Mungkinkah Perkumpulan Tanpa Pemimpin?

Posted on October 17th, 2025

“The most common way people give up their power is by thinking they don’t have any.” (Alice Walker)

HAMPIR 30 TAHUN. Kebersamaan ini terus dipupuk. Kami hadir untuk bisa saling belajar dari pengalaman masing-masing, atau dari praktek yang ada di perusahaan masing-masing. Yang ini sungguh kami optimalkan. Bayangkan mau mengubah car scheme, kita cukup menghubungi teman-teman ini menanyakan apa praktek di tempat mereka saat ini. Lebih cepat! Biasanya kita merujuk pada remuneration survey dan butuh waktu lebih lama. Sekedar sebuah contoh ilustrasi. Sampai hari inipun, kalau mau belajar tentang sesuatu yang kekinian, kita bisa dengan muda mencari rujukan diantara teman-teman ini. Tetapi yang lebih penting adalah secara bersama-sama kami ingin memberikan DAMPAK pada pertumbuhan SDM unggul di Indonesia.

Kebersamaan Professional Lintas Industri

Semua kami adalah profesional/praktisi Human Resources, berada dalam wadah Paguyuban yang kami namakan HRDF (Human Resources Directors Forum). Sengaja kami mengajak teman2 lintas industri untuk memperkaya pembelajaran diantara kami. Beberapa sahabat sudah tiada. Sebagian masih aktif di organisasi/Perusahaan, sebagian sudah pensiun tapi masih aktif berbagi, entah sebagai konsultan, advisor, coach, trainer/fasilitator. Semua kami aktif bergabung dengan komunitas besar lainnya yang bertujuan untuk membangun SDM Unggul demi Indonesia yang lebih baik. Seperti contohnya: GNIK (Gerakan Nasional Indonesia Kompeten) yang berubah menjadi PPIK (Perkumpulan Pejuang Indonesia Kompeten)

Yang menarik Adalah Paguyuban ini tidak punya pemimpin formal. Loh kok bisa?

Semua kita paham, kalau organisasi atau perkumpulan apapun mempunyai seorang pemimpin, dan juga beberapa fungsi struktural untuk membantu sang pemimpin. Namun kami juga meyakini, bahwa Leadership is INFLUENCE, nothing more nothing less, seperti kata John C. Maxwell. Kalau memang demikian, apakah bisa kita mengandalkan INFLUENCE untuk aktivitas dalam sebuah perkumpulan? Berikut kolase foto di moment makan malam bersama, termasuk peluncuran buku Pohon Kepemimpinan, karya mba Adriani Sukmoro.

Tanpa Pemimpin Formal

Dalam tulisannya tanggal 12 Agustus 2025, dengan judul: Leading without authority: The Art of Influence in Modern Organization, Doug Thorpe mengemukakan:

In today’s increasingly complex and matrixed organizational structures, the ability to lead without formal authority has become one of the most crucial leadership competencies.

Leading without authority represents a fundamental shift from traditional command-and-control management to influence-based leadership. It requires a sophisticated understanding of human psychology, relationship dynamics, and organizational systems.

Selanjutnya tulisan itu mengungkapkan bahwa pemimpin tanpa authority sangat mengandalkan five interconnected pillars yang diyakini secara sinergis bisa menciptakan Pengaruh dan Dampak yang berkesinambungan:

  1. Credibility and Expertise
    Ini mencakup beberapa dimensi: Technical competence, track record of results, reliability, and authenticity.

Membangun credibility menuntut pendekatan strategis untuk mengembangkan dan menunjukkan expertise (keahlian) yang dimiliki. Termasuk didalamnya menguasai trend industry kekinian, terus belajar dan bertumbuh, dan menempatkan diri sebagai sumber/rujukan belajar atau inspirasi bagi yang lain.

 

  1. Relationship Building
    Kualitas interpersonal connections menentukan sukses dan gagalnya seseorang. Untuk itu dibutuhkan intentional effort and emotional intelligence.

Relationship builders yang andal paham betul bahwa INFLUENCE pada dasarnya adalah melayani kepentingan orang lain dalam mencapai tujuan bersama. Mereka luangkan waktu untuk memahami motivasi, tantangan, dan tujuan dari koleganya. Mereka melatih active listening, mendemonstrasikan empathy, dan secara konsisten menindak-lanjuti komitmen.

  1. Emotional Intelligence
    Emotional intelligence merupakan the operating system bagi seorang pemimpin tanpa otoritas. Ini mencakup: self-awareness, self-regulation, empathy, and social skills. Pemimpin dengan high emotional intelligence mampu menavigasi complex interpersonal dynamics, manage conflicts constructively, and inspire others to voluntary action.
  2. Influence and Persuasion
    Effective persuasion in professional contexts goes beyond simple tactics to encompass a sophisticated understanding of human motivation and decision-making. The most successful leaders without authority master multiple influence strategies and know when to apply each one.

 

  1. Coalition Building
    Kalau hubungan individu membentuk fondasi, koalisi mengamplifikasi pengaruh dengan menciptakan network antar anggota yang ingin mencapai tujuan

Membangun koalisi yang effektif membutuhkan strategic thinking tentang minat, kemungkinan resistensi dari para pihak dan seni untuk mencapai konsensus. Keberhasilan membangun koalisi adalah atas dasar mutual benefit.

 

Kelompok HRDF ini memang sudah cukup lama berjalan tanpa Pemimpin. Yang dilakukan adalah adanya inisiator kegiatan atas dasar sukarela. Contoh: Penulisan buku bersama (sudah dua buku yang diterbitkan) atau rekreasi bersama.

Perjalanan bersama ini tidak selalu mulus. Terkadang adu argumentasi sengit, beda pendapatpun sering terjadi. Namun persahabatan dan kebersamaan diantara kami tetap solid, dijaga, dipupuk. Yang kami alami dan sadari, sejalan dengan kata bijak dari Doug Thrope yang saya kutip sebagai penutup dari tulisan ini.

“At the heart of leading without authority lies a deep understanding of what motivates people to act voluntarily.” (Doug Thorpe)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Lukas, bergerak ke segala arah dan disetiap momen. Tak henti menularkan kebaikan, termasuk...

Lukas:
Selalu terinspirasi. Integritas tidak sekedar slogan tetapi menjadi Movement. Bergerak dari dari atas...

josef:
Langka awal adalah menyadari, lalu mencermati saya bisa apa dan apa yang perlu saya lakukan untuk bisa mulai...

josef:
Betul Icha: Respek dan Trust harus dibangun secara tulus. Dengan demikian kita bisa berkolaborasi dengan satu...

josef:
Terima kasih Icha untuk highlightnya. Sering kita lupa, kalau di keluarga hadir berbagai generasi yang juga...


Recent Post

  • Menemukan WHY dari Laut Lamalera: Belajar dari LAMAURI
  • Bijak Memimpin Lintas Generasi
  • Saat Integritas Menjadi Gerakan
  • Wujud Nyata Leader as BRIDGER
  • Ketika Jabatan Berakhir – MAKNA Berlanjut
  • PEACE HR: Menjaga Human Touch di Era AI
  • Di Bawah ATAP Itu Kita Belajar dan Bertumbuh
  • Lukisan Legacy Sarat Makna
  • Saya Adalah Pemimpin (I Am a Leader)
  • Transformasi Ke Level Berikutnya