Salah Paham, Langkah pun Berbeda

Posted on April 23rd, 2013

A life spent making mistakes is not only more honorable, but more useful than a life spent doing nothing (George Bernard Shaw)

DALAM komunikasi, kita semua paham bahwa dalam menanggapi pesan yang diterima, kita sering menyaringnya dengan menggunakan saringan sesuai pengalaman masa lalu kita (autobiographical respose). Dan kalau tidak dilakukan konfirmasi akan penerimaan pesan ini, maka penerimaannya bisa beda dengan makna asli pesan itu.

Pemahaman Seorang Om dari Desa Lamalera Lembata

Dengan dana terbatas, kami akhirnya bisa memulai menyicil rumah type 70. Kemudian kami membuat daftar keperluan rumah tangga yang harus dibeli, katakan ini sebagai daftar tunggu. Cukup panjang, tapi pembeliannya tergantung tersedianya dana, yang tidak  tahu kapan.

Setelah beberapa isi rumah yang utama kami penuhi, kami memutuskan untuk mulai mendandani halaman rumah. Beberapa pohon mulai kami beli, termasuk rumput agar terlihat asyik.

Dua bulan berselang ada seorang Om yang baru datang dari Desa Lamalera Lembata, dan berkunjung ke rumah kami. Saya dan istri lagi kerja, karena itu dia diminta pembantu untuk menunggu.

Hanya sebentar menunggu, dia mulai gelisah dan berusaha mencari kesibukan. Dan ketika kami tiba di rumah sore itu, setelah bersalaman, dia pun melaporkan bahwa dari pada nganggur menunggu, dia melihat di halaman rumah kok banyak rumput. Jadi dia mengambil cangkul dan mulai mencangkuli semua rumput hingga tinggal tanah, BERSIH.

Saya dan istriku saling berpandangan dan tertawa. Definisi kebersihan halaman rumah menurut kami dan Om itu berbeda. Dalam pemahaman dia, halaman bersih itu halaman yang tidak ditumbuhi rumput!!

Dia memang tidak salah tentang konsep BERSIH, tapi karena tidak diklarifikasi pemahaman itu, kita sendiri melihat hasilnya. Setiap duduk santai menghadap taman ini, sering terbayang kisah lucu tersebut.

Lain lagi Cerita Nenek dari Desa Gunung Sugih Lampung

Sebulan yang lalu, usai sarapan pagi, saya ngobrol dengan nenek yang  baru tiba dari Desa Gunung Sugih Lampung. Dia bercerita, di halaman rumahnya di tanami sayur, cabe, tomat, daun sereh dan lain-lain yang memberi manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Mendengar ceritanya, saya langsung memberitahu dia, “Nenek, rumput-rumput ini kami tanam dan pelihara, jadi jangan dicangkuli, ya!”

Nenek itu ketawa sambil menceritakan pengalaman dia dimarahi oleh cucunya di Tanjung Karang, karena dia mencangkuli rumput di halaman rumah cucunya, ketika mereka sedang berada di kantor, persis seperti kisah om di atas. Pemahaman nenek yang berasal dari Desa Gunung Sugih, lahan kosong di halaman rumah seharusnya ditanami  tanaman yang bermanfaat, seperti sayuran atau buah-buahan. Jadi tujuan dia mencangkuli itu agar  bersih dan siap ditanami apa saja sesuai keinginan. Dan dia akan bantu kerjakan.

Master Luar Negeri

Mudah sekali kami pahami, dan bahkan menjadi cerita lucu kisah Om dari Desa Lamalera dan nenek dari Desa Gunung Sugih Lampung. Ternyata kaum terpelajar, yang sering membanggakan ijazah master luar negerinya pun bisa membuat kita tertawa.

Saat itu adalah ujian untuk kenaikan pangkat eksekutif. Diantara sekian pertanyaan, ada pertanyaan yang berbunyi, “Berikan saya gambaran jelas Stempel Clearing!” Pertanyaan ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan lanjutan dari pertanyaan sebelumnya. Dan dengan penuh percaya diri, yang diuji membuat gambar memvisualisasikan stempel.

Padahal yang dimaksud adalah, kenapa dokumen diberi stempel clearing, dan apa arti tulisan yang dicapkan pada dokumen itu?? Sang penguji memang menceritakan ini sebagai sesuatu yang lucu, tetapi dia pun sadar, mungkin pertanyaannya yang tidak jelas.

Beda Definisi tentang Disiplin

Dalam sebuah wawancara kerja, seorang pimpinan menanyakan calon karyawan (level manager) apakah kamu sanggup untuk memulai kerja tepat jam 08:00, karena seluruh karyawan di perusahaan ini sangat disiplin mematuhi jam masuk kerja. Kawan yang melamar pekerjaan di Marketing ini pun mengatakan bahwa kerjaan di marketing umumnya sibuk di siang dan sore hari sehingga lebih sering kerja sampai larut walau tidak dibayar lembur, jadi saya ingin punya fleksibilitas untuk masuk siang.

Disiplin menurut saya, kata teman itu, adalah disiplin dalam menyelesaikan pekerjaan, bukan dalam kaitan jam berapa masuk dan jam berapa pulang. Karena tidak ada kesepakatan, teman ini akhirnya memutuskan mundur.

Bahkan dalam kunjungan seorang CEO global ke unit perusahaan lokalnya di Indonesia, dia mengamati chairman Indonesia menggesekkan kartu ID-nya di mesin absen di depan lift. Mungkin chairman ini mau memperlihatkan bahwa dia selalu memberi contoh untuk disiplin kepada karyawannya. Tetapi CEO Global itu langsung berkomentar, “Menurut saya, yang penting adalah delivery of the result, tanpa harus mempedulikan mereka bekerja dari mana dan kapan.”

Kita simak kisah dalam posting berikutnya, bagaimana pengalaman masa lalu bisa dijadikan pelajaran yang berharga.

Freedom is not worth having, if it does not include the freedom to make mistakes (Mahatma Gandhi)

Bookmark and Share

11 Responses to Salah Paham, Langkah pun Berbeda

  1. Mohon ijin tayang ulang.
    Terima kasih.

    • josef josef says:

      Terima kasih Khoirul, silahkan untuk tayang ulang untuk komunitas yang lebih luas lagi. terima kasih telah mengunjungi blog dan menyimak kisah ini

  2. Dwi Aryssandhy says:

    menarik pak Joseph…

    terutama perkataan CEO global kepada Chairman Indonesia..

    sekarang memang sedang terjadi perbedaan pemahaman tentang disiplin di banyak perusahaan, termasuk tempat saya pak.

    dan tulisan ini menginspirasi sekali

    • josef josef says:

      Terima kasih Dwi, semoga tulisan ini bisa menunjang pemikiran2 di tempatmu bekerja. Terima kasih juga sudah mengunjungi blog dan membaca kisah ini.

  3. Pingback: Salah Paham, Langkah pun Berbeda | Sosialnews.com

  4. Bambang Cahyono says:

    Ringkas, renyah, lucu, tapi bermakna dalam.
    Saya suka sekali tulisan ini

  5. andang says:

    Pagi pak…
    Cerita ttg disiplin mengingatkan saya kepada seseorang di kantor…. 😉

    • josef josef says:

      Terima kasih Andang, terkadang kita tidak sadar kalau berada di zaman yang berbeda dengan tuntutan yang juga berbeda, sementara itu apa yang bagus dimasa lalu masih terbawa dalam tas di punggung kita, padahal situasinya sudah berubah. Terima kasih Andang tanggapannya, selamat pagi !

  6. erlina says:

    sip….saya share juga Pak artikelnya 🙂 🙂 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih Roy, pasti ada waktunya untuk masing-masing kita, sesuai kebutuhan. Salam sukses

roy:
Senang sekali bila malam itu saya bisa ikut bergabung, berbagi cerita, dan bersilaturahmi dengan pak Jos dan...

josef:
Terima kasih Denitri, pa Pungki sudah mulai membangun dialog untuk menemukan jalan agar CHRP bisa mendapat...

josef:
Selalu sehat dan jangan lupa olahraga rutin, serta ajak teman2 lainnya untuk ikut bersama2. Terima kasih Ratih

josef:
Terima kasih Ratih, kontribusi nyata bisa diberikan ditempat kerja, membuat diri kompeten karena terus...


Recent Post

  • Loyalitas Timbal Balik
  • Self Discovery melalui Coaching
  • Profesi MSDM Berkualitas
  • Fokus Untuk Masa Depan
  • Komitmen Hidup Sehat
  • Leading with Love
  • Paduan Gotong Royong dan Growth Mindset
  • Train the Brain for Growth Mindset
  • Ketertarikan dan Tulus Mendengarkan
  • Paguyuban dan Gotong Royong