Perjuangan Wisudawan Ulet

Posted on January 15th, 2026

“Most of the important things in the world have been accomplished by people who have kept on trying when there seemed to be no hope at all.” (Dale Carnegie)

 

Namanya Ellisa Nursabilah. Keluarga memanggilnya Icha.

Ia tumbuh di Kampung Cimanggu, Desa Bunihara, Anyer, sebuah kampung sederhana di Banten, tempat jarak sering kali terasa lebih panjang dari angka kilometer di peta.

Dari rumahnya, perjalanan ke kampus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa memakan hampir 46 km. Ke rumah sakit di Serang juga sekitar itu. Bahkan ke RS Harapan Kita di Jakarta, tempat ibunya dirawat, jaraknya mencapai 121 km. Tapi dalam hidup Icha, yang paling jauh bukanlah jarak, melainkan ketabahan yang harus ditempuh hari demi hari.

 

Tahun 2021 Menjadi Titik Ujian

Ibunya, Ena, divonis sakit jantung dan harus menjalani operasi besar. Kaget? Tentu. Takut? Pasti. Proses persiapan operasi bahkan sempat mundur dua kali, memaksa mereka mengulang segalanya dari awal selama berbulan-bulan. Mental Ena goyah. Tapi setiap kali ragu, ada satu nama yang selalu muncul di hatinya: Icha, putrinya.

“Aku harus kuat,” pikirnya. “Aku masih ingin melihat anakku melangkah.”

Saat itu, Icha sedang di semester 5. Libur kuliahnya digunakan untuk bisa menemani ibunya. Dua minggu sebelum operasi besar, mereka mendapat kamar di rumah singgah, gratis, hanya membayar listrik. Tempat sederhana itu menjadi saksi doa, air mata, dan harapan yang terus dipeluk erat.

 

Icha Takut, Tapi Ia Memilih Berani

Bagi Icha, ketakutan tak boleh lebih besar dari harapan ibunya untuk sembuh.

Ayahnya, Alamsyah, ikut berjaga. Lelaki sederhana, tanpa gengsi, tanpa banyak kata, tapi penuh cinta dalam tindakan. Setelah operasi, mereka masih harus tinggal sebulan di rumah singgah demi kontrol dan rehabilitasi. Untungnya, saat itu Icha memang sedang libur kuliah, seakan waktu pun ikut memberi ruang.

Ketika ibunya mulai pulih dan bisa kembali ke rumah, sebuah kabar baik datang:

16 Februari, Icha diterima magang di ISS. Seperti setitik cahaya setelah hujan panjang.

Namun hidup belum selesai menguji.

Giliran ayahnya jatuh sakit, stroke, saraf kejepit. Keluar-masuk rumah sakit. Tiga kali dirawat. Hingga akhirnya, pada Mei 2024, Alamsyah berpulang.

 

Di Tengah Duka, Icha Memilih Melangkah

Ia menyelesaikan skripsinya. Sidang pada September 2024. Wisuda Februari 2025, sebagai Sarjana Administrasi Publik (S.A.P) dengan IPK 3,9. Sebuah angka yang lahir dari air mata, doa, dan ketekunan panjang.

Dan seperti pesan ayahnya, “Jalani saja kehidupan ini. Pasti ada buah yang kamu petik nantinya.”

Buah itu datang lagi. Juni 2025, Icha diterima bekerja di Bank Indonesia sebagai tenaga swakelola, tempat ia magang sebelumnya.

 

Bagi Icha, Perjuangan Mengajarkannya Banyak Hal:

  • Bahwa semangat adalah bahan bakar utama saat segalanya terasa gelap
  • Bahwa keterbatasan bukan alasan berhenti—beasiswa di semester 5 datang tepat ketika ia hampir lelah
  • Bahwa setiap kali ingin menyerah, peluang kecil selalu muncul: mengajar, les, mendapat honor
  • Bahwa hujan memang berat, tapi pelangi selalu punya waktu sendiri untuk muncul

 

Ibunya, Ena, juga belajar:

  • Bahwa Allah selalu bersama orang yang mau berusaha
  • Bahwa setelah sembuh dia berkesempatan merawat ibunya yang sakit. Ini adalah kesempatan, bukan beban
  • Bahwa pendidikan anak adalah investasi iman dan harapan

Berikut foto Icha bersama ibunya, saat berkunjung ke rumah kami di Pamulang.

Dan tentang ayahnya, Alamsyah, Icha menyimpan warisan yang tak pernah usang:

kerendahan hati, kerja tanpa gengsi, tangan yang ringan menolong, senyum yang mudah dibagikan, dan cinta yang tak selalu berupa materi, tapi selalu terasa nyata.

Sebelum meninggal, ayahnya menggenggam erat tangan Icha, menempelkannya di dadanya, dan berkata pelan:

“Kita harus sama-sama terus.”

 

Kini, Icha memang terus:

Dengan semua luka yang telah berubah menjadi pelajaran.

Dengan semua kehilangan yang berubah menjadi nilai.

Dengan keyakinan bahwa takdir memang satu hal, tapi cara kita menyikapinya adalah pilihan.

 

Dan untuk siapa pun yang membaca kisah ini, yang sedang lelah, hampir putus asa, ingatlah:

Kalau Icha BISA terus melangkah, kamu pun BISA. Pelan-pelan saja. Jangan berhenti.

 

“Courage is not having the strength to go on; it is going on when you don’t have the strength.” (Teddy Roosevelt)

Bookmark and Share

2 Responses to Perjuangan Wisudawan Ulet

  1. BBY says:

    Thank you sharing the story
    Menjaga asa icha2 yang lain

    Be a Better You

    • josef josef says:

      Terima kasih sama2 pa BBY, semoga cerita ini membangkitkan semangat banyak yang lain yang membutuhkan dukungan moril. Salam sehat selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Uni, karena dua tahun itu singkat, saranku sudah mulai bersiap-siap dari sekarang kalau niatnya...

josef:
Terima kasih Rina, Dampak bagi orang lain harus diniatkan dan dilakukan secara konsisten. Dan dimulai dari...

Unie:
Setuju Pak Josef, masa purna bakti bukan titik akhir tapi adalah fase baru yg harus kita rencanakan dengan...

Rina Ismariati:
Sebagai bagian dari generasi yang masih sedang membangun perjalanan karier, saya merasa banyak...

josef:
Terima kasih sama2 mba Sofia, semoga bermanfaat. Bagi juga inspirasinya kepada teman2 lainnya yang...


Recent Post

  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna
  • Saya Adalah Pemimpin (I Am a Leader)
  • Transformasi Ke Level Berikutnya
  • Legacy Pemimpin Yang Berdampak
  • Perjuangan Wisudawan Ulet
  • Apa yang Bisa Saya Bantu?
  • Menjadi Cahaya Bagi Yang Lain