations instead of ratings-driven annual reviews.
  • Recognition: The joy of giving goes a long way. Instead of only looking to managers for recognition, we’re unbossing our people to recognize peers and colleagues throughout the year – for their contribution, collaboration and behaviors that spark success.
  • Rewards: We’re putting impact front and center as the basis for reward, placing greater emphasis on how we collaborate and achieve together.

Intinya adalah, IMPACT dari apapun yang dikerjakan.

The leader as coach

Bagi saya, berita yang tak kalah menggembirakan dari perubahan tersebut diatas adalah, mereka tetap percaya pada peran leader sebagai coach, karena melalui coaching mereka bisa fokus untuk menggali potensi teamnya.

Sebagai coach mereka belajar dan mempraktekkan skill: hadir utuh, bertanya dan mendengarkan. Pada akhirnya, kunci suksesnya adalah pada kesediaan dan kemampuan memberikan kepada timnya, ruang dan otonomi untuk bertumbuh. (simak detailnya di:  Goodbye performance ratings, hello impact! | LinkedIn )

Kita masih perlu belajar lebih jauh dari pengalaman perusahaan ini. Namun pelajaran yang bisa dipetik saat ini adalah, bahwa unsur MANUSIA hendaknya lebih utama dari sekedar menghitung angka dalam menerapkan Performance Management System manapun. Dan peran leader sangat penting dalam memfasilitasi tumbuh kembangnya team, termasuk didalamnya adalah implementasi Coaching.

“I’ve always had a philosophy that position doesn’t define power. Impact defines power. What impact are you making on people? What impact are you making on business?” (Mindy Grossman)

Catatan: Dalam rangka hari raya Idul Fitri, tak ada postingan di blog Jumat 14 dan 21 Mei. Postingan baru akan hadir Jumat 28 Mei 2021

Bookmark and Share

2 Responses to Pandemi: Empathy dan Coaching

  1. Arie Frederik says:

    Terima kasih Pak sudah mau membagikan pengalaman dan materi ini ke kami.
    Kami semua senang mendapatkan kesempatan bisa berbagi dengan Bapak.
    Sehat terus Pak Josef.

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 mas Arie, saya juga senang kita bisa belajar bersama. Salam untuk teman2 semua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kaaih Dianti, sudah mengunjungi dan menyimak tulisan ini. Salam sehat

Dianti:
Tks pak Jo, its so true. Trmksh sdh sharing dan serasa diingatkan klo kita perlu membentuk atmosfir positif...

josef:
Terima kasih sama-sama mba Malla. Mudah-mudahan bahagia kita semakin banyak disertai sukses, dan tidak kalah...

Malla Latif:
Pak Josef thank youuuuuu so much for sharing this to us. Ini beneran #jleb banget. Dan ternyata link...

josef:
Terima kasih Santi, yang kita tuliskan dimanapun tempatnya, siapa tahu berkontribusi dalam membagi pengalaman...


Recent Post

  • Integritas dan Kebanggaan Keluarga
  • Pilihan Untuk Bahagia
  • Masukan Paling Berkesan
  • Bisa Bercerita Bisa Menulis
  • Jadilah Role Model
  • Employee Experience
  • Feedback Yang TULUS
  • Luangkan Waktu Untuk MEMBACA
  • Tak Hentinya Belajar Melayani
  • Membersihkan Hati