Ecosystem For Learning Agility

Posted on August 13th, 2019

“Be Yourself, but Better Everyday.” (Josef Bataona)

BELAJAR selama hayat dikandung badan. Sampai kita menghembuskan nafas terakhir. Berhenti belajar membuat kita mengalami kemunduran, bukan karena kita jalan mundur, tetapi karena kita berjalan ditempat, sementara dunia sekitar kita terus berubah, bahkan berlari cepat. Terkadang perubahaan terjadi mendadak, tak diduga sebelumnya. Seberapa siapkah kita ?

Moto hidupku diatas senantiasa mengingatkan saya untuk terus belajar. Menyimak apa saja yang terjadi sepanjang hari, belajar dari siapa saja yang ditemui setiap hari, dengan tujuan sederhana, agar hari ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan hari kemarin, dan besok lebih baik dari Josef hari ini.

Learning Agility

Setiap hari alam semesta menyediakan berbagai kesempatan untuk belajar. Bisa dari membaca buku atau artikel, bisa dari perbincangan dengan orang lain atau mengikuti seminar/workshop. Atau bahkan berbagai kejadian yang hadir di depan kita.

Apakah kebiasaan belajar seperti itu bisa mengasah “Learning Agility” kita? Apa sebenarnya “Learning Agility?” Merujuk pada tulisan Kevin Cashman, Korn/Ferry di majalah Forbes (https://www.forbes.com/sites/kevincashman/2013/04/03/the-five-dimensions-of-learning-agile-leaders/#de8d19f7457e):

“Learning Agility is a complex set of skills that allows us to learn something in one situation and apply it in a completely different situation.” Demikian  Kevin Cashman dari Korn/Ferry.

Jadi yang dia tekankan disini adalah hasil pembelajaran itu untuk membuat kita mampu menggunakannya dalam situasi yang sangat berbeda di kemudian hari. Selanjutnya Kevin menjelaskan:

It is about gathering patterns from one context and then using those patterns in a completely new context. In short, Learning Agility is the ability to learn, adapt, and apply ourselves in constantly morphing conditions.

Orang dengan learning agility memiliki lebih banyak pembelajaran, lebih banyak tools dan lebih banyak pilihan solusi saat menghadapi tantangan bisnis baru.

Lima Dimensi Penting bagi Pemimpin dengan Learning Agility

Learning Agility menjadi faktor yang sangat penting bagi seorang leader ataupun seorang individu dalam menghadapi berbagai perubahan cepat dan kompleks di masa mendatang. Kemampuan seseorang belajar hal-hal baru saja tidak cukup. Learning Agility mencakup kelima dimensi berikut ini, yang saling menunjang satu sama lain:

  • Self-Awareness: Being reflective and knowing themselves well; understanding their capabilities and their impact on others.
  • Mental Agility: Thinking critically to penetrate complex problems and expanding possibilities by making fresh connections.
  • People Agility: Understanding and relating to other people, as well as tough situations to harness and multiply collective performance.
  • Change Agility: Enjoying experimentation, being curious and effectively dealing with the discomfort of change.
  • Results Agility: Delivering results in first-time situations by inspiring teams, and exhibiting a presence that builds confidence in themselves and others.

Image: courtesy Korn/Ferry

Dunia  Leadership milik mereka yang memiliky Learning Agile. Develop yourself and your key talent across these dimensions and you will activate enduring human and strategic potential. Demikian pandangan Korn/Ferry

Diperlukan Learning Ecosystem dalam Organisasi

Karyawan dengan kemampuan bertumbuh-kembang cepat (high-growth individual), akan mengedepankan banyak pembelajaran baru dan membuat organisasi juga menjadi lebih baik dan bertumbuh (high-growth organization). Tapi ini tidak bisa dilakukan sendirian oleh seorang karyawan. Mereka membutuhkan managernya dengan minat belajar yang sama tingginya dan timbal balik serta menciptakan learning ecosystem dalam memacu pembelajaran.

Jadi bilamana kita menginginkan sebuah organisasi yang high-growth, kita harus menciptakan learning ecosystem yang mendukung setiap individu karyawan yang high-growth, mengekspose mereka di kesempatan baru yang menantang, jangan sampai mereka jenuh atau bosan dalam pekerjaan mereka.

Pemikiran seperti ini akan menjadi lebih dinamis, saat semua pihak dari beda generasi yang ada di dalam organisasi bisa saling menerima dan memahami, termasuk menerima bahwa kemampuan dan cara masing-masing generasi dan individu untuk belajar juga berbeda-beda.

“A person who is learning agile has more lessons, more tools, and more solutions to draw on when faced with new business challenges.” (Hallenbeck, Swisher, and Orr)

Bookmark and Share

2 Responses to Ecosystem For Learning Agility

  1. Tasha says:

    Terima kasih Pak Josef untuk tulisan-tulisannya yang selalu menginspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih banyak mba Lisa, sebuah paparan yang menyentuh untuk semakin kita memahami betapa besar dampaknya...

Lisa Samadikun:
Bahagiaku adalah ketika masih bernapas. Karena selama masih bernapas, ku masih bisa berbagi. Dan...

josef:
Terima kasih Ratih, irama kerja bisa kita atur, tapi tetap berlandaskan pola pikir dan perilaku yang positif...

josef:
Terima kasih sama2 Ratih, berguna untuk kita semua yang sering lupa. Salam

Ratih Hapsari:
Nice article Pak, walaupun kita “dituntut” untuk selalu cepat dan cepat, tapi kita tidak...


Recent Post

  • Gaya Hidup di Era Percepatan
  • Simple Daily Human Tips
  • 3S: Say Stay and Strive
  • Ecosystem For Learning Agility
  • Guru Yang Tulus Melayani
  • Multi Dimensi Pengembangan SDM
  • Temukan Kebahagiaan Dalam Dirimu
  • Belajar Sejarah Bisa Menyenangkan
  • Warisan Sejarah Tak Ternilai
  • Etika Para Wisatawan