Saya Memilih Mengaku Salah

Posted on April 7th, 2015

“The last time you failed: did you stop trying because you failed, or did you fail because you stopped trying?” (John Maxwell)

SEMUA KITA yang aktif mempunyai peluang untuk sukses dan juga peluang untuk melakukan kesalahan. Dan beragam kesalahan dengan kadar yang berbeda-beda bisa kita kisahkan. Tapi mau atau tidak berceritera tentang kesalahan yang dibuat, merupakan tantangan tersendiri. Namun demikian, kalau gengsi dan harga diri sudah mulai ditempatkan di depan, demi menjaga reputasi atau nama baik, akan sulit untuk yang bersangkutan berkisah secara terbuka.

Dan lebih seru lagi, bahwa kenyataannya adalah kekhawatiran atau bahkan ketakutan untuk melakukan kesalahan sering menghantui sebagian dari kita, ketika kita mulai melangkah untuk mengerjakan sesuatu. Dan kadar ketakutan itu sangat tergantung pada tingkat resiko yang akan diambil kalau kesalahan itu terjadi.

Belajar Mengatasi Kecemasan

Mungkin sebelum melangkah dalam melakukan sesuatu, perlu kita jelas terhadap diri sendiri: apa porsi yang bisa saya kontrol, dan porsi kerjaan mana yang tergantung pada orang/situasi di luar kontrol kita. Pusatkan perhatian kita pada yang bisa kita kontrol.

Juga perlu untuk meyakinkan diri sendiri bahwa melakukan kesalahan, bukan berarti gagal, kalau kita bisa belajar dari kesalahan itu. Belajar dari kesalahan pun baru merupakan tambahan pengetahuan saja. Dengan mengambil langkah sebagai tindak lanjut, maka kesalahan itu akan memberikan nilai tinggi dalam perjalanan hidup itu sendiri.

Dua pesan penting dari John Maxwell:

  • “Everything in life brings risk. It’s true that you risk failure if you try something bold because you might miss it. But you also risk failure if you stand still and don’t try anything new”
  • “If you know who you are, make the changes you must in order to learn and grow, and then give everything you’ve got to your dreams, you can achieve anything your heart desires.”

Pada akhirnya, semuanya bermula pada mengenali diri sendiri, kemampuan diri dan besarnya motivasi demi meraih sukses.

Mengakui Kesalahan

Menyimak Buku “Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku”, kisah tentang sebuah kesalahan yang pernah saya lakukan justru dipaparkan di depan. Dalam peristiwa itu saya memilih untuk mengakui kesalahan itu di depan 400 karyawan yang hadir dan di depan rekan direksi dan Presiden Direktur yang juga hadir. Keberanian untuk mengakui kesalahan itu muncul spontan lantaran saya menyadari sepenuhnya bahwa:

  1. Walaupun program yang barusan diluncurkan adalah demi kebaikan karyawan.
  2. Reaksi karyawan memperlihatkan ketidak-puasan, berarti ada kesalahan dalam desain program itu.
  3. Kesalahan tersebut tidak perlu harus ditutup-tutupi dengan berbagai argumentasi.
  4. Saya pun bertekad untuk mengambil langkah untuk memperbaikinya, demi kesejahteraan karyawan.

 

Buku Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku

“Be more concerned with what you can give rather than what you can get because giving truly is the highest level of living.” (John Maxwell)

Dan kalau kita cermati, beberapa artikel di dalam buku ini selain berkisah tentang kesalahan yang patut disyukuri (My best Mistake), tapi juga bagaimana kita menyimak kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, menarik pelajaran darinya, tanpa kita harus melakukannya sendiri. Bahkan anakku yang masih kecil sanggup membuka mata kami bahwa cara kami merancang liburan adalah demi kesenangan kami orang tua dan bukan untuk sang anak. Semua ini ingin kami utarakan agar kita menjadi lebih yakin untuk melangkah, tanpa takut untuk melakukan kesalahan.

Bersihkan Juga yang Di Bawah Karpet?

Pengalaman masa lalu sering memoles kita untuk memberikan response tepat pada kesalahan yang dilakukan. Ada yang sigap melihat kesalahan, mengakuinya dan mengambil langkah perbaikan. Ada yang justru membesar-besarkan kesalahan itu, mencari kambing hitam pada orang lain, dan akhirnya dia sendiri menjadi frustrasi karena tidak bisa menipu diri ketika dibayang-bayangi kesalahan tersebut.

Ada juga yang cekatan menyembunyikan kesalahan itu di bawah karpet supaya tidak ketahuan. Tapi seperti kata orang bijak, seberapa bagus pun cara kita membungkusnya, yang busuk akan tercium juga, cepat atau lambat.

Dengan demikian, bila pendekatan kita terhadap kesalahan tersebut atas dasar mindset positif, hasilnya akan positif, dan sebaliknya juga terjadi. Ini berarti yang memegang kendali adalah kita, bukan orang lain, bukan juga situasi sekitar kita, seperti kata Stephen R. Covey dalam konteks habit 1: “I am not a product of my circumstances. I am a product of my decisions.”

Bahkan orang yang dikagumi dalam sejarah ilmu pengetahuan, berani mengakui kesalahan seperti kutipan di akhir tulisan ini, siapakah saya ini untuk tidak melakukannya?

“I have tried 99 times and have failed, but on the 100th time came success.” (Albert Einstein)

Bookmark and Share

2 Responses to Saya Memilih Mengaku Salah

  1. Agnes Murniati says:

    Keyword nya: Kerendahan Hati ya Pak….. Thanks for the sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Ratih, bahkan hanya lima menit saja sudah lebih dari cukup, namun dilakukan secara rutin dan di...

josef:
Terima kasih Ratih, saya boleh mengangkat kembali komennya untuk postingan ini. Terima kasih juga untuk rutin...

Ratih Hapsari:
Sudah beberapa waktu ngga baca blog-nya Pak Josef, sekalinya baca saat di MRT eh ada nama saya di...

Ratih Hapsari:
Wah keren sudah sampai kawah Ijen Pak. Benar sekali yang Pak Josef sampaikan, perlu ada momen penting...

josef:
Terima kasih juga karena Santi senantiasa meluangkan waktu untuk menyimak tulisan2 ini, dan membagi manfaatnya...


Recent Post

  • Mengukir Kebahagiaan Bersama
  • Bersyukur di Tepi Kawah Ijen
  • Sewindu Membagi Cerita
  • Sentuhan Tangan Yang Diberkati
  • Tempat Kerja Idaman
  • Momen Mendengarkan Milenial
  • Memacu Gairah Belajar
  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching
  • Profesi MSDM Berkualitas