Transformer Center: School of Life

Posted on March 6th, 2020

“Tell me and I forget, teach me and I may remember, involve me and I learn.” (Confucius)

SEMANGAT BELAJAR yang luar biasa menjadi modal dari 26 peserta FTHR (Future HR) Experiential Learning to Transformer Center. Mereka berasal dari berbagai perusahaan, ragam usia dan pengalaman. Di tempat seluas 22 hektar di kota Batu Jawa Timur, Transformer Center menyajikan keunikan cara belajar, baik untuk usia anak-anak dan remaja, juga untuk komunitas perusahaan, bahkan sampai program mempersiapkan karyawannya untuk pensiun.

Klaim mereka juga tidak berlebihan: “Transformer Center di support oleh MIC Transformer dan dikelola oleh para generasi muda yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk pengembangan diri, sehingga menjadikan Transformer Center sebagai salah satu learning center terbesar dan terbaik di Indonesia”

Klaim sesuai Kenyataan

Apakah Klaim itu berlebihan? Sebut saja nama perusahaan besar yang anda ketahui, yang mempunyai Learning Center terkenal, punya program pembelajaran yang banyak dijadikan rujukan. Dan pergilah ke Transformer Center di kota Batu. Anda akan menemukan berbagai foto pimpinan dan karyawan perusahaan tersebut yang datang untuk belajar disana karena keunikan mereka. Terutama kalau kita bicara tentang menghidupkan values di perusahaan, bagaimana menempah individu menjadi Valuable person, sebelum mereka diberikan pembekalan untuk menjadi Valuable Leader.

Paparan dari Pelaku

Yang hadir di depan kami, anak muda lulusan SMA SPI (Selamat Pagi Indonesia). Ketika memperkenalkan diri, baru diketahui bahwa mereka adalah Kepala Divisi dari sebuah unit usaha. Kalau kita membayangkan di perusahaan kita masing-masing, biasanya posisi seperti itu diisi oleh mereka yang sudah berambut putih. Cara presentasi mereka sangat memukau, penuh percaya diri dengan penguasaan materi yang prima. Apalagi kalau kita mau memotret pembicara itu dengan kemampuan public speaking, beberapa Learning Manager yang hadir hanya bisa berdecak kagum. Dan bukan hanya bicara, ketika mereka menampilkan angka pencapaian bisnis mereka, baru kita sadar, kata-kata MIRACLE yang bertengger di berbagai sudut ruangan memang terjadi disini. Dengan pencapaian 7.9 Milliar tahun lalu, unit usaha retail berani membuat target pertumbuhan 79% menjadi 12.5 milliar untuk 2020. Foto paparan dari Clara.

Satu nilai pribadi yang ditemukan Clara dalam perjalanan hidupnya disini adalah: “Dulu saya rasa disekolahkan, sekarang disejahterakan.”

Budaya Transformer Center

Dalam sesi saya di hari kedua, saya meminta peserta memberikan saya satu kata yang menggambarkan Budaya di Transformer Center. Masing-masing peserta menuliskan satu kata kemudian mereka harus diskusi dalam group untuk menyepakati hanya satu kata yang dipilih. Berikut pendapat kelima group, tentang SATU KATA yang menggambarkan Budaya di Transformer Center:

  1. Dream (anak-anak didorong untuk membangun dream dan harus dream yang besar, kemudian berusaha untuk mencapainya. Mantra mereka: big dream, big hope, big spirit, big action, big success
  2. BISA (mereka terbiasa dengan mindset: Bisa Tidak Bisa Harus Bisa, sebuah mindset positif yang percaya bahwa asal kita mau berusaha kita BISA berubah menjadi lebih baik dan sanggup mencapai cita-cita kita)
  3. Empowerment: Sejak dini anak-anak disana di-empower untuk berkarya dan berusaha mencari solusi sendiri bila berhadapan dengan tantangan. Disini TRUST dibangun, sehingga anak-anak didik bisa merasakan kehadiran diri seutuhnya yang diterima oleh teman-teman dan lingkungannya, bahwa mereka mempunyai talenta dan bisa berkontribusi.
  4. Empathy: dalam keterbatasan mereka, anak-anak ini sudah menumbuhkan kesadaran untuk peduli kepada sekitarnya, kepada teman-temannya dan juga masyarakat yang membutuhkan. Contoh yang mereka berikan sangat menggugah
  5. Example: Pimpinan disini memimpin dengan memberikan contoh dalam keseharian. Nilai-nilai yang ingin ditanamkan disini akan dilihat sangat jelas dari keseharian pimpinannya, yang berbicara lantang melalui perbuatan, bukan saja dengan kata-kata.

Suasana energizing di “Aula Berkat”.

Peran Human Capital adalah Kunci

Belajar adalah menu harian mereka, dimana semua penghuni Transformer Center diwajibkan membaca satu buku dalam sebulan. Dan tidak main-main begitu melihat daftar buku yang harus di baca. Sebut saja beberapa diantaranya: Buku Seri Leadership oleh John C. Maxwell, buku Ken Blanchard seperti: Refire don’t retire, Your Personality Three oleh Florence Littauer, atau buku Brian Tracy seperti Believe  it to achieve it, dan masih banyak lagi. Mereka tidak saja diwajibkan membaca, tapi juga diajarkan cara membaca yang benar itu seperti apa. Kemudian mereka harus sharing.

Saat memberikan paparan kepada tim kami, Olfa sebagai head of Human Capital, dengan lancar memberikan gambaran bagaimana mereka membina anak-anak SPI sejak hari pertama tiba di lokasi, hingga mereka lulus SMA. Tidak berhenti disana. Mereka juga terus mencermati talenta anak-anak tersebut untuk bisa ditempatkan di unit usaha yang sesuai, bilamana mereka ingin tinggal di Transformer Center setelah lulus. Berikut foto paparan dari Olfa.

Selama mereka sekolah SMA, dalam kesehariannya mereka diberi kesempatan untuk belajar dalam praktek sesuai talenta mereka. Mereka akan dievaluasi dengan parameter yang jelas, sehingga tingkat keberhasilannyapun bisa diketahui secara terukur.

Suksesi yang Berhasil

Yang kedua dari kanan (berbaju hitam) di foto berikut ini bernama Sheren adalah tokoh dibalik berbagai show. Anak Madiun yang lulus SMA SPI tahun 2011 sejak awal memang dipercayakan untuk merancang berbagai show, sekaligus menjadi bintang utama. Untuk show spektakuler yang selalu mereka tampilkan, Sheren juga yang menjadi bintang utama. Namun mereka terus mengidentifikasi talenta yang mereka miliki. Dan dalam beberapa kali kunjunganku ke Transformer Center, setidaknya sudah ada 4 artis muda (yang umumnya diambil dari kelas dua SMA) yang dipercayakan untuk tampil memukau, sebagus Sheren. Berikut foto bersama Sheren dan anak-anak SPI.

Ini hanya salah satu contoh suksesi, dan ini nampaknya konsisten di semua lini usaha mereka. Sementara itu Sheren sudah dipromosikan untuk menjadi Pimpinan Operasional Non Fisik untuk seluruh area.

Berikut team kami  jelang nonton (atas)dan juga bersama pemain show Anak Garuda

Waktu terasa cepat berlalu, tapi pembelajaran terus kami maksimalkan, bahkan sampai jam 24:00 di hari pertama. Simak tulisan di posting berikutnya untuk mengetahui pelajaran apa lagi yang kami dapatkan disana.

 “Live your life in such a way that you’ll be remembered for your kindness, compassion, fairness, character, benevolence, and a force for good who had much respect for life, in general.” (Germany Kent)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Dewi, setuju sekali di rumahpun kita bisa rancang liburan yang menyenangkan. Butir yang tidak...

dewi:
Tidak semua liburan seharusnya keluar dan mengunjungi salah satu tempat wisata… terkadang dengan d rumah...

josef:
Terima kasih Mudji atas pertanyaannya: 1) Pembelajaran yang dimaksud tidak harus yang besar. Mis. Dalam...

Mudji:
Saat pertama Bpk baru buka blog ini di Nop 2011, terus terang saya suprise banget dgn moto Bpk yg berat ini +...

josef:
Terima kasih mba Meisia, batuknya sudah hilang berkat resep tradisional


Recent Post

  • Komitmen Belajar dan Berbagi
  • Start-up Mentality
  • Transformer Center: School of Life
  • Melayani dengan Coaching
  • Terus Belajar dan Berkembang
  • Agar Sehat dan FIT
  • Evaluasi Leadership Program
  • Kesalahan BESAR Seorang Pemimpin
  • Memaknai Pesan Alam Semesta
  • Waiting Time is Learning Moment