Moment 1 Mei Warisan Leluhurku

Posted on May 9th, 2014

“It is necessary for a man to go away by himself, to sit on a rock and ask: “Who am I, where have I been, and where am I going ?” (Carl Sandburg)

SECARA INTERNATIONAL, kita semua paham akan pentingnya 1 Mei sebagai hari istimewa bagi semua pekerja. Pola merayakan hari penting ini pun beragam. Namun intinya para pekerja mencoba mengangkat ke permukaan berbagai issue penting dalam kaitan dengan ketenaga-kerjaan, sebagai bagian dari refleksi, tapi sekaligus menyampaikan berbagai usul tindak-lanjut demi masa depan Hubungan Industrial yang lebih harmonis. Ini sudah berlangsung lama di manca negara.

Siklus Kehidupan Nelayan Lamalera

Jauh di Nusa Tenggara Timur, ada sebuah pulau kecil bernama Lembata (di peta lama di sebut Lomblen). Ada juga sebuah desa kecil, yang namanya sudah mendunia, walau saya tidak yakin banyak orang Indonesia mengetahuinya. Desa Nelayan Lamalera.

Kehidupan mereka sangat tergantung pada penangkapan ikan paus. Proses penangkapan ikan paus ini pun tidak lebih hanya sekedar menghidupi orang sekampung, karena itu jumlah yang ditangkap atau yang dibutuhkan tidak akan lebih dari 20-30 ekor dalam setahun. Ikan ini akan dibawa ke desa di pedalaman atau ke pasar untuk dibarter dengan makanan: padi, jagung, sayur-sayuran ataupun buah-buahan.

Dan proses penangkapan ini hanya berada dalam periode 6 bulan sejak 1 Mei setiap tahunnya. Kehidupan di laut maupun di darat telah dirancang untuk saling mendukung. Pola tingkah laku setiap orang di desa itu, entah baik atau buruk, akan turut mewarnai proses penangkapan ikan tersebut, walau seringkali susah untuk dijelaskan.

Tenna Fule by josefbataona dotcom

(Keterangan: Foto dengan izin Pius Kia)

Moment untuk Refleksi: Mohon Pengampunan dan Mensyukuri

Dua hari menjelang 1 Mei, atau tanggal 29 April, Tua-tua adat/kepala suku, pemuka masyarakat berkumpul bersama nelayan dalam sebuah acara yang dalam bahasa daerah disebut: Tobu Nama Fatte. Bersama mereka membahas semua kejadian selama ini, refleksi perjalanan selama setahun, apakah dalam kegiatan penangkapan ikan atau kehidupan umumnya, ada terjadi pelanggaran.

Termasuk di dalamnya perilaku hidup yang tidak sesuai dengan norma dasar kehidupan, ada kesalahan atau kekhilafan. Kemudian dibahas apa yang perlu ditindak-lanjuti bila ada. Ini dilanjutkan dengan upcara adat untuk mempersiapkan siklus penangkapan ikan berikutnya.

Kesempatan ini juga digunakan untuk saling bermaaf-maafan atas kesalahan atau kekhilafan yang sudah dilakukan. Mereka ingin memulai siklus kehidupan baru, penuh pemikiran positif, saling membantu, karena tugas mereka bukan hanya mencari ikan untuk keluarga sendiri, tetapi juga untuk para janda dan yatim piatu dalam suku.

Tentu tidak lupa pula mereka melakukan evaluasi atas hasil yang diperoleh selama periode lalu, agar terus dibangun rasa syukur atas berbagai karunia yang dilimpahkan kepada semua yang ada di desa itu.

Mengenang dan Mendoakan Mereka yang Sudah Tiada

Malam menjelang 1 Mei, setelah Matahari terbenam, anggota masyarakat di desa itu akan berkumpul di pantai. Upacara keagamaan: Misa Arwah, mengenang semua yang sudah meninggal terutama yang meninggal di laut. Inilah kesempatan mendoakan keselamatan mereka.

Usai Misa, dilanjutkan dengan acara pasang lilin di pantai dan acara tabur bunga. Ada juga lilin yang diletakkan di perahu kecil dan dilepas ke laut. Suasananya hening, mengharukan, masing-masing hanyut oleh pikiran masing-masing dalam suasana reflektif malam itu.

Demo 1 Mei ala Nelayan Lamalera Lembata

Tanggal 1 Mei pagi, semua nelayan sudah berkumpul di pantai. Seorang Pastor akan memimpin  Misa, di mana mereka semua akan memohon berkat untuk siklus penangkapan ikan berikutnya. Usai Misa, pertama-tama Pastor akan memberkati sebuah perahu yang akan diutus hari itu ke laut: dalam  acara yang disebut Tenna Fule (lihat foto di atas). Perahu ini seakan membuka kembali gerbang kesempatan untuk mulai menangkap ikan, seakan mau memberitahu yang ada di laut, bahwa kami akan segera mulai turun ke laut.

Setelah perahu tersebut berangkat, maka dilanjutkan dengan memberkati perahu-perahu lainnya dan juga perlengkapan untuk menangkap ikan. Sorenya setelah perahu tersebut kembali ke pantai, akan ada pesta rakyat (sere moti), sekedar makan jagung titi bersama, yang disediakan oleh kedua tuan tanah. Jagung, tuak dan sayuran dibawa dari gunung sebagai simbol kemakmuran yang akan didapatkan nelayan, begitu mereka bisa menangkap ikan.

Kearifan Lokal yang Harus Dipertahankan

Suatu saat ketika saya pulang berlibur, kami ingin mengunjungi Rumah Adat Bataona. Pagi itu ternyata ada banyak nelayan desa berkumpul di sana. Setelah mencari tahu, diperoleh informasi bahwa mereka datang menghadap Ketua Suku Bataona untuk mengadu nasib, karena sudah sekian bulan mereka tidak berhasil menangkap ikan, bahkan ikan-ikan seakan enggan muncul ke permukaan, atau kalau pun muncul seakan selalu menghindar. Dan nelayan ini sangat yakin bahwa yang harus dicermati adalah perilaku para anggota, ada hal negatif yang perlu diselesaikan.

Gembira sekali bahwa tata-cara adat seperti itu masih dipertahankan. Keyakinan mereka bahwa bila perbuatan mereka negatif, akan menghambat mereka dalam mencari rezeki. Mereka juga mempunyai quote yang menarik; “Air laut itu adalah cermin.” Artinya begitu mereka sudah di laut, laut akan merefleksikan semua perbuatan mereka, baik atau buruk, tidak ada yang bisa disembunyikan. Karena itu harus segera disikapi dan diselesaikan dengan jiwa besar.

Sebaliknya, perilaku positif akan mendatangkan kelancaran dalam mencari rezeki. Dan tanggung jawab dalam mencari rezeki bukan saja buat anggota keluarga mereka, tapi juga untuk para janda dan yatim piatu dalam suku itu.

“I believe that our society is merely a reflection of what is going on inside each and every one of us.” (Seal)

Bookmark and Share

2 Responses to Moment 1 Mei Warisan Leluhurku

  1. Herni Dian says:

    Terima kasih Pak Joseph atas inspirasi cerita yang selalu luar biasa. Kami juga sedang mencoba melakukan sesuatu yang bermakna pada saat May Day yg lalu, saling merefleksikan diri, saling berterimakasih serta melibatkan peran keluarga pada perayaan May Day tsb sebagai moment bagi kita untuk mengingat kembali saat pertama kali kita bekerja #penuh dengan passion dan spirit yang tinggi.

    Sekedar sharing saja, berikut kegiatan yang kami lakukan serentak di 85 gerai kami. Salam Hangat Herni Dian. http://m.detik.com/finance/read/2014/05/01/115347/2570687/4/sambut-may-day-manajemen-carrefour-masak-nasi-goreng-untuk-karyawan

    • josef josef says:

      Dear Herni, terima kasih untuk sharing pengalaman di tempat kerjamu, ide yang gemilang dan positif. Patut ditiru oleh yang lain. Terima kasih juga sudah mengunjungi blog ini.

Leave a Reply to Herni Dian Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...

Agnes Keraf:
Selamat siang dan terima kasih Besa untuk berbagi berkat yg menginspirasi. Mendengar dgn hati tidak...

josef:
Terima kasih sama-sama Riski, semoga bermanfaat untuk dijadikan pedoman hidup sehari-hari. Salam


Recent Post

  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life
  • Berpikir Positif Percepat Kesembuhan
  • Peluang ke Jenjang Lebih Tinggi
  • Bermanfaat Bagi Orang Lain