Konektivitas Bermakna

Posted on May 10th, 2019

“The most basic and powerful way to connect to another person is to listen. Just listen. Perhaps the most important thing we ever give each other is our attention.  A loving silence often has far more power to heal and to connect than the most well-intentioned words.” (Rachel Naomi Remen)

DIGITALISASI telah membantu konektivitas antar manusia. Ini sangat menunjang hubungan persahabatan, tapi juga hubungan professional dalam rangka membangun karier. Bersama kawan-kawan dengan interest yang sama, kitapun bisa meningkatkan konektivitas untuk menciptakan MEANING dalam menyebar kebaikan bagi sesama. Berikut foto bersama beberapa sahabat dari negara lain di selah-selah Coaching World Game Antalya Turkey 2019, dimana berbagai proyek lintas negara disepakati untuk ditindak-lanjuti.

Masa Depan Digital HR

Dalam tulisannya di LinkedIn tanggal 2 Mei 2019 lalu, Dave Ulrich mengedepankan pendapat bahwa setelah melewati tahapan perubahan demi efisiensi, inovasi dan informasi, tahap berikutnya yang perlu diperhatikan Digital HR adalah: “To enhance connection.” Dasar pemikiran tersebut adalah:

“Being connected overcomes loneliness (social isolation) and underlies employee experience. The need for connection is high as recent research has found that social isolation increases mortality rates more than smoking, obesity, or substance abuse”

Pemikiran tersebut diatas sejalan dengan Attachment Theory yang mengatakan:

When someone has strong emotional attachment, personal well-being increases, which in turn increases personal productivity and overall organizational performance.

HR Digital agenda berikutnya, hendaknya fokus pada Emotional Attachment atau Connection dengan dua acara:

Pertama: HR technology menghubungkam karyawan satu sama lain agar bersama mereka bisa meningkatkan sense of belonging melalui hubungan perorangan. Ini berarti teknologi adalah untuk koneksi bukan sekedar kontak saja. Personal connections bisa dialami dalam problem-solving networks dimana karyawan bekerja untuk memecahkan masalah bersama dengan rekannya lintas divisi, bahkan dengan mereka yang berada di belahan dunia lainnya; atau dalam social networks dimana orang-orang berbagi kehidupan hariannya; atau dalam meaning networks, dimana mereka saling berbagi VALUES mereka.

Bagi milenial, networks berbasis teknologi seperti ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun bagi semua kita dewasa ini, hendaknya kita beralih dari teknologi yang hanya membagi informasi menjadi alat untuk menciptakan emotional connections.

Kedua: Emotional attachment tidak saja demi sense of belonging dan relationship tapi juga meaning dan identity. Ada karyawan sukses, karena alasan pribadi memutuskan untuk berhenti bekerja dan membangun usaha sendiri, namun gagal. Saat itu, walaupun dia masih punya banyak teman, namun dia merasa kehilangan “connection” dari perspektif MEANING dan IDENTITY yang dia dapatkan saat masih bekerja di perusahaan terdahulu.

Sementara itu, kita masih menemukan orang lain yang walaupun sendirian (alone) tapi tidak merasa lonely karena dia masih menyatu dengan alam (bisa menikmati perjalanan ke pantai atau gunung), menyenangi apapun yang dia kerjakan (working with purpose) atau jelas apa personal goalnya yang mau di penuhi (feeling accomplishment). Apalagi kalau network untuk memperkuat emotional attachmentnya dengan teman-temannya sudah dia bangun dan jaga sejak lama. Ini akan membantu saat dia tidak bekerja lagi. Dalam situasi seperti ini, family attachment menjadi unsur yang sangat penting, karena bersama mereka kita bisa menciptakan kehidupan yang lebih bermakna, bukan saja untuk keluarga tapi untuk masyarakat banyak.

HR Digital demi Employee Connection

Jadi selain untuk meningkatkn sense of belonging, HR dapat menggunakan teknologi untuk mendorong Employee Connection melalui, antara lain:

  • Entertainment and activities: koneksi bisa dibentuk bilamana karyawan menggunakan digital information yang lebih menyenangkan penuh antusias tentang hobi atau kegiatan rekreasi mereka. (Activity connection)
  • Nature: Karyawan merasa terkoneksi dengan alam, saat mereka mengunjungi tempat-tempat wisata keren, sehingga mereka juga bisa menyiapkan program outing ke tempat-tempat yang lebih indah dan bermakna. (Nature Connection)
  • Ideas: Karyawan akan merasakan bahwa idenya terkoneksi dengan yang lain saat mereka bergairah dengan insight mereka dan menggunakan teknologi untuk mengakses dan mengembangkan idenya. (Ideas Connection)
  • Organization: Karyawan mendapatkan identity connection saat berpartisipasi dalam purpose-driven organization (work, community, charitable, religious, or other organization). Technology memungkinkan organisasi ini mengartikulasi dan membagi Purpose nya melalui Sosmed atau platform lainnya. (Identity Connection)

Jadi sebagai HR Profesional, kita akan melangkah ke tahap Digital HR selanjutnya, manakala, kita menggunakan teknologi untuk menciptakan Employee Connections and Employee Experiences dengan People and Sources of Meaning.

Sepanjang Hidup

Berbagai group saat ini terbentuk, yang tersambung melalui WA atau platform lainnya, dengan tujuan awal untuk saling berbagi informasi. Komunitas ini bisa saja mereka yang pernah satu sekolah, atau satu perusahaan, atau satu profesi.

Berikut foto bersama teman-teman HR Directors Forum, group yang sudah berusia lebih dari 25 tahun, saat Buka Puasa Bersama 8 Mei 2019. Konektivitas dalam tim ini telah pula menyentuh Identity Connection.

Buka Puasa Bersama hanyalah satu dari berbagai alasan yang bisa digunakan  untuk mempererat tali persahabatan, saling berbagi kisah kehidupan, saling menjajagi peluang untuk mendukung satu sama lain.

Hubungan berbagai group tersebut diatas kemudian bisa ditingkatkan lagi dengan menciptakan kebutuhan untuk sharing ilmu/pengalaman praktis demi pembelajaran bersama, atau bertemu silaturahmi dalam bentuk reuni atau rekreasi bersama. Bahkan muncul ide-ide untuk menggunakan ilmu dan pengalaman mereka untuk melakukan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan banyak orang lain.

“As HR professionals use technology to create Employee Connections and experiences with both people and sources of meaning, they advance the next digital HR agenda.” (Dave Ulrich)

 

Bookmark and Share

2 Responses to Konektivitas Bermakna

  1. Santi Sumiyati says:

    Terima kasih Pak Josef, konten tulisan Bapak pas sekali dengan keingintahuan saya dalam rangka konteks organisasi yang sedang melangkah ke industri 4.0.Seakan Tuhan tunjukkan ke saya “ini loh yang kamu cari tentang makna digitalisasi bagi HR”. Terima kasih banyak Pak Josef. Salam hormat, Santi.

    • josef josef says:

      Terima kasih Santi, tidak ada yang kebetulan. Alam semesta menyediakan banyak kesempatan untuk belajar, dari berbagai sumber, termasuk dari para sahabat yang terus mau berbagi. Sukses selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Santi, setelah menyiangi rumput liar, jangan lupa untuk memupuki dan menyirami secara...

Santi Sumiyati:
Terima kasih Bapak…benar sekali seringkali saya membiarkan “rumput liar” memenuhi...

josef:
Terima kasih Santi, tidak ada yang kebetulan. Alam semesta menyediakan banyak kesempatan untuk belajar, dari...

josef:
Terima kasih Santi, banyak tradisi yang kaya pembelajaran yang perlu kita simak sambil bersyukur. Salam

Santi Sumiyati:
Benar Pak, saya pernah melihat di liputan khusus salah satu TV Luar Negeri tentang makna sosial...


Recent Post

  • Benih Positif di Taman Kehidupan
  • Mengenal dan Memotivasi Team
  • Perluas Wawasan
  • Konektivitas Bermakna
  • Lestarikan Tradisi sambil Bersyukur
  • Mengapresiasi dengan Perilaku Positif
  • Menenun Kebersamaan Lintas Negara
  • Let us Play the Game
  • Coaching World Game 2019
  • Akselerasi Pengembangan Valuable Talent