Peduli Kebugaran

Posted on December 20th, 2016

“When health is absent, wisdom cannot reveal itself, art cannot become manifest, strength cannot be exerted, wealth is useless, and reason is powerless.” (Herophiles)

SAMBIL LARI TREADMILL pagi hari, iklan ini senantiasa muncul, yang kurang lebih mengingatkan dengan cara yang sederhana, bahwa bertambah usia itu tidak bisa dihindari, tetapi tetap bugar adalah pilihan. Mengapa pilihan, karena masing-masing kita adalah pribadi mandiri, punya kebebasan memilih, termasuk memilih untuk diri kita sendiri.

Memilih olahraga dari sekarang, atau nanti saja kalau sempat. Memilih makan yang enak-enak setiap ketemu. Memilih balance antara kerja dan kehidupan di luar kerja termasuk untuk keluarga. Tapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah memilih untuk mengalokasikan waktu demi kesehatan. Semua ini akan membangun kebiasaan hidup kita, entah baik atau buruk, yang pada gilirannya nanti kita akan merasakan dampaknya.

Pertimbangkan Kembali

Kesempatan baik di akhir tahun ini juga bisa digunakan untuk mencermati kebiasaan hidup kita yang memberikan kontribusi besar terhadap kesehatan kita. Kali ini mari kita potret beberapa kebiasaan yang perlu kita pertimbangkan kembali, apakah mau diteruskan, dikurangi atau bahkan dihentikan.

Tulisan berikut diambil dari Blog: 12minutesathlete.com October 18th, 2016 berjudul: ‘Health & Fitness Habits To Stop Now‘.

Saya sengaja menggantinya dengan:

“Pertimbangkan kembali 9 kebiasan ini demi meraih kehidupan yang lebih sehat.”

  1. Kalau ada kemauan ada jalan

Beberapa contoh alasan untuk tidak berolahraga: terlalu sibuk dan tak ada waktu untuk olahraga, terlalu capek untuk menyediakan makanan sehat di rumah, dan beribu alasan lain bisa dikedepankan. Anda tidak sendirian, ada banyak yang sibuk tapi bisa luangkan waktu untuk bugar. Foto berikut adalah penampilan juara lomba senam untuk peregangan di kantor.

peduli-kebugaran-1

  1. Terjebak program Diet

Saya suka dengan konsultan kebugaran yang selalu memulai komunikasinya dengan mengatakan: “Anda boleh makan apa saja.” Komunikasi ini kedengaran lebih merdu dibandingkan pernyataan: “Anda dilarang makan a,b,c dan d.” Program diet yang tidak dipahami sepenuhnya mengakibatkan kita merasa terbebani dan akhirnya kita membenci kehidupan kita. Ini tidak akan langgeng. Karena selagi program no sugar/low carb/low calorie diet membantu menurunkan berat badan dalam jangka pendek, belum tentu bisa membuatmu menikmati hidup ini untuk jangka panjang. Apalagi, kalau diet menyulitkanmu untuk olahraga, karena merasa lemes, kurang energy. Mungkin bisa dicoba rumus 80/20, lebih banyak kesempatan menikmati makanan sehat, tapi juga memberikan ruang untuk menikmati makanan kesukaan yang tidak masuk kategori ideal sehat.

  1. Bukan turunan atlit

Sering saya berpikir, saya bukan dari keluarga atlit, jadi darah yang mengalir di tubuhku bukan darah olahragawan. Atau, karena saya seorang wanita, jadi latihan beban (ringan sekalipun) juga tidak perlu. Carilah petunjuk yang benar dan mulailah berolahraga. Banyak teman sekitarmu yang bisa membantu.

Kalau mau, bisa menemukan kreasi senam untuk peregangan, ciptaan Tim CHR.

peduli-kebugaran-2 peduli-kebugaran-3

  1. Demi penampilan

Motivasi olahraga biar turunkan berat badan, atau biar tampil menarik dengan celana jin? Boleh saja kalau itu bisa membuatmu mulai berolahraga. Begitu aktivitas ini ditekuni serius, kita akan merasakan dampak yang tidak terduga sebelumnya: bertambah segar, bersemangat, bergairah, lebih kuat. Tampilan menarik akan terus didapat, tapi yang lainnya diperoleh sebagai bonus. Olahraga dengan tujuan fit dan sehat akan terasa lebih menyenangkan daripada hanya sekedar untuk penampilan. Selanjutnya akan selalu ada alokasi waktunya.

  1. Rasa bersalah

Anda bisa merasa OK dengan menjauhkan coklat, gula, gorengan dan makanan lain yang dianggap tidak sehat, namun ini belum tentu merupakan strategi jangka panjang yang disarankan. Mengapa? Tanpa sadar berpotensi membenci kehidupanmu sendiri. Merasa bersalah ketika menolak sepotong kue coklat buatan nenek ketika berlibur di sana, atau di momen kumpul teman, tidak bisa menikmati kegembiraan bersama dari makanan enak yang tersaji. Rumus 80/20 di atas bisa diterapkan dengan mengambil piring kecil, memakan yang sehat terlebih dahulu, sehingga ruang tersisa hanya sedikit untuk lainnya.

  1. Fokus pada jumlah waktu

Ada yang sudah mulai rajin olahraga, tapi fokus memperhatikan jam dari waktu ke waktu. Merencanakan program yang akan diambil, kualitas latihan dalam periode tertentu, akan membuat latihan sangat menyenangkan. Jadi fokus pada efisiensi latihan, daripada jumlah jam latihan.

  1. Membosankan itu perlu disikapi kreatif

Dengan sedikit kreativitas, makanan sehat pun bisa memberikan rasa menyenangkan. Banyak bumbu yang menambah cita rasa, ada kacang-kacangan, advokado, minyak nabati dan lain-lain. Kreasi burger tanpa daging sudah banyak tersedia. Begitu kita secara disiplin mengkonsumsi makanan sehat, kita akan ketagihan.

  1. Bersahabat dengan makanan

Ada yang mencoba mengurangi porsi makan sampai seminim mungkin, karena takut gemuk. Begitu porsi makan agak berlebih, kita lalu menyalahkan diri sendiri dengan penyesalan yang mendalam.

Kalau menginginkan hidup yang sehat, fit dan kuat, berpikirlah bahwa makanan itu sebagai penambah energy. Makanan itu diperlukan agar bertenaga untuk olahraga, juga merupakan asupan nutrisi untuk otak dan memberi energy agar lebih kreatif untuk meraih mimpi.

  1. Tak ada yang terlambat

Berapapun usia dan latar belakang kita, tak pernah terlambat untuk memulai latihan.

Saya sendiri baru mengenal gym setelah berusia 40 tahun. Tapi sesudah itu saya jadikan sebagai bagian dari keseharianku. Sekarang di saat usiaku sudah mencapai 63 tahun, saya sudah terbiasa untuk olahraga 4x seminggu, dan sudah mendapatkan berbagai manfaat demi kesehatanku.

Pola makan? Menu utama ikan dan sayuran selalu hadir di meja makan. Jus buah segar (7 macam) senantiasa hadir setiap pagi bersamaan dengan sarapan.

Semoga rancang hidup sehat kita semua di tahun depan, juga mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas.

“The higher your energy level, the more efficient your body. The more efficient your body, the better you feel and the more you will use your talent to produce outstanding results.” (Anthony Robbins)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life