Menjaga Nilai Positif Tetap Hidup

Posted on September 19th, 2014

“Quality in a service or product is not what you put into it. It is what the client or customer gets out of it.” (Peter Drucker)

PEDULI PADA CUSTOMER hanya bisa dipahami karyawan, kalau mereka melihat contoh kepedulian pada karyawan sebagai internal customer. Obrolan dengan tema ini berawal dari kejadian di salah satu coffee shop hotel.

Suara gubrakan dari tumpukan piring yang jatuh sungguh mengagetkan. Kejadian ini berulang lagi di hotel berbeda di hari lain. Ekspresi pelayannya hanya santai, tanpa merasa salah sedikitpun. Kejadian ini ditambah lagi dengan penampilan beberapa pelayan restoran (kebetulan restoran Asia) dengan wajah kehabisan senyum, rada jutek terkesan kelelahan kerja. Mereka hanya menjalankan pekerjaan sesuai tertulis di  job description mereka.

Nilai Melayani Belum Pudar

Kita memang memiliki banyak nilai warisan leluhur kita. Tapi kita juga banyak belajar nilai-nilai yang diramu secara cantik, ditulis rapih dalam berbagai buku dan diajarkan dalam berbagai event. Sebut saja tentang “Customer Service” atau “Service Excellence”.

Pertanyaannya: Apakah Customer Service yang kita saksikan di hotel yang sama di Indonesia, beda dengan di negara lainnya?? Tentu teman-teman kita di Indonesia mendapatkan konsep dari hotel induknya di Eropa. Kalau memang demikian, apakah karena Value Customer Service itu tidak penting lagi di sana?? Dan beberapa lagi contoh yang kami alami yang men-trigger diskusi lanjutan.

Pertama-tama saya tidak ingin menggeneralisir bahwa perilaku itu berlaku di semua bagian hotel tersebut. Namun apapun itu, value positif akan tetap positif dan bermanfaat. Walau di negara yang menjadi kantor pusat perusahaan tersebut, yang juga sekaligus mengajarkan makna Customer Service, kita menyaksikan perilaku yang tidak sesuai, kita tidak perlu meniru perubahan yang cenderung pudar ini. Karena mungkin saja hanya seorang itu yang melakukannya.

Peduli Lingkungan

Kontras dengan peduli manusia sebagai customer di atas, kita bisa saksikan di sepanjang perjalanan liburan lalu, komitmen pemerintah dan masyarakat tentang lingkungan. Dalam hotel kita masih menemukan berbagai kampanye berupa tulisan: “Make a green choice” atau “Here your towels plant trees. 5 Reuse towels = 1 tree planted. Dan masih banyak lagi di tempat-tempat umum, yang bicara tentang kebersihan, pemilahan sampah atau penggunaan air yang bertanggung jawab.

Sementara itu di sebuah tempat sampah umum di Lucern, Swiss, saya asyik memperhatikan seorang ibu yang dengan sepeda membawa sampah rumahnya yang akan di buang di tempat itu. Dengan penuh disiplin dia memilah berbagai sampah yang dibawa dan ditempatkan pada bin yang sesuai. Bayangkan kalau semua kita melakukan hal yang sama…

Keinginan kuat untuk turut ambil bagian dalam program kepedulian lingkungan, kami sendiri terjun langsung ke lapangan dalam program perusahaan terdahulu, Green and Clean. Di sini saya sendiri menjadi saksi betapa keinginan kuat masyarakat untuk terlibat mengambil bagian untuk menjadikan lingkungan mereka bersih dan sehat. Mereka hanya butuh bimbingan dan sedikit sentuhan. Dan tidak berlebihan kalau mereka-mereka yang aktif di bidang ini di sebut sebagai “Pahlawan Lingkungan”, seperti kata Lolly Daskal yang me-Retwit pesan @lettersproject:

“A hero is someone who honestly touches the heart of others with pure intention and humility”

Belum cukup dengan keterlibatan ini, sayapun merasa perlu untuk turut belajar langsung dari gurunya tentang Inconvenient Truth dalam proram  “The Climate Project” di Januari 2011. Foto berikut ini, mejeng bareng Al-Gore usai mengikuti program di Jakarta saat itu.

Josef Bataona bersama Al Gore

Memilih Peduli Lingkungan atau Peduli Manusia?

Pertanyaan itu memang tidak masuk akal, tapi sengaja saya sodorkan. Kesan dalam perjalanan seperti yang disampaikan di atas, dalam lokasi hotel yang sama nilai kepedulian pada lingkungan semakin solid, sementara itu nilai kepedulian pada manusia, terutama kepada customer terasa semakin hambar, senyum yang gratis saja sulit ditampilkan. Dibayar untuk itu (karyawan) saja sulit apalagi untuk urusan yang sukarela, yang memerlukan ketulusan dari dalam hati.

Dua aspek ini bukan merupakan pilihan. Dua-duanya merupakan ungkapan akan keyakinan seseorang tentang hal baik yang harus dilakukan. Keduanya demi kepentingan kehidupan manusia baik sekarang maupun untuk generasi mendatang. Nilai kepedulian tersebut hendaknya tetap hidup, dipupuk subur, agar terus menginspirasi generasi mendatang untuk hidup dengan nilai tersebut.

“Know what your customers want most and what your company does best. Focus on where those two meet.” (Kevin Stirtz)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan