World’s Happy Countries

Posted on July 5th, 2019

“Being happy doesn’t mean that everything is perfect. It means you’ve decided to look beyond the imperfections.” (Unknown)

LIBURAN kali ini mencakup empat negara di semenanjung Skandinavia yang masuk dalam daftar top 10 World’s happiest countries: Finland (no 1), Denmark (no 2), Norway (no 3), Sweden (no 7). Dan bukan pula kebetulan bahwa perjalanan kami dimulai dari Finland dan berakhir di Denmark. Tapi apa yang membedakan mereka dari negara lain?

Menurut Meik Wiking (penulis buku The little book of LYKKE, secrets of the world’s happiest people),

“These happy Scandinavian countries are doing something right in terms of creating good conditions for good lives.”

Beberapa contoh nyata yang bisa disebutkan disini antara lain:

  1. Child support contribute to wellbeing
  2. People feel they have a community they can count on.
  3. Job security and positive working environments are important factors
  4. Scandinavian people have an average high income, long life expectancy and good government support services. As a result, individuals are more likely to return a stranger’s wallet in the Nordic countries.

Selain itu, kehidupan di negara-negara ini didasarkan pada falsafah yang mengakar dalam kehidupan mereka. Keempatnya kami sebutkan dibawah ini

Falsafa SISU di Finlandia

Makna dari falsafah tersebut diatas adalah kekuatan atas dasar kemauan, ketekunan, tekad dan tindakan rasional dalam menghadapi kesulitan. Padanan bahasa Inggerisnya: SISU is a Finnish concept described as stoic determination, tenacity of purpose, grit, bravery, resilience, and hardiness. Falsafah SISU menghendaki agar manusia selalu berani dan bertahan dalam menghadapi tantangan hidup dari waktu ke waktu.

Falsafah LAGOM dan FIKA di Swedia

LAGOM adalah kata Swedia yang berarti tepat, atau optimal. Falsafah ini bermakna keseimbangan tubuh dan kesehatan.

Menurut Lola Akinmade-Åkerström, penulis “Lagom: The Swedish Secret to Living Well,” LAGOM menuntun manusia untuk menemukan tingkat kepuasan, kedamaian batin, dan kondisi yang paling alami.

FIKA diartikan sebagai rehat sejenak dari tekanan hidup dengan menjalin ikatan bersama orang terdekat. Dewasa ini tradisi FIKA dari Swedia ini cenderung berkurang karena banyak pemuda yang lebih mengutamakan pekerjaan dan hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat.

Dalam pertemuan singkat dengan seorang sahabat, Tutut Handayani yang tinggal dan bekerja di Stocholm, sempat bercerita dan membenarkan tentang LAGOM ini.  Lagom dapat dimaknai “the appropriate amount.” Sebagai contoh, ungkapan yang berbunyi “take lagom with sugar” artinya “do not take more sugar than one should”.

Bahkan dia juga memberikan saya sebuah buku menarik, The almost nearly perfect people, seperti nampak pada foto ini, melengkapi buku yang sudah kumiliki lebih dahulu:  LYKKE dan IKIGAI. Terima kasih mba Tutut.

Falsafah HYGGE dan LYKKE di Denmark

Konsep HYGGE  dalam bahasa Denmark diterjemahkan sebagai “kesenangan jiwa.” Ada pula penduduk Denmark Arnis Prokopovics yang mengatakan, HYGGE tidak bisa didefinisikan, tapi bisa dirasakan: “It cannot be defined, only felt.”

Selanjutnya dia menjelaskan:

But to give you some sort of idea, it is a mix of these things:

A concept of creating warmth, connection, and well being.

Presence, committing spirit, pleasure, and warm to ordinary structures and traditions that comfort and make us feel feel rooted and generous.

Sementara itu LinkedIn mencoba menggunakan contoh sehari-hari untuk memaknai HYGGE:

The appreciative method of giving and receiving that occurs while around the table for a shared meal, sheltered from the rain at the bus stop, or alone in bed with a hot chocolate and a good book. – LinkedIn

Atau Skagen Website memaknainya sebagai:

Although there are many ways to describe hygge, we see it simply as the Danish ritual of enjoying life’s simple pleasures. Friends. Family. Graciousness. Contentment. Good and nice feelings; a warm glow. – Skagen Website

“Hygge bisa dipraktikkan bersama keluarga dan teman-teman seperti berkumpul dan makan bersama, atau waktu yang dihabiskan sendiri untuk membaca buku,” kata Susanne Nilsson, seorang dosen di Morley College Inggris, yang mengatakan kepada BBC pada tahun 2015.

Kata LYKKE dalam bahasa Denmark artinya kebahagiaan. Walaupun dalam peringkat World Happiness Report, Denmark selalu menempati peringkat paling atas, namun kebahagiaan itu bukan eksklusif milik Denmark. Di seantero dunia, ada saja pendekatan unik yang dilakukan orang untuk mencapai kebahagiaan. Dalam bukunya “The Little Book of Lykke,” Meik Wiking menjelajai berbagai negara dunia untuk mencoba menemukan jawabannya. Ada enam faktor penunjang kebahagiaan: Togetherness, money, health, freedom, trust, and kindness.

Kitapun bisa mencoba meraih kebahagiaan itu dengan sedikit penyesuaian dalam keseharian kita, seperti biasakan makan malam bersama untuk mempererat hubungan kekeluargaan, sambil bercanda dan senda-gurau seputar meja makan.

Kebersamaan seperti itu bisa dikembangkan lebih luas dengan para sahabat, seperti kebersamaan makan malam sambil berbagi kisah kehidupan, dalam perjalanan wisata kami, seperti nampak pada foto berikut ini.

Bahkan kita bisa mencari jalan untuk menjaga kesehatan tanpa harus ke gym atau ke dokter, atau belajar membangun trust and collaboration. Dan tidak kalah pentingnya, bagaimana kita bisa menolong diri sendiri dengan menolong orang lain dalam meningkatkan kebahagiaan hidup, demi masyarakat yang lebih baik dan akhirnya dunia yang lebih baik.

“Great challenges make life interesting; overcoming them makes life meaningful.  It’s how you deal with failure that determines your happiness and success.” (Angel Chernoff)

 

Catatan:
Tulisan ini merupakan tulisan kedua dari rangkaian tulisan tentang liburan kami. Simak juga tulisan pertama:

  1. Indahnya Ciptaan Tuhan: https://www.josefbataona.com/life-wisdom/indahnya-ciptaan-tuhan/
  2. World’s Happy Countries
  3. Nantikan di postingan berikutnya

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih pa Supriyono. Semoga sehat selalu. Salam

SUPRIYONO:
very inspiring article ..

josef:
Dear Farika, Terima kasih untuk merujuk pada tulisan ini, semoga bermanfaat. Happy to discuss, bilamana...

Farika Andhini:
Pak…saya lagi coba survey kecil2an ttg engagement..saya teringat bapak pernah tulis tema ini....

josef:
Terima kasih sama2 Cita, sudah semakin jarang ketemu yang seperti ini, karena itu saya sengaja mengangkatnya...


Recent Post

  • Paduan Gotong Royong dan Growth Mindset
  • Train the Brain for Growth Mindset
  • Ketertarikan dan Tulus Mendengarkan
  • Paguyuban dan Gotong Royong
  • Panggilan Untuk Mengubah Paradigma
  • Gaya Hidup di Era Percepatan
  • Simple Daily Human Tips
  • 3S: Say Stay and Strive
  • Ecosystem For Learning Agility
  • Guru Yang Tulus Melayani