Coaching Seharusnya Untuk Siapa?

Posted on October 8th, 2021

“A manager is a title, it does not guarantee success. Coaching is an action, not a title and actions will result in successes!” (Catherine Pulsifer)

KETERBUKAAN membuat team milenial leluasa mengungkapkan apa yang mereka rasa perlu untuk diungkapkan. Karena mereka didorong untuk berani berbicara, mereka juga akan menggunakan kesempatan itu. Maka tidak berlebihan, saat seorang bawahan dijadualkan untuk mendapatkan coaching dari atasannya yang baru selesai belajar coaching, dia berterus terang menyampaikan: “Yang membutuhkan coaching adalah bapa, bukan saya.” Bagaimana ini bisa terjadi?

Training Saja Belum Cukup

Cerita diatas disampaikan oleh seorang leader yang berniat menjalankan coaching. Yang lebih menarik lagi, sang leader meneruskan dugaannya: Jangan-jangan anak buahku menolak, karena menganggap saya membawa budaya asing, dalam hal ini coaching, dari luar negeri. Saya tertegun dan berusaha untuk memahami situasi tersebut secara lebih obyektif.

Beberapa catatan penting dari peristiwa tersebut:

  1. Mindset penting yang perlu dibangun bersamaan dengan training untuk coaching skill adalah tanggung jawab seorang leader dalam menumbuh-kembangkan anak buahnya.
  2. Salah satu aspek penting dalam coaching adalah listening skill. Dan skill ini hendaknya sudah dipunyai oleh para leader dan dipraktekkan, bahkan sebelum belajar tentang coaching.
  3. Dua butir penting diatas menuntut para leader untuk senantiasa turun ke bawah, menyapa dan berdialog dengan teamnya. Bukan sekali atau dua kali, tetapi secara rutin.
  4. Kedekatan dengan team, akan membuat sang leader mengenal setiap anggota teamnya, termasuk mengenali kekuatan dan area yang perlu dikembangkan.
  5. Usaha mendekatkan diri dengan team tersebut, akan membangun RESPEK dan TRUST dari anak buah. Perlu saya pertegas disini, bahwa Respek dan Trust itu harus diraih oleh pimpinan dari anak buah, bukannya spontan diperoleh karena pengangkatan menjadi pimpinan.

Saat memulai proses coaching, seharusnya trust antar kedua-belah pihak sudah terbangun. Kalau belum, maka jalan lain harus ditempuh, meminta bantuan rekan kerja bagian lain untuk melakukan coaching. Namun tidak menghentikan upaya pemimpin tersebut untuk terus membangun hubungan baik dengan anak buahnya.

Jadilah Best Leader sekaligus Best Coach

Saya kembali teringat tulisan di buku Leader as Meaning Maker (Josef Bataona), hal 46 yang mengedepankan pandangan Pamela McLean seperti pada gambar berikut.

Pimpinan di cerita tersebut diatas perlu banyak belajar untuk menjadi Leader sekaligus Coach. Dan satu hal yang perlu dipelajari adalah stop melempar kesalahan pada anak buah atau orang lain:

  1. Seakan-akan kesalahan ada pada anak buahnya, yang membuat hubungan mereka tidak baik.
  2. Itupun atas dasar asumsi, dugaan, jangan-jangan …….
  3. Tak ada upaya sang pemimpin untuk melakukan refleksi, untuk melihat kemungkinan dirinya yang perlu melakukan perbaikan

Bila begini ceritanya, mungkin anak buah tersebut benar, yang perlu dibantu adalah pimpinannya, entah melalui coaching atau pendekatan lain yang dirasakan lebih pas. Dan ini bisa dilakukan oleh atasan pimpinan itu, atau rekan kerjanya di divisi lain yang bersedia membantu.

“Coaching is a unique process of human development, one that works to change a person’s life for the better and help him or her achieve a number of specific objectives.” (Ian Berry)

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih mba Malla, setiap kita punya keunikan yang bisa dibagi kepada orang lain. Terkadang kita gunakan...

Malla Latif:
Setiap baca refleksi dari Bapak selalu bikin berhenti sejenak dan re-align arah hidup. Terima kasih ya...

josef:
Terima kasih mba Yana, kita semua sedang belajar asalkan kita membuka mata dan hati kita untuk menyimak semua...

Sriroosyana:
Saya belajar, Saya sedang menjalaninya satu per satu Doakan saya ya, Tata..

josef:
Terima kasih ka Sofia. Senang ada yang bisa dipetik, dibawa pulang. Salam


Recent Post

  • Ketika Hidup Menjadi Sekolah Kepemimpinan
  • Dari Best Practice Menuju Next Practice
  • Menjadi Manusia yang Layak Diikuti
  • Tiga Cermin di Momen Bahagia
  • Coaching Conversation dan Human Transformation
  • Memberi Ruang Menumbuhkan Masa Depan
  • Winning at Home: Sumber Energi yang Sering Kita Lupakan
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Legacy Yang Melampaui Waktu
  • Melangkah Bersama