Multi Dimensi Pengembangan SDM

Posted on August 6th, 2019

“Allow people to be themselves. People want to be GREAT, great companies let them be GREAT.” (Arte Nathan)

GEMBIRA SAMBIL BERSYUKUR bahwa mereka mendapat kesempatan untuk menambah ilmu lagi. Sebagian besar dari mereka memang dibiayai oleh kantor. Yang diperlukan adalah ketekunan mereka untuk belajar selama kurang lebih 3 bulan, diluar jadual pekerjaan yang tidak kalah padatnya. Belum lagi kita menambah tantangan  kemacetan di Jakarta yang harus mereka tempuh setiap sore, untuk belajar CHRP (Certified Human Resources Professional) Program di Universitas Katolik Atma Jaya. Program ini sangat diminati. Setelah lahir 13 tahun lalu, sudah menyelenggarakan 48 batch program. Dan saat tulisan ini saya persiapkan, rencana batch 49 dan 50 sudah fully booked. Berikut ini foto bersama peserta CHRP Batch 48.

Menghadapi Industry 4.0

Bahwa kita sedang menuju industry 4.0 itu kenyataan. Bahwa tidak semua sudah berada pada posisi industry 3.0, harus kita akui. Dimanakah kita dalam konteks itu masing-masing kita yang bisa menjawabnya. Bahkan dalam satu perusahaan sekalipun, mungkin beda divisi beda status dalam kaitan dengan kemajuan teknologi yang digunakan. Karena itu, dalam mencermati perkembangan situasi dewasa ini kita perlu bijak menganalisa realitas di perusahaan masing-masing untuk mengambil langkah yang lebih jitu.

Sertifikasi dan Tuntutan Kompetensi Nyata

Diskusi hangat di bulan Juli, berkaitan munculnya SE Menaker No M/5/HK.04.00/VII/2019 tanggal 22 Juli 2019 tentang Pemberlakuan Wajib Sertifikasi Kompetensi terhadap Jabatan bidang Management Sumber Daya Manusia, 2 (dua) tahun sejak diterbitkannya SE ini. Dan sertifikasi kompetensi ini menggunakan skema sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan mengacu pada SKKNI bidang Management SDM/HRD yang berlaku.

Surat Edaran ini hendaknya kita sambut gembira, karena itu memperlihatkan bahwa Pemerintahpun memberikan perhatian besar pada Pengembangan SDM. Tantangan besar yang sedang dihadapi  berkaitan dengan itu adalah ketersediaan Lembaga Training, tenaga Fasilitator/Trainer dan Assessor yang disertifikasi BNSP untuk menyelenggarakan program ini. Belum lagi kita bicara tentang jumlah karyawan SDM yang harus di training, dan penyebaran Lembaga Training di berbagai propinsi di Nusantara. Apakah kurikulumnya sudah mengacu pada tuntutan Industry 4.0, perlu dikaji lagi. Teman-teman di GNIP (Gerakan Nasional Indonesia Kompeten) terus bekerja keras berpacu dengan waktu untuk itu.

Sementara itu di berbagai perusahaan dewasa ini, ternyata kebutuhan akan training di bidang HR dirasakan sangat tinggi, dan banyak diantaranya berkaitan dengan gap yang ada sekarang ini dan juga kebutuhan di masa mendatang. Dan CHRP Atma Jaya adalah salah satu penyelenggara yang terus berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Banyak yang bertanya, dalam dua tahun mendatang, sesuai SE Menaker, apakah  sertifikasi CHRP sudah cukup atau mengambil lagi sertifikasi sesuai SKKNI? Kenyataannya industri saat ini masih membutuhkan tenaga kompeten (bukan sekedar ijazah/sertifikat) dan Lembaga-lembaga Pendidikan seperti CHRP Atma Jaya telah membuktikan kemampuannya untuk menjawabi kebutuhan itu. Mungkin akan tiba waktunya Lembaga-lembaga tersebut menyesuaikan diri dengan tuntutan sertifikasi  sesuai SKKNI, tapi saat ini, mereka akan terus bekerja memenuhi kebutuhan pasar. Kebiasaanku saat sharing juga membagi buku bagi yang beruntung.

Dunia Terus Berubah

Selagi tulisan ini dipersiapkan, www.fastcompany.com tanggal 23 Juli 2019 memberitakan rencana Amazon untuk menginvestasi US$700 million untuk retrain/upskill 100.000 karyawannya di bidang new technology. Tentu saja Amazone tidak akan bekerja sendiri, tapi akan bekerja sama dengan berbagai pihak. Ini merupakan salah satu contoh, dimana perusahaan yang hadir di negara dengan tingkat Pendidikan yang lebih maju sekalipun tidak akan menunggu. Menurut Analisa mereka, dalam 4 tahun mendatang, lulusan dari berbagai Lembaga Pendidikan belum tentu juga bisa memenuhi kebutuhan kompetensi yang diperlukan. Kecuali kalau Lembaga Pendidikan itu mau berlari cepat menyesuaikan kurikulumnya dengan kebutuhan pasar tenaga Kerja di masa mendatang. Ini tantangan besar.

Sementara itu terbetik berita sekitar kita bahwa ada 54 pabrik di Bogor bersiap gulung tikar, yang berakibat ada 64.000 penggangguran baru (https://www.msn.com/id-id/news/nasional/duuh-54-pabrik-di-bogor-bersiap-gulung-tikar/ar-AAF3vVz).

Dan penyebabnya masih berkaitan alasan yang sangat mendasar, kenaikan upah minimum. Tentu saja pemikiran berkaitan dengan new technology bisa saja perlu untuk dipertimbangkan perusahaan-perusahaan tersebut, walau relevansinya perlu waktu jauh kedepan.

Apakah Lulusan Perguruan Tinggi Siap Kerja?

Mestinya jawabannya adalah IYA. Tapi bila asumsi mereka semua siap, mereka masuk di tengah pasar tenaga kerja, dimana berlaku hukum demand/supply. Lulusan setiap tahunnya baik dalam negeri maupun yang sekolah di luar negeri cukup banyak. Karena itu untuk bisa memenangkan persaingan fresh graduate untuk langsung diterima kerja saja, dibutuhkan faktor diferensiasi diri yang berbeda dengan lainnya.

Tapi masih banyak juga yang ingin membangun usaha sendiri, namun perlu pendampingan. Dalam konteks ini KSE (Karya Salemba Empat), penyalur beasiswa yang setiap tahunnya menyalurkan 2.500 beasiswa kepada mahasiswa di 34 Perguruan Tinggi Negeri seluruh Indonesia, mendesign beberapa program andalan. Dimulai dari pembekalan selama masih kuliah melalui program Leadership Camp. Dan setelah mereka luluspun, KSE masih ingin terus mengulurkan tangan mendukung mereka agar bisa mandiri. Diskusi kami pagi itu bersama pa Dadit, pa Hengky dan team, dan saya serta coach Rina adalah mengeksplore berbagai bentuk support dan dari mana mendapatkan resourcenya.

Paparan diatas baru mengangkat beberapa contoh dimensi Pengembangan SDM yang ada diseputar kita, dan masih banyak lagi yang lain. Namun yang lebih penting, ada kejelasan kita ingin berbicara skala nasional atau skala yang lebih sempit di tingkat perusahaan atau bahkan individu. Yang manapun itu, lakukan sekarang secara proaktif, tanpa harus menunggu.

“I’m most grounded on the role of technology. Ultimately to me it’s about the human capital and the human potential and technology empowers humans to do great things. You have to be optimistic about what technology can do in the hands of humans.” (Satya Nadella)

 

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih banyak mba Lisa, sebuah paparan yang menyentuh untuk semakin kita memahami betapa besar dampaknya...

Lisa Samadikun:
Bahagiaku adalah ketika masih bernapas. Karena selama masih bernapas, ku masih bisa berbagi. Dan...

josef:
Terima kasih Ratih, irama kerja bisa kita atur, tapi tetap berlandaskan pola pikir dan perilaku yang positif...

josef:
Terima kasih sama2 Ratih, berguna untuk kita semua yang sering lupa. Salam

Ratih Hapsari:
Nice article Pak, walaupun kita “dituntut” untuk selalu cepat dan cepat, tapi kita tidak...


Recent Post

  • Gaya Hidup di Era Percepatan
  • Simple Daily Human Tips
  • 3S: Say Stay and Strive
  • Ecosystem For Learning Agility
  • Guru Yang Tulus Melayani
  • Multi Dimensi Pengembangan SDM
  • Temukan Kebahagiaan Dalam Dirimu
  • Belajar Sejarah Bisa Menyenangkan
  • Warisan Sejarah Tak Ternilai
  • Etika Para Wisatawan