Posted on August 9th, 2019
“The teacher who is indeed wise does not bid you to enter the house of his wisdom but rather leads you to the threshold of your mind.” (Kahlil Gibran)
NEGARA INDONESIA baru berusia 2.5 tahun, tepatnya 30 Januari 1948. Di desa nelayan Lamalera Lembata NTT, lahirlah seorang anak laki2 kecil dan lemah, lewat perjuangan tragis dramtis ibunya, yang ngidam “Memahat batu kali menjadi lesung.”
Nama yang tepat sudah diberikan orang tuanya: “Laba Lefet Vato” (LABA artinya alat untuk memahat batu). Dalam nama itu ada doa yang kelak sangat memotivasi hidupnya dalam memahat hati orang yang terkadang sudah membatu, Nama lengkapnya, Fransiskus Laba Bataona.
Hari ini, 28 Juli 2019, kami semua diundang untuk merayakan perjalanan beliau sebagai guru, genap 50 tahun. Dan perayaan itu hendaknya dibaca sebagai perayaan komitmen beliau sebagai seorang guru dan karya melayani.

Dengan bekal ijazah SMA dan PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), bapa Frans (demikian dia disapah muridnya) mulai karyanya sebagai guru, Bahasa Latin dan Musik Gregorian di SMP dan SMA Seminari Hokeng pada tahun 1969. Perayaan misa hari itu dipimpin Pater Fransiskus Asisi Labi Bataona CSsR dan dimeriakan oleh Koor Mudika Lamalera, INA LEFA.

Persiapan Secara Sungguh-sungguh
Perjalanan pa Frans sebagai Guru, dipersiapkan dengan sepenuh hati. Karena itu berbagai Pendidikan formal maupun non formal dilakukan untuk tujuan itu.
Cita-citanya saat itu ingin menjadi Pertapa, maka diapun melangkah ke Biara Pertapaan Rawaseneng, namun Tuhan punya rencana lain.
Dia mengikuti Pendidikan di Institute Filsafat Teologi Kentungan, Jogya. Kemudian dia mengikuti Pendidikan Guru di Fakultas Pendidikan Sastra Seni, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Sanata Dharma Jogya.
Beberapa Pendidikan informal juga diikutinya demi persiapan masa depannya: Kursus dasar kataketik; Kursus Penulisan Ilmiah dan Jurnalistik di Kompas Gramedia Jakarta; Pelatihan menjadi composer dan arranger lagu oleh Pusat Musik Liturgi Yogyakarta.
Kiprah di Kota Pelajar
Ditengah kesibukan kuliah, pak Frans juga mengisi waktu luang dengan mengajar Agama Katolik di SD Pangudi Luhur dan SMP Marsudi Luhur Jogya. Dosen teologi & Liturgi dan Musik Gereja di Biara Pertapaan Rawa Seneng. Guru Bahasa Inggeris di Ganeza Course Jogyakarta
Akhirnya Jogya dia tinggalkan dan mulai merambah karya di Ibu Kota sejak 1981. Tapi Jogya tetap jadi kota istimewa, karena disana dia membentuk diri sebagai insan professional. Dan lebih istimewa lagi, disana dia bertemu sosok yang Terpuji diantara Wanita yang dia temui. Namanya Maria Adriana Pudjiati yang lebih memilih dan melirik seorang guru sederhana. Lamaran diterima dan dia dipersunting bapa Frans ditahun 1985
Di balik sukses seorang pria, demikian kata orang bijak, ada seorang wanita Tangguh, dan dialah Maria Adriana Pudjiati. Berikut foto pa Frans bersama istri dan anaknya Hosse.

Merambah karya di Ibu Kota
Nama Frans Laba Bataona dan kiprahnya ternyata membuat beberapa sekolah di Jakarta mengangkatnya sebagai Guru Tetap. Tapi ada juga yang memintanya sebagai guru yang diperbantukan, diselah-selah kesibukan utamanya.
Sebagai Guru Tetap:
Berikut foto mereka yang hadir dan turut merayakan.

Diperbantukan
Dosen Tidak tetap
Manfaat Bagi banyak Orang
Laba dalam Bahasa Indonesia juga berarti keuntungan, manfaat. Tapi dalam perjalanan karya bapa Frans Laba sebagai guru, manfaat ini diberikan kepada banyak orang, kepada ribuan muridnya. Foto berikut, saat kami memaparkan perjalanan karya Frans Laba Bataona sebagai guru yang tulus mengabdi.

Oprah Winfrey suatu hari menyampaikan kepada Penyair Maya Angelou, bahwa dia sudah membangun sekolah di Afrika Selatan: “Ini akan menjadi Legacy saya yang terbesar.”
Maya menjawab, kamu tidak paham apa makna legacy sesungguhnya.
“Your legacy is every life you have touched. Fill everything with love. Because every moment you are building your legacy.”
Bapa Frans Laba Bataona, telah mendemonstrasikan kepada kita sepanjang 50 tahun perjalanan karyanya sebagai Guru, dia telah menyentuh kehidupan dari ribuan anak didiknya, yang saat ini telah sukses di berbagai bidang kehidupan. Dan beberapa diantaranya hadir bersama kita hari ini.
Terima kasih kepada bapa guru Frans Laba Bataona yang telah menginspirasi kami semua untuk terus melayani di karya kehidupan kami masing-masing.
“A teacher affects eternity: he can never tell where his influence stops.” (Henry Adams)
josef:
Terima kasih pa Anton telah mengunjungi blog dan menyimak tulisan ini. Kita akan terus saling mengingatkan...
josef:
Selamat pagi Lia yang sudah senyum semakin lebar. Terima kasih untuk catatan yang sangat berarti. Terkadang...
Anton:
Semangat pagi pak Josep, Tulisan bapak sangat menginspirasi dan sangat sederhana untuk bisa kita...
lia.catri:
Good morning, Pak… SENYUMMU PAGI INI, seberapa lebar? >> mendadak LEBAR sekali Apa yang...
josef:
Halo mba Sofia, senang menyapa mu di blog ini. Semoga bisa bermanfaat. Salam
Mantap dan sangat menginspirasi Besa.
Terima kasih suster, kita banyak belajar dari pengalaman ini, kita juga bisa menerapkannya. Salam
Pingback: Guru yang Tulus Melayani | Beranda Negeri