Disruptive HR Mindset

Posted on August 30th, 2016

“Creativity is an input to innovation and change is the output from innovation.” (Braden Kelley)

MENGAPA TIDAK? Tulisan di dinding luar tempat mangkal anak muda itu sangat menggoda. Persisnya: Life is, where “WHAT IF” runs away with “WHY NOT”. Mengapa tidak?

Pertemuan kelompok HR Directors Forum memang memilih tempat yang cool. Walau mayoritas adalah Boomers dan hanya satu dua yang Gen X tapi ambiance membuat peserta berperilaku seperti layaknya Millenials. Hidangan makan siang sudah siap, sandwich dan tidak ada nasi. Tim bukan langsung mulai makan siang, malah foto selfie yang menjadi pilihan pertama, layaknya kebiasaan millennials, untuk segera diposting di media sosial. Momen yang direkam, diyakini akan terus menumbuh-kembangkan kebersamaan.

Disruptive HR Mindset_1

Transformasi Di Saat yang Tepat

“Kami memutuskan untuk melakukan transformasi saat perusahaan dalam keadaan sehat. Dan kami sangat beruntung bahwa proses itu bisa diselesaikan sebelum kondisi ekonomi melemah.”

Kira-kira itulah insight dari paparan Ibu Mia, yang menjadi host hari itu. Mereka memang baru selesai proses transformasi, dan sedang mencermati hasil post exercise. Komitmennya tinggi  untuk membawa profesionals demi mendongkrak kinerja perusahaan atau group perusahaannya.

Mereka juga menyiapkan parameter KPI untuk memonitor dan mengukur performance individu. Cara ini demi meningkatkan obyektivitas penilaian, bilamana kita harus memacu setiap anggota untuk berlari cepat. Mereka yang ternyata ketinggalan karena tidak siap lari bersama, akan berhadapan dengan management yang terus belajar untuk bersikap tegas.

Reward dan punishment harus berimbang. Karena itu langkah untuk membuka pintu keluar bagi karyawan yang tidak siap mengikuti irama perusahaan, juga disiapkan. Siapa tahu mereka bisa lebih bersinar di luar sana, dalam lingkungan yang lebih sesuai dengan irama kerja karyawan tersebut.

Dan yang menarik juga untuk kita cermati dan menunggu hasilnya, adalah langkah yang sedang disiapkan Ibu Mia dan timnya untuk: “Menumbuhkan Kultur Ownership”. Semoga insight menarik seputar inisiatif ini bisa kita jadikan pembelajaran, setelah mereka memetik hasilnya.

Disruptive HR Mindset_2

Warna Future Human Resources

Banyak perubahan business yang sudah ada di depan mata kita, sebut saja bisnis transportasi online, yang sangat mengandalkan teknologi, real time dalam services. Atau berbagai lapak di dunia maya, yang begitu memberikan kemudahan berbelanja.

Lagi lapar, pingin makan martabak? HP Anda mungkin sudah berisi aplikasi yang bisa memesan untuk diantar pakai sepeda motor. Atau mau beli sesuatu di minimarket tapi tidak sempat keluar? Jasa provider tertentu bisa membelikan (asal tidak melebihi sejuta rupiah) dan akan segera diantarkan ke tempat, baru kita bayar. Sederhana khan?

Kalau HR diminta untuk menyiapkan karyawan seperti itu, sudah siapkah kita dengan detail profile seperti apa dan bagaimana lingkungan kerjanya? Mereka tidak butuh kantor. Lalu bagaimana engagement proses berlangsung?

Dalam 5 tahun mendatang, bayangkan banyak penjualan di lapangan sudah mengandalkan gadget. Sebut saja asuransi sebagai contoh. Sudah siapkah HR untuk:

  • Merespon pada tuntutan bisnis tersebut dari semua aspek: recruitment, training, kompensasi dll.
  • Apa yang perlu dilakukan dengan tenaga sales sekarang, bila kegiatan sales dilakukan online? Kalaupun diserap, mereka perlu dibekali keahlian apa?
  • Tantangan Industrial Relations seperti apa yang akan kita hadapi?
  • Model remunerasi seperti apa yang bakal menarik, sekaligus merangsang peningkatan kinerja?

Dan masih banyak lagi yang bisa kita masukkan dalam daftar pertanyaan itu.

Disruptive HR Mindset

Awal 1995, Clayton M. Christensen, memperkenalkan istilah Disruptive Innovation.

“A disruptive innovation is an innovation that creates a new market and value network and eventually disrupts an existing market and value network, displacing established market leading firms, products and alliances.

Di blog Clayton Christensen for Disruptive Innovation, kita bisa membaca:

“The theory explains the phenomenon by which an innovation transforms an existing market or sector by introducing simplicity, convenience, accessibility, and affordability where complication and high cost are the status quo. Initially, a disruptive innovation is formed in a niche market that may appear unattractive or inconsequential to industry incumbents, but eventually the new product or idea completely redefines the industry.”

Dan contoh klasik yang diceritakan di blog itu adalah personal computer yang hadir setelah mainfraim dan minicomputer yang harganya selangit. Apple yang menjadi pionir di akhir 1970an/awal 1980an meluncurkan personal computer yang jauh dari sempurna dan hanya sebagai mainan anak-anak. Tapi pelanggannya tidak peduli. Mereka merasa mampu membeli computer dalam jangkauan budget mereka. Apple mulai menyadari ini dan perlahan tapi pasti menyempurnakan inovasi mereka.

Situasi seperti ini masih terus berlanjut di bidang yang beragam. Ada perusahaan multinasional yang mengeluarkan dana milyaran untuk innovasi produk baru. Perusahaan ini punya sejarah panjang dan berhasil karena kekuatan innovasinya. Dan mereka sangat bangga dengan kemampuan yang sekaligus menjadi competitive advantage-nya menghadapi competitors.

Sampai suatu saat, mereka mulai membuka diri untuk belajar dari “Start-up Company.” Mereka memulai berbagai program change di perusahaan di semua lini, mengikuti mindset “Start-up Company.”

HR juga mengambil peran penting mengawal dan memfasilitasi proses perubahan ini, mempersiapkan berbagai talent untuk mensukseskan proses perubahan itu. Hasilnya biaya yang mereka keluarkan untuk sebuah inovasi tersebut hanya 1/100 dari biaya yang dikeluarkan dengan cara konvensional.

Berikut foto bersama sebelum belajar:

Disruptive HR Mindset_3

Foresight

Hasil Disruptive Innovation seperti yang disebutkan di atas, tidak berhenti di situ. Pertanyaan yang terus menerus diangkat adalah: “In the future, apa consumer behaviour yang dictate how we run the business. Siapkah kita mengimplementasi dengan keyakinan bahwa digital menjadi mission critical. Disruptive thinking: apa yang start up company do differently?”

Skills on disruptive thinking memang dimulai dari BOD, yang mencari jawaban atas pertanyaan: “where we bring business 5 years from now.” Ini merupakan langkah awal yang kritikal agar seluruh elemen bisnis bisa melangkah bersama mencapai tujuan itu.

Masih banyak lagi yang bisa kami belajar bersama, dari berbagai sumber, setiap kali berkumpul.

Disruptive HR Mindset_4

Dan sebelum meninggalkan ruangan di lantai 2, rasanya belum sempurna kalau kutipan di dinding ini tidak direkam bersama beberapa teman. Penggemar kopi tentu sepakat dengan pernyataan tersebut.

“You can talk all you want about having a clear purpose and strategy for your life, but ultimately this means nothing if you are not investing the resources you have in a way that is consistent with your strategy. In the end, a strategy is nothing but good intentions unless it’s effectively implemented.”  (Clayton M. Christensen)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Dewi, setuju sekali di rumahpun kita bisa rancang liburan yang menyenangkan. Butir yang tidak...

dewi:
Tidak semua liburan seharusnya keluar dan mengunjungi salah satu tempat wisata… terkadang dengan d rumah...

josef:
Terima kasih Mudji atas pertanyaannya: 1) Pembelajaran yang dimaksud tidak harus yang besar. Mis. Dalam...

Mudji:
Saat pertama Bpk baru buka blog ini di Nop 2011, terus terang saya suprise banget dgn moto Bpk yg berat ini +...

josef:
Terima kasih mba Meisia, batuknya sudah hilang berkat resep tradisional


Recent Post

  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan
  • Peluang ke Jenjang Lebih Tinggi
  • Bermanfaat Bagi Orang Lain
  • Komitmen Belajar dan Berbagi
  • Start-up Mentality
  • Transformer Center: School of Life
  • Melayani dengan Coaching
  • Terus Belajar dan Berkembang