Employee Experience

Posted on February 8th, 2019

“Move away from the mid-set that the fulfillment of the organization’s mission, vision, and strategic plan is only the work of leaders.” – (Sue Tetzlaff) 

Banyak cerita yang kita dengar seputar design kantor yang memukau. Sharing dari karyawan tentang pengalaman mereka dalam keseharian ditempat kerja, sering menggugah keingin-tahuan. Bahkan kunjungan untuk benchmark atau mengintip kantor-kantor yang mempunyai reputasi bagus dalam membangun budaya kerja juga sudah kita lakukan. Yang dirasakan dan yang diceriterakan oleh karyawan merupakan pengalaman nyata yang bisa memberikan gambaran situasi lingkungan kerja dimana dia berada. Apakah pengalaman nyata seperti yang diceritakan karyawan tersebut bisa ditentukan saat membuat berbagai rancang inisiatif sejak proses awal mencari karyawan? Jawabannya adalah: Sangat Bisa.

Makna Employee Experience

Denise Lee Yohn, expert brand leadership memaknai employee experience (EX):

EX is sum of everything an employee experiences throughout his or her connection to the organization — every employee interaction, from the first contact as a potential recruit to the last interaction after the end of employment.

Sementara itu Mark Levy, former head of Employee Experience at Airbnb, mendefinisikannya sebagai:

“Anything that sets employees up for success or improves our culture should be a part of EX.”

Dalam program yang kami jalankan untuk tim Human Resources, saya sering menyertakan aktivitas untuk berinteraksi langsung dengan konsumen, agar tim HR bisa merasakan pengalaman karyawan ujung tombak kita, sekaligus juga meresapi reaksi konsumen langsung saat  kita berinteraksi. Foto berikut saat tim HR terjun untuk jualan langsung ke pasar di Makasar, sebagai bagian dari Annual HR Consolidation Meeting.

 

Why is Employee Experience Important?

Dalam tulisannya di Forbes awal tahun 2018, Denise Lee Yohn, expert brand leadership memaparkan mengapa Employee Experience begitu penting untuk mendapatkan perhatian.

Pertama persaingan talent sangat ketat di berbagai sector, sehingga sangat sulit mengisi spesialis job dan juga mempertahankan talentnya. Karena itu:

“Offering a superior EX can give employers a competitive advantage in attracting recruits to them and then engaging them in ways that encourage them to stay with their organizations.”

Hadirnya social media memungkinkan calon karyawan akan semakin mudah mencari tahu pengalaman karyawan saat ini diperusahaan yang ingin dituju. Perusahaan akan semakin sulit menyembunyikan kenyataan disana.

Dengan semakin tinggi frekuensi karwayan pindah perusahaan, laporan Deloit menyarankan:

 “The stability that once characterized the best employee-employer relationships is being disrupted by employees’ tendency to change jobs more frequently and other factors. Therefore, “employers must provide development more quickly, move people more regularly, provide continuous cycles of promotion, and give employees more tools to manage their own careers.”

Usaha berkelanjutan terus dilakukan untuk menjawabi kebutuhan dan ekspektasi karyawan yang berbeda-beda. Menerapkan Employee Experience sangat membantu dalam hal ini.

Employee Experience dan Budaya Kerja

Dalam tulisannya di September 2018, Paul Burrin mengumpulkan dan membagi pendapat berbagai pakar tentang bagaimana membangun budaya di tempat Kerja, budaya yang diidamkan karyawan. Saya kutipkan lima bagian yang bertalian dengan Employee Experience:

  1. Understand the existing employee experience

Bagaimana sebenarnya yang dirasakan karyawan, tidak bisa dipahami hanya dengan melihat persentase score di survey. Pimpinan harus turun dan bicara dengan karyawan, berusaha memahami mereka secara lebih mendalam.

2. Create an employee journey map

Membangun Employee Experience, diawali dengan memetakan perjalanan karyawan, ibarat kita membuat product roadmap. Peta ini akan menggambarkan tahapan dari perjalanan karier seorang Talent. Dan ini merupakan bagian dari siklus recruitment, retention dan promotion.

“Building employee journeys help give you a sense of predictability and also control over your retention and talent attraction funnel.”

Cermati setiap penggal  dari employee lifecycle dan setiap touch point, sejak mereka melihat iklan lowongan kerja dan mencoba memahami apa yang dirasakan pencari kerja. Kemudian menentukan “employee experience” apa yang mau dihadirkan dengan mempertimbangkan apa kiranya kata karyawan atau apa nantinya yang mereka rasakan pada momen tersebut.

3. Help employees find meaning in their work

Menurut Dave Ulrich, karyawan semakin punya kecenderungan untuk mencari MAKNA (meaning) dibalik pekerjaan mereka. Karena itu bantu mereka untuk menemukannya.

Ada 7 sources of Meaning dan saran untuk menemukannya:

  • Purpose: create a purpose driven organization based on being socially responsible as well as economically viable
  • Identity: help the employee create a personal identity based on their work
  • Relationships: allow employees to find positive and affirming relationships at work
  • Work environment: establish a positive working environment that serves customers
  • Work itself: help people match their personal skills and interests to the job they do
  • Learning and growth: ensure that employees have a chance to learn and grow from their work
  • Fun: have fun and experience joy at work

4. Listen, interpret and act

Management hendaknya meluangkan waktu untuk mendengarkan dan membantu karyawan agar mereka terus berprestasi.

“Employees will always tell you what you can do to make the business better, how you can better serve customers, and how you can make the organization more productive, but you have to open your eyes, give them a voice, and truly listen with an open mind.”

5. Promote great people managers

Promosikan karyawan atas dasar kemampuan “People Management”, dan tidak semata berdasarkan performance.Top leaders hendaknya mengartikulasi apa yang menjadi budaya organisasi, bagaimana membuat karyawan mudah memahami perilaku seperti apa yang diperlukan untuk menciptakan “great culture.” Penting juga untuk diperjelas apa saja yang menjadi: “The non-negotiable behaviors.”

(Source: https://www.sagepeople.com/about-us/news-hub/company-culture-expert-tips-experiences/)

Mencermati butir-butir tersebut diatas, maka kita bisa lebih jelas memahami bahwa membangun budaya di tempat kerja, budaya yang diidamkan karyawan, bukan hanya lingkungan fisik, tetapi terutama aspek human touch. Dan human touch ini bukan sekedar design, tetapi bagaimana para leader memainkan peran sebagai role model, yang mengajak karyawan untuk bersama menciptakan lingkungan kerja sesuai nilai-nilai perusahaan.

“The next journey for HR leaders will be to apply a consumer and a digital lens to the HR function, creating an employee experience that mirrors their best customer experience.” (Jeanne Meister)

  1. Instagram: https://www.instagram.com/josefbataona
  2. Twitter: https://www.twitter.com/josefbataona
  3. LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/josefbataona
  4. Facebook: https://www.facebook.com/josbataona

Bookmark and Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Connect with Facebook

Kisah Rp 10.000,00 yang Mengubah Hidupku

Recent Comments

josef:
Terima kasih sama2 Nanang, You may think your light is small, but it can make a huge difference in other...

Nanang Chalid:
Thanks a lot Pak Josef for sharing about my blog. Baru amatiran ini Pak, mohon bimbingannya . Semoga...

josef:
Terima kasih Arya sudah menyimak Inspigo dan mengunjungi blog ini. Saya selalu hadirkan tulisan baru setiap...

Antonius Arya Pradana:
Halo Om Josef, gara-gara mendengar interview di Inspigo, saya malah baru tahu kalau om Josef...

josef:
Terima kasih Ratih, dukungan secara proaktif dari semua unsur dalam organisasi memang dibutuhkan. Namun perlu...


Recent Post

  • Welcome Blog of Insight
  • People First
  • Employee Experience
  • Fully Engaged Tapi Frustrasi
  • Wellness Program for Peaceful Mind
  • Cerita Menarik Seputar Kehidupan
  • Boss is (not) Always Right
  • Hari Istimewa
  • Akselerasi Pengembangan SDM Indonesia
  • Keragaman Penuh Rukun Dan Damai