Biasakan Membangun Mimpi

Posted on April 12th, 2019

“Dream no small dreams for they have no power to move the hearts of men.” (Johann Wolfgang von Goethe)

SAAT SAYA BERBAGI CERITA kepada anak-anak SMA Selamat Pagi Indonesia beberapa waktu yang lalu, mereka tidak tahu dimana letak desaku Lamalera. Dan diantara merekapun kebanyakan datang dari desa terpencil yang kebanyakan temannya juga tidak tahu dimana itu. Tapi mereka semua berada ditempat yang sama, saling mengenal, saling membagi cerita kehidupan masing-masing. Mereka saling membantu untuk membangun mimpi dan tentu saja saling mendukung untuk meraih mimpi masing-masing. Membangun mimpi? Bahkan ada yang saat awal masih bertanya, apakah saya berani bermimpi? Saya sengaja mengajak tiga orang untuk berbincang-bincang, untuk menulis kisah ini dan juga kisa lanjutan dalam postingan berikutnya. Berikut foto Bersama Olif dan Noel.

Masih ada yang lebih susah

Berasal dari Madiun, Olif, anak ke 3 dari 4 bersaudara ini berasal dari keluarga petani miskin yang orang tuanya tidak henti-hentinya berjuang untuk masa depan anak2nya. Saat itu kakaknya yang no 2 masih di bangku SMA, dan adiknya mau masuk SMP, Olif sedang mencari ke SMA mana dia bisa melanjutkan sementara orang tuanya sudah tidak ada biaya untuk sekolah lanjutannya. Saat itu tak disangka, Olif bertemu dokter di daerahnya, yang menawarkan untuk melanjutkan sekolah gratis di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI), Batu malang. Singkat cerita, pendaftaran dilakukan dan akhirnya dia diterima. Jawaban diterima Rabu dan Sabtu harus ke SPI. Olif Bersama orang tuanya nangis penuh kegembiraan, sangat mensyukuri kesempatan ini. Apalagi setelah tiba di SPI, Olif disambut ramah oleh,  teman temannya, diantar ke kamar dan berkenalan dengan teman baru. Olifpun mengakui:

“Dan di saat itu, saya menyadari bahwa kesulitan hidup yang saya alami sejauh ini belum seberapa dibandingkan dengan teman baruku, anak tunggal dan tidak tahu ayahnya saat ini ada dimana. Pelajaran berharga tentang kehidudupan.”

Mimpi Awal: Bisa Belikan Baju Muslim untuk Ibu

Awalnya Olif mengaku punya percaya diri rendah, minder. Setelah bertemu dengan kaka kelas, pola pikir Olif lebih terbuka, kalau kakak2 bisa, saya juga bisa. Saat diminta untuk membuat Dream Book, pikiran Olif mulai melayang jauh ke rumahnya yang dekat masjid. Suka ngaji tapi tidak punya baju muslim, ada tapi dapat dari tetangga. Mimpi awal yang ditulis di Dream Book adalah BISA BELI BAJU MUSLIM UNTUK IBU dan ADIK SAYA.

Begitu polos dan sederhana, namun mempunyai makna mendalam bagi Olif. Tiap lebaran, tetangga punya baju baru, ibu Olif tidak pernah, hanya beli baju baru untuk anak. Kisah Olif selanjutnya:

“Jalan Tuhan terkadang tidak kita duga. Tanggal 2 Maret 2016, bersama teman2 lainnya kami turut membantu ko Jul untuk program di Semarang dan balik ke Batu. Ko Jul mau sempatin mampir di Madiun rumah Olif. Tidak diduga, dia minta untuk mampir ke Matahari, dan meminta saya untuk memilih baju untuk ibu dan adikku. Juga dia meminta kita untuk mampir ke toko elektronik untuk beli TV buat rumah Olif.

Terus terang saya kaget, nangis, ko Jul masih hafal isi dream bookku, dan sempatkan untuk membelikannya. Itulah ko Jul, yang sangat perhatian,” demikian pengakuan Olif mengingat momen itu.

Sempat tilpon keluarga, dan mereka tiba jam 01.00 pagi. Semua di rumah juga kaget, nangis, sambil nanya, ini sekolah SMA atau apa?

Ko Jul sempatkan untuk ngobrol dan menanyakan keadaan keluarga. Ketika ditanyakan apa perasaan Olif saat memperhatikan ko Jul ngobrol santai dengan keluarga, dia mengatakan:

“Campur aduk, kok Jul itu siapa, mau bantu, lebih dari saudara, bahkan dia beri yang tidak kita minta.”

Komentar reflektifnya Olif:

“Tuhan menurunkan keajaiban, tidak ada yang tidak mungkin, kalau kamu percaya kamu bisa kamu pasti bisa mewujudkannya.”

Sejak lulus SMA 2017, Olif dipercayakan sebagai Kepala Divisi Purchasing. Tidak terpikir untuk pindah, karena menurutnya Ilmu yang didapat dengan environment seperti sekarang ini, belum tentu ada di tempat baru. Sebuah insight yang bagus untuk karyawan yang suka pindah-pindah pekerjaan.

Berjuang Menyesuaikan Diri

Namanya Noel, asal Medan, telah kehilangan kedua orang tuanya. Mamanya  meninggal karena lever saat Noel 5 tahun, papa meninggal saat Noel 8 tahun karena gagal ginjal. Tinggal dengan nenek, sempat tidak sekolah setahun.

Saat ada kesempatan untuk ke SMA SPI, Noel menerima tawaran itu sebetulnya karena malu dan gengsi karena tidak bisa lanjut sekolah di Medan. Tapi hari2 pertama, ngga betah karena harus bangun pagi, tempat aneh, jauh dari mana2 bahkan sempat pikir untuk kabur.

Sikap Noel berubah sejak Noel bisa merubah karakter. Di Medan suka dunia malam, ngga terima diomongin orang. Namun melalui bantuan program di SPI, Noel pelan-pelan berubah. Bahkan saat Noel pulang ke Medan 2018, teman-teman Noel bilang:

“Kaget pola pikir Noel yang baru dibanding dulunya yang bandel.”

Bermimpi untuk Tidur di Hotel

Tidak satu atau dua halaman saja, tapi boleh juga banyak halaman atau kalau perlu buka buku baru lagi untuk menuliskan dream dalam buku yang mereka sebut Dream Book.

Awalnya Noel bermimpi untuk bisa tidur dihotel. Tidak terbayang seperti apa. Keinginan itu belum terealisir, saat dia harus menulis dream lainnya di buku baru lagi. Akhirnya saat itu tiba. Dalam program training ke wilayah Sumatra, ko Jul mengajak serta Noel ke Palembang, dan ternyata mereka akan menginap di sebuah hotel bagus untuk ukuran Palembang. Saat itu sudah 1.5 tahun sejak mimpinya ditulis. Saat masuk hotel tersebut dan menginjakkan kaki di loby hotel, Noel mengakui dan bercerita:

“Speechless. Dalam hati, saya bertanya ini serius nginep disana? Ngga percaya! Ke kamar buka kamar sendiri, speechless, megah, view bagus. Langsung ngerasain kasur untuk rasain hotel mewah, lalu keliling hotel, melihat semua fasilitas dalam rangka experiental learning. Selanjutnya semua kunci hotel ini dan beberapa hotel lainnya saya tempelin di Dream Bookku sebagai kenang-kenangan berharga.

Kesempatan Terus mengalir

Berbagai kesempatan seakan terus mengalir, bahkan ada yang tidak pernah saya masukan dalam dream book. Seperti akhir tahun lalu, bersama team melakukan experiential learning ke Singapore. Sukacita mendalam dan perjalanan tersebut memberikan pelajaran luar biasa, sampai juga membuat foto di Universal Studio untuk menghiasi cover dream bookku. Dan ini menjadi trigger untuk Noel menuliskan dream lanjutannya adalah Experiential Learning ke Hongkong dan Makao.

Noel akan terus berkiprah di transformer Center dengan tanggung jawab mengembangkan adik-2 SMA SPI di bidang Multimedia.

Kisah kedua orang ini sengaja saya angkat untuk mengajak kita semua untuk terus bersyukur dan menghadapi tantangan hidup dengan ketulusan, sambil berdoa dan percaya bahwa SAYA BISA kalau yakin BISA.

“Don’t ever let someone tell you, you can’t do something. Not even me. You got a dream, you got to protect it.” (Steven Conrad)

 

Catatan: Ini merupakan artikel kedua dari rangkaian tiga tulisan. Simak tulisan ketiga  di posting berikutnya

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ratih. Semua kita punya kontribusi untuk menciptakan lingkungan untuk tumbuh kembangnya mindset...

Ratih:
Penutupnya keren Pak, “fokus pada solusi”. Hal ini akan mudah diterapkan jika kita punya mindset...

josef:
Terima kasih Ratih, sungguh cantik, hanya terbatasnya ruang untuk penyajian saya di blog. Salam

Ratih:
Cantik sekali ya Pak pemandangannya..

josef:
Terima kasih Tromol untuk waktunya menyimak kisah ini. Banyak momen hadir dihadapan kita, untuk mengingatkan...


Recent Post

  • Kick-off Coaching Program
  • Suasana Penuh Kedamaian
  • Jadikan Pelajaran Berharga
  • Swedia Negara Ribuan Pulau
  • World’s Happy Countries
  • Indahnya Ciptaan Tuhan
  • Meaning dibalik Aktivitas
  • Optimisme Pekerja Mandiri
  • Positive Organization
  • Benih Positif di Taman Kehidupan