Tumbuhkan Gairah Kerja

Posted on January 20th, 2023

“Successful leaders see the opportunities in every difficulty rather than the difficulty in every opportunity.” (Reed Markham)

AWAL TAHUN merupakan momen untuk melakukan evaluasi, refleksi atas perjalanan karier dan perjalanan hidup. Seberapa jauh apa yang dikerjakan memberikan nilai tambah terhadap pertumbuhan pribadi, terutama dalam kaitan dengan usaha untuk menemukan MEANING dan PURPOSE ditempat kerja. Para leader mempunyai peran yang sangat penting dalam membantu memfasilitasi timnya untuk menemukan MEANING di balik apa yang mereka kerjakan dalam perjalanannya untuk meraih PURPOSE. Dampaknya, mereka bisa menggelorakan kembali gairah kerja tim.

 

Rindu Lingkungan Yang Bisa Leluasa Berkarya

Pembahasan tentang quite quitting masih berlanjut di tahun 2022. Fenomena itu sebetulnya sudah lama ada di organisasi, hanya saja mendapatkan label baru. Di berbagai organisasi masih saja ditemukan karyawan yang hanya mengerjakan tugas minimum, enggan luangkan waktu lebih atau usaha tambahan dalam bekerja. Mereka umumnya kurang bergairah dalam bekerja. Mengapa demikian? Pertanyaan ini sengaja saya lemparkan di sesi batch 72 CHRP (Certified Human Resources Professional) Program Universitas Katolik Atma Jaya awal tahun ini. Berikut foto sebagian dari 65 peserta, yang hadir secara online melalui zoom dari Semarang, Bandung, Yogyakarta, Cilegon dan Jabodetabek.

Umumnya peserta langsung menunjuk leader sebagai penyebab utama penurunan motivasi, tidak puas karena merasa tidak dihargai.

Bahkan ada peserta menyampaikan contoh praktek management yang kurang profesional. Ada seorang karyawan yang di recruit dari luar dengan gaji tinggi, karena memang nilai pasar untuk job itu tinggi. Itu biasa. Pada suatu titik, management menganggap dia overpaid. Situasi seperti itu mungkin saja, kalau hasil kerja dari karyawan itu tidak seperti yang diharapkan dan tidak setara dengan nilai yang diberikan dalam bentuk remunerasinya. Namun demikian penanganannya harus pula elegan. Ternyata karyawan itu ditawarkan untuk diberikan tambahan pekerjaan dengan gaji sama, atau pekerjaan sama tapi gaji diturunkan. Tentu saja karyawan menolak, dan menyodorkan pendekatan berbeda, yaitu tetap seperti sekarang atau dia berhenti tapi dengan pesangon besar. Selama belum ada titik temu, tentu saja motivasi kerja yang bersangkutan menurun, dan tidak ingin bekerja extra-mile.

 

Menemukan Makna di balik pekerjaan

Sebuah survey dilakukan, yang dilaporkan di HBR dalam tulisan Jack Zenger dan Joseph Folkman. Mereka melakukan 360 degree leadership assessment dengan menanyakan karyawan, apakah tempat kerja mereka merupakan tempat dimana mereka senang go extra-mile. Data yang dikumpulkan dengan maksud untuk menjawabi pertanyaan:

What makes the difference for those who view work as a day prison and others who feel that it gives them meaning and purpose?

Dalam survey tersebut karyawan memang diminta untuk memberikan rating pada:

  • Kemampuan manager untuk “Balance getting results with a concern for others’ needs” dan
  • Seberapa jauh lingkungan kerja mereka merupakan tempat dimana mereka bisa go the extra mile.

Grafik diatas disajikan dalam dalam tulisan Jack Zenger dan Joseph Folkman di HBR, 31 Agustus 2022 dengan judul  Quiet Quitting Is About Bad Bosses, Not Bad Employees (hbr.org).

Data memperlihatkan bahwa quite quitting hanya sedikit berkaitan dengan kemauan karyawan untuk bekerja lebih keras dan lebih kreatif tapi lebih kepada kemampuan manager dalam membangun hubungan dengan karyawannya, dimana mereka tidak hitung-hitungan waktu.

Data menunjukkan bahwa manager yang paling effektif mempunyai 62% karyawan yang siap untuk go extramile dan hanya 3% quite quitting. Sebaliknya manager yang dinilai paling rendah tingkat efektivitasnya, mempunyai hanya 20% anggota timnya yang ingin go extra mile dan 14% quite quitting.

Menggairakan Organisasi

Seperti halnya contoh yang disampaikan peserta CHRP diatas, survey inipun mengungkapkan bahwa banyak orang dalam perjalanan kariernya ternyata bekerja dengan manager yang menggiring mereka untuk menjadi quite quitting. Mungkin sesekali manager seperti itu perlu melakukan refleksi dan bertanya pada diri sendiri:

Apakah ini adalah masalah anak buahku, atau ini sebetulnya masalah diriku sebagai pemimpin, ketidak-mampuanku memimpin anak buahku?

Untuk memahami ini, para leader tentu saja disarankan untuk banyak meluangkan waktu untuk turun dan dialog dengan anggota timnya.Terkadang karyawan merasa kurang dihargai, tidak diapresiasi. Dengan mengidentifikasi lebih dini, maka para leader bisa mengambil langkah untuk memperbaiki situasi secara lebih awal.

“Winners see the dream and develop plans while the rest see the obstacles and develop justifications.” (Orrin Woodward)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Semangat pagi Santi, terima kasih untuk terus menyimak tulisan di blog ini. Semoga bermanfaat, terutama dalam...

Santi Sumiyati:
Selamat pagi Pak Josef. Membaca tulisan Bapak seperti “me-recharge daya” pikiran dan...

josef:
Terima kasih Reinaldo. Saran sederhana sudah dicantumkan dalam komenmu: leader yang mau paham situasi, minta...

Vicario Reinaldo:
Terima kasih untuk sharingnya Pak Josef. Resonate sekali dengan saya yang sering membantu para...

josef:
Terima kasih catatannya mas Anton, setuju harus pandai membawa diri, dalam membangun trust dan respect dari...


Recent Post

  • Mindset Sehat Penuh Syukur
  • Memasuki Lingkungan Baru
  • Menyikapi Teknologi Secara Bijak
  • Sejuta Senyum PEACE HR Society
  • Saling Menyemangati
  • Generosity of Spirit
  • Ciptakan Pengalaman Bermakna
  • Apa Yang Engkau Cari?
  • Asyiknya Belajar Bersama
  • Komitmen Perusahaan akan Peran Ibu