Posted on October 15th, 2021
“You can make more friends in two months by becoming interested in other people than you can in two years by trying to get other people interested in you.” (Dale Carnegie)
BUKU yang masih meninspirasi. Betul, buku karangan Dale Carnegie, berjudul How to Win Friends and Influence People. Tapi isinya merupakan tulisan lebih dari 80 tahun lalu. Apakah masih relevan? Dale Carnegie memang berbicara tentang esensi hubungan antar manusia, yang dianggap penting hingga hari ini. Karena itu, kalau kita paham tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain secara tepat, maka akan membuka berbagai potensi dan peluang kita untuk kehidupan, bisnis maupun hubungan antar manusia di masa depan. Karena itu, saya tertarik untuk menymak kembali tulisan Dale Carnegie dari koleksi buku di aplikasi online Headway. Buku ini ditulis oleh Dale Carnegie & Assiciate, dengan judul: How to Win Friends and Influence People in The Digital Age.
Kegiatan-kegiatan positif masih terus kita lakukan menggunakan teknologi kekinian, termasuk selama pandemi, seperti obrolan santai tentang Mental Health bersama teman2 berikut ini.

Semakin Relevan di Era Digital
Di era digital ini, bahkan tantangnnya semakin berat. Apapun yang kita katakan di sosmed, baik atau buruk bisa segera viral ke mana-mana. Bila berkaitan dengan hal negatif, bisa dalam hitungan detik sudah viral dan memberikan dampak negatif pada diri sendiri, reputasi diri, hubungan pertemanan ataupun bisnis. Karena itu kata-kata bijak yang disampaikan Dale Carnegie dalam bukunya, How to Win Friends and Influence People, yang ditulis sekitar 1936, akan tetap relevan, bahkan untuk hari ini.
Karena itu, tidak berlebihan kalau buku tersebut ditampilkan oleh Time Magazine di urutan nomor 19 Time Magazine’s top 100 most influential books in 2011.
Bijak Berpikir Kendalikan Jarimu
Bicara tentang buku tersebut di jaman Digital, kita perlu mengangkatnya dalam pola komunikasi, tidak saja secara langsung antar manusia, tetapi juga melalui sosial media. Ungkapan yang sering kita dengar atau gunakan: “Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” bisa membantu dalam berbagai hubungan termasuk hubungan bisnis. Bisa juga merusak, termasuk merusak reputasi, bila kita tidak bijak menterjemahkan isi pikiran kita melalui jari tangan yang mengetik kata-kata tersebut.
Banyak contoh yang bisa kita saksikan atau baca setiap hari melalui sosmed. Satu contoh dari pemain sepakbola Ryan Babel, yang kesal dengan wasit sesudah teamnya Liverpool kalah dari Manchester United. Dia kemudian membuat postingan twitter yang dianggap tidak sopan oleh FA dan memberikan sanksi sebesar $16,000. Andaikan dia bisa menahan diri lima menit saja, berpikir lebih tenang, mengendalikan diri dan jarinya, uang tersebut mash ada di rekening banknya.
Mendengarkan dengan Tulus
Steve Jobs mungkin bisa menjadi contoh positif untuk diangkat, yang belajar dari kata-kata bijak Dale Carnegie berikut ini
Connecting with a person’s true inner desire is the single best way to influence their behaviour, especially in business.
Apple membuktikan ini saat meluncurkan computer baru di 2002. Oleh banyak orang ini dianggap punya resiko tinggi. Tapi belajar dari konsep Dale Carnegie:
“If you want to influence someone to do something, you need to really connect with them on a basic level, e.g. their inner desire.”
Jobs mendengarkan konsumen, dan meyakini bahwa mereka menginginkan sesuatu yang lebih kreatif, komputer baru. Dia berikan apa yang konsumen mau, dan ternyata meledak.
Untuk melakukan ini, kita harus berpikir dari perspektif pelanggan, memberikan apa yang diinginkan dan sekaligus membawa keuntungan bagi organisasi.
The Sound of Your Name
Dalam sebuah video pendek yang dibagi, dengan judul Popularity, The Sound of your name (https://youtu.be/wPYNCoTW3b8) John Maxwell bercerita tentang pengalamannya selagi di bangku sekolah kelas 7-8. Dia belajar bahwa, kalau mau jadi popular diantara teman2mu, usahakan untuk membantu mereka. John mengaku, terinspirasi dari buku Dale Carnegie yang dia baca saat itu, How To Win Friends and Influence People. Dia bekerja keras untuk mengingat nama2 temannya, karena suara atau bunyi termanis di telinga seseorang adalah bunyi Namanya, saat disebut oleh temannya.
John juga berusaha untuk menghargai orang lain, membuat mereka menyadari bahwa dia menghargai mereka. Dia mencoba memahami teman-temannya dan mendengarkan mereka dengan tulus. Dia sadar dan menginginkan, setiap saat teman-temannya menyebut namanya, mereka menyebutnya dalam konteks positif.
Tokoh sekaliber John C. Maxwell mengakui bahwa dia terinspirasi dan belajar dari Dale Carnegie, serta menerapkan tips yang diberikan dalam buku itu. Kitapun pasti bisa, kalau kita menyimak, memahami dan mengangkat pembelajaran dari buku itu, bahkan dalam era digitalisasi dewasa ini. Dan saya termasuk yang masih mengndalkan buku itu sampai saat ini.
“A smile, someone once said, costs nothing but gives much. It enriches those who receive without making poorer those who give.” (Dale Carnegie)
josef:
Terima kasih sama-sama Diana. Itu adalah cerita perjalanan kita bersama, yang kita temukan dan pelajari...
Diana Wirawan:
Bapak tidak pernah berhenti memberikan rasa “oya ya bener jg”.. tulisan bapak yang...
josef:
Selamat pagi Puji. Terima kasih telah menjadi bagian dari tulisan ini. Kita terus saling belajar dan berbagi....
Puji:
Banyak contoh nyata yang jadi pembelajaran seumur hidup, menjadi lebih baik setiap harinya. Terima kasih pak...
josef:
Terima kasih sama2 mba Deva, terima kasih untuk rutin menyimak tulisanku. Semoga membawa manfaat untukmu dan...