Absen Kursus Bahasa Inggris Gaji Terancam Dipotong

Posted on July 22nd, 2014

“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.” (William Arthur Ward)

BELAJAR itu FUN. Seharusnya memang demikian. Karena dalam suasana seperti itu, ilmu yang diserap banyak dan lama nempelnya serta implementasinya amat sangat mungkin. Siapa yang menentukan itu?? Di tempat pertama adalah sang guru atau fasilitator. Para murid akan mudah mengadaptasi, ikut mengambil bagian, turut berkontribusi, asal ada kesempatan yang diciptakan sang guru.

Kata orang bijak:

“You can only have fun helping other people have fun, if you’re having fun doing it. – Bernie.” (DeKoven)

Bagaimana kalau kejadian sebaliknya? Ini yang menarik untuk dibahas.

Paksaan dengan Penalty??

Sungguh, masih ada yang berpikir demikian: Perlu menerapkan sanksi agar karyawan sadar akan kesalahan yang dilakukan, dan bisa berubah. Demikian penjelasan HR Manager perusahaan ini. “Ini harus kami lakukan agar karyawan bisa melihat bahwa kami serius, dan tidak sekedar bicara. Apalagi perusahaan sudah investasi untuk itu,” jelasnya.

Ini merupakan penjelasan awal, ketika kami berdialog untuk memahami concern perusahaan ini, di mana hanya kurang dari separoh kelas Bahasa Inggris yang diorganisir oleh kantor dengan tingkat kehadiran 80%. Unit training di kantor itu kesulitan untuk mempertanggung-jawabkan situasi tersebut, dan sempat berpikir untuk mengusulkan sanksi berupa pemotongan gaji bagi mereka yang tidak rajin. Astaga!!

Foto berikut ini, apakah sedang ada konser musik?? Tidak! Apakah sedang ada pesta di kantor?? Tidak.

Kami sedang belajar tentang Knowledge Management, tapi menggunakan sarana musik anak-anak usia 13-14 tahun, Vox Caritatis, (dari perjalanan dan tim sebelumnya). Knowledge Management boleh kering materinya, tapi bisa dibuat FUN, asal kita membuka diri untuk kreatif.

KM Danamon

Harusnya Mereka Perlu Bahasa Inggris

Di tempat pertama memang sudah selayaknya perusahaan menempatkan diri sebagai penyelenggara yang sudah mengeluarkan biaya untuk menyelenggarakan kursus Bahasa Inggris. Ini untuk kepentingan mereka, karena banyak customer yang berbahasa Inggris. Ini akan membantu mereka dalam pekerjaannya. Jadi seharusnya karyawan ini  paham bahwa mereka sangat membutuhkan kursus ini.

Perusahaan sudah mempermudah proses dengan mendatangkan guru ke kantor, dilakukan di sore hari sesudah jam kantor, jadi tidak mengganggu pekerjaan sehari-hari. Bukankah itu nyaman?? Nah, tinggal giliran karyawan ini yang harus menghadirinya dengan penuh tanggung jawab. Mereka mestinya berterima kasih!! Tapi sesederhana itukah pendekatannya?

Siapa yang Punya Kebutuhan Bahasa Inggris?

Penasaran mendengar ceritanya, saya pun bertanya:

Tanya: “Bagaimana prosesnya, sampai ada kesimpulan bahwa mereka ini perlu Bahasa Inggris?”

Jawab: “Mereka harus melayani customer yang diantaranya harus bicara Bahasa Inggris, jadi mereka perlu kursus agar bisa bicara Bahasa Inggris.”

Tanya: ”Itu kesimpulannya siapa: yang bersangkutan, kepala bagian atau HR?”

Jawab: “Hasil diskusi HR dengan kepala bagian.”

Tanya: “Bagaimana Prestasi orang-orang yang ikut kursus ini ?”

Jawab: “Justru kita memilih yang prestasinya bagus.”

Tanya: “Sejauh ini, apakah pernah di antara mereka prestasinya merosot karena Bahasa Inggrisnya?”

Jawab: “Tidak ada. Tapi kalau Bahasa Inggrisnya bagus, maka akan membantu meningkatkan prestasi mereka.”

Tanya: “Apakah ada hal lain lagi yang lebih penting dari Bahasa Inggris untuk membantu meningkatkan prestasi mereka.”

Jawab: “Ada, dan itu ada dalam jadual training mereka.”

Tanya: “Bila kursus Inggris ini tidak ada, apakah prestasi mereka akan terhambat, terutama bila training prioritas lainnya diselenggarakan?”

Jawab: “Tidak juga sih, tapi kalau……”

Saya akhiri tanya jawab ini dengan kesimpulan bahwa, absensi tinggi tersebut di atas terjadi, kemungkinan besar karena:

  • Itu adalah kebutuhan kepala bagian dan HR dan belum tentu dirasakan sebagai kebutuhan oleh karyawan.
  • Karyawan tidak dilibatkan dalam proses identifikasi kebutuhan training tersebut.
  • Saat ini kursus Bahasa Inggris belum urgent, terutama untuk membantu performance karyawan tersebut di masa mendatang.
  • Sangat boleh jadi, suasana kursus tidak menyenangkan, tidak menarik minat belajar.

Karyawan Bukan Obyek tapi Subyek

Dalam dunia nyata, banyak yang ingin mendapatkan pendidikan tambahan melalui kursus atau training atas biaya perusahaan, tapi mereka tidak mendapatkannya. Dalam kasus di atas, sepintas karyawan tersebut seharusnya berterima kasih atas kesempatan yang diberikan itu. Namun dalam pelaksanaanya, seringkali management beranggapan bahwa mereka bisa mengambil keputusan secara sepihak dan karyawan harus menerimanya. Di sini karyawan ditempatkan hanya sebagai obyek.

Terlepas dari ada tidaknya urgensi penugasan untuk kursus tersebut di atas akan lebih bermakna, bila anak buah diajak bicara, untuk mendapatkan kesamaan pandang tentang kebutuhan training tersebut. Ini dikaitkan dengan development yang bersangkutan. Dan kebutuhan untuk pengembangan itu pun dikaitkan dengan tugas-tugas yang akan dikerjakan di masa mendatang. Ini akan memberikan motivasi bagi karyawan itu untuk mengikuti program training tersebut. Di sini, karyawan merasa dimanusiakan, dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan tentang masa depannya.

Belajar itu FUN

Belajar itu seharusnya menyenangkan, apapun topiknya. Untuk itu trainer atau fasilitatornya memegang peranan sangat penting. Penguasaan akan materi training merupakan keharusan. Tapi sang trainer juga harus mampu mencari variasi cara mengajar yang terus menumbuhkan suasana FUN, menyenangkan agar muridnya bergairah untuk belajar.

“You can teach a student a lesson for a day; but if you can teach him to learn by creating curiosity, he will continue the learning process as long as he lives.” (Clay P. Bedford)

Simak juga artikel 3 Juli 2012 berjudul: “Sharing Anak-anak Melalui Musik

Sehubungan dengan Hari Raya Lebaran dan Libur Keluarga, maka tidak akan ada postingan di blog sejak Jumat 25 Juli sd 8 Agustus 2014. Artikel baru akan hadir kembali hari Selasa, 12 Agustus 2014.

Pada kesempatan ini, saya pribadi dan keluarga ingin menyampaikan kepada saudara/I yang merayakan:

Selamat Merayakan Idul Fitri 1435 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. 

Bookmark and Share

4 Responses to Absen Kursus Bahasa Inggris Gaji Terancam Dipotong

  1. Banis says:

    Inspiring notes as always.. Learning should be fun!
    Selamat berlibur pak Josef..mhn maaf lahir dan batin 🙂

  2. eriman says:

    wah mirip proses anak-anak belajar yah Pak Jos: Bermain adalah belajar, belajar adalah bermain. Sedangkan orang dewasa: Bermain adalah bekerja, dan bekerja adalah bermain. Maaf lahir batin Pa Jos.

    • josef josef says:

      Terima kasih Eriman. Itu adalah esensi dari konsep ini, untuk membuat pekerjaan itu menyenangkan. Maaf Lahir Batin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Most welcome coach Wiwin, Be ready for our next exciting project. Thank you for your meaningful contribution.

Herry Windawaty:
Always Inpiring Coach JB. Thank you for the opportunity for us to contribute

josef:
Terima kasih sama2 Helda, saya tak mungkin jalan sendiri tanpa Helda dan teman2 lainnya. Perjalanan kita bisa...

helda Manuhutu:
trully…and really proud pernah ada dlm journey itu di bawah asuhan bapak…dan bs...

josef:
Terima kasih Suster untuk menggaris-bawahi pentingnya memaknai hidup dari hati. Angka lima itu adalah kelima...


Recent Post

  • Coaching and Inner Guidance
  • Kejutan Yang Menyenangkan
  • Kecerdasan Para Humoris
  • Caring and Engagement
  • Sehat Jiwa dan Raga
  • Mendengarkan Dengan Hati
  • Happy Together at Home: Virtual Hi-Tea
  • Positive Leadership
  • Kami Belajar WE-MINDSET
  • A New Horizon Beyond Corporate Life