Kami Belajar WE-MINDSET

Posted on June 5th, 2020

“It is literally true that you can succeed best and quickest by helping others to succeed.” (Napoleon Hill)

RIGHT MINDSET. Saya berkesempatan untuk berbagi secara online kepada komunitas pembelajar, dengan judul: Leadership in the Midst of Crisis: Choosing the Right Mindset. Hari itu saya sengaja mengajak pendengar untuk melakukan refleksi, setelah kurang lebih dua bulan bekerja dari rumah. Masing-masing coba menyimak perjalanan dua bulan ini, baik sebagai individu maupun sebagai leader. Tujuan utamanya adalah di akhir sesi ini mereka bisa mengambil beberapa pelajaran berharga untuk diterapkan pertama-tama bagi diri sendiri, dan selanjutnya bisa membawa manfaat bagi tim dan organisasinya.

Hubungan Kerja Positif

Begitu karyawan diminta untuk bekerja dari rumah, banyak pola kerja yang perlu diubah atau disesuaikan. Sebut saja pola komunikasi dengan karyawan agar mereka bisa terus berkontribusi maksimal. Namun pertanyaan utama adalah: apa pola komunikasi antara leader dengan teamnya, atau apa pola komunikasi di perusahaan  kepada seluruh karyawannya. Apakah polanya adalah memberi perintah saja, atau komunikasi dua arah atas dasar saling menghargai pendapat satu sama lain? Apakah karyawan akan rindu dengan berbagai komunikasi dari pimpinan, baik tatap muka atau dengan sarana lainnya, karena sifat komunikasi itu memotivasi, melibatkan karyawan untuk memberi ide-ide atau saran-saran dari mereka? Apakah komunikasi tersebut juga dianggap tulus, genuine, tanpa basa-basi, tanpa agenda tersembunyi dibaliknya?

Bagi leader yang genuine, yang senantiasa dekat dengan timnya, yang terus berbagi informasi yang dibutuhkan untuk kerja timnya, maka situasi bekerja dari rumahpun tidak akan menghalangi komunikasi mereka. Sedikit perubahan mengikuti cara kerja jarak jauh, tak akan mengurangi tingkat kepercayaan tim dalam pola komunikasi. Berikut screen shot Sebagian peserta.

TRUST dan Engagement

Tingkat kepercayaan yang saya sebutkan diatas, merupakan modal yang luar biasa, karena akan menjadi landasan kokoh disaat pimpinan mengajak tim untuk mencarikan berbagai ide baru untuk menghadapi situasi selama bekerja di rumah. Di saat seperti ini akan muncul kepermukaan, pola engagement pimpinan di perusahaan selama ini. Apakah karyawan senantiasa diminta untuk turut mengambil bagian dalam menyumbang ide2, bersama mencari berbagai peluang untuk sukses, atau sebaliknya mereka hanya dibiarkan menunggu perintah untuk eksekusi bila pimpinan sudah punya ide baru?

Bilamana kita mau meluangkan sedikit waktu untuk melakukan refleksi jujur, tentang perjalanan karya selama ini, kita bisa lebih menyadari:

  1. Bukan kebetulan bahwa ada ragam talenta dibawa masuk kedalam organisasi. Ada pakar marketing, sales, HR, finance, supply chain dll. Mereka memang dibutuhkan perusahaan, termasuk kebutuhan akan staf pantry, satpam dll.
  2. Seberapa jauh kita respek pada perbedaan talenta yang hadir disekitar kita? Bersama team kita sendiri juga sama alasannya, mengapa kita mempunyai ragam talenta. Apakah saya mengenali mereka secara individu? Jangan berasumsi!
  3. Bagaimana kualitas hubungan saya sebagai leader dengan mereka? Seberapa jauh mereka merasa penting sebagai bagian dari tim atau sekedar menjadi suruhan? Seberapa jauh leader tulus mendengarkan, menggali ide2 kreatif dari mereka, engage mereka untuk hal2 yang penting?
  4. Dan tidak kalah pentingnya, kita perlu menyadari bahwa karyawan akan semakin nyata melihat dan merasakan bagaimana pimpinannya mendemonstrasikan hidup sesuai VALUE perusahaan, disaat-saat krisis seperti ini.
  5. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bisa kita lakukan sendiri

Pertanyaan itu bisa diteruskan sesuai kebutuhan masing-masing. Tapi intinya, luangkan waktu untuk melakukan refleksi.

Genuine Leader Membangun WE-Mindset

Saat krisis 97/98 di perusahaan kami diperkenalkan konsep yang menjunjung tinggi semangat WE. Dengan keberagaman talenta yang dimiliki, perusahaan mestinya bisa merai sukses yang lebih tinggi. Karena itu kami mulai belajar tentang apa yang namanya UBUNTU.

Seorang anthropologist Jean-Pierre Hallet mengusulkan permainan kepada anak-anak suku Afrika. Dia menempatkan sebuah keranjang berisi buah-buahan di bawah pohon. Kemudian dia memberikan aba-aba kepada anak-anak itu, siapa yang lebih cepat lari menuju keranjang tersebut dialah yang akan mendapat semua buah-buahan itu. Saat dia memberi komando untuk lari, anak-anak itu malah berlari sambil bergandengan tangan untuk mengambil buah tersebut kemudian mereka duduk dan menikmatinya bersama-sama. Saat ditanyakan mengapa, anak-anak itu menjawab: “UBUNTU. Bagaimana mungkin satu dari kami menikmati kebahagiaan, sementara yang lainnya bersedih?”

Ini merupakan contoh yang sangat powerful tentang WE-MINDSET. Masing-masing kita disadarkan bahwa kita menjadi pribadi seperti sekarang ini karena sentuhan banyak tangan, dukungan dari berbagai pihak, atasan, bawahan, rekan kerja dan lain-lain. Selain mensyukuri hal tersebut, kita bisa melangkah Bersama untuk merai sukses dan membuat kita semua bahagia, seperti yang dilakukan anak-anak tersebut. Dan ternyata banyak sekali proyek yang diluncurkan sejak itu, yang membuahkan hasil luar biasa.

Krisis di tengah Covid-19 juga banyak membuka mata kita bagaimana respons masyarakat yang merasa perlu mengambil langkah untuk membantu orang lain, dalam konteks WE, kebersamaan yang menyatu secara solid. Kita semua terpanggil untuk saling membantu. Semoga situasi yang sedang melanda kita ini bisa dijadikan momen untuk melakukan refleksi dan perbaikan, karena perjalanan kita masih berlanjut setelah pandemic ini berlalu. Semoga!

“I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.” (Maya Angelou)

Bookmark and Share

4 Responses to Kami Belajar WE-MINDSET

  1. Puji says:

    terima kasih telah banyak membimbing saya dan tim ya pak, banyak perubahan positif yang kami rasakan di tengah perjuangan mempertahankan aurora agar tetap hidup. semoga bapak senantiasa diberikan kesehatan, dan kebahagiaan olehNya.

  2. wahhh terimakasih pak atas sharingnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam

josef:
Terima kasih Tromol, belajar hendaknya menjadi menu harian kita, termasuk belajar menjadi Leader yang handal....

Riski Saputra:
wahhh terimakasih pak atas sharingnya 🙂


Recent Post

  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan
  • Peluang ke Jenjang Lebih Tinggi
  • Bermanfaat Bagi Orang Lain
  • Komitmen Belajar dan Berbagi